Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Kisah Penyamaran Jenderal Kopassus Sutiyoso saat Menyusup Sendirian ke Wilayah Musuh

JENDERAL Kopassus Letjen (Purn) Sutiyoso merupakan salah satu tokoh di militer Indonesia yang memiliki pengalaman heroik dan menegangkan di berbagai medan operasi. 

Dedikasi, loyalitas dan keberaniannya saat penugasan mulai dari Timor-Timor hingga Aceh tak perlu diragukan lagi. Di antara kisah menegangkan itu terjadi saat ditugaskan menyusup ke wilayah musuh di Timor-Timur pada akhir 1974 silam. 

Kala itu, Sutiyoso menjadi orang pertama yang disusupkan dalam rangka mempersiapkan Operasi Seroja.

 Alumni AKABRI (Akmil) 1968 ini ditugaskan oleh Ketua G-1/Intelijen Hankam Mayjen TNI LB Moerdani menjadi orang pertama yang menyusup ke perbatasan Timtim, seperti dikutip dari buku “Sutiyoso The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando”.

 Jenderal Kopassus Letjen (Purn) Sutiyoso merupakan salah satu tokoh di militer yang memiliki pengalaman heroik dan menegangkan di berbagai medan operasi. Foto/Ist 

Dalam misi ini Sutiyoso yang merupakan prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang saat itu berpangkat Kapten dan menjabat sebagai perwira intelijen Kopassus mendapat tugas menyusup ke wilayah musuh tanpa diketahui siapa pun.

 Misinya adalah untuk menggali informasi penting mengenai kekuatan lawan. Namun, bukan hanya senjata dan taktik musuh yang menjadi fokus, tetapi juga bagaimana cara ia harus menyamar agar tidak dikenali. 

Dengan keberanian luar biasa, Sutiyoso melakukan hal yang tak terbayangkan oleh banyak orang. Dia menyamar sebagai mahasiswa yang sedang melakukan penelitian. 

"Jika saya tertangkap, saya tidak akan kembali hidup," ujar Sutiyoso dalam buku biografinya, dikutip Minggu (7/9/2025).

 Setibanya di Atambua, Sutiyoso segera mencari penerjemah untuk membantunya menavigasi medan yang begitu sulit dan berbahaya. Mereka menunggang kuda, melewati perbukitan dan medan terjal menuju perbatasan Timor Timur.

 Dari ketinggian, dengan menggunakan teropong kecil, Sutiyoso mengamati dan mencari celah di antara pos penjagaan yang ketat. Namun, rintangan tak berhenti sampai di situ.

 Hujan deras yang melanda membuat sungai-sungai meluap, memaksa Sutiyoso terjebak dalam kondisi basah kuyup dan lapar. Di tengah malam yang dingin, ia hanya bisa menunggu seorang petani yang lewat, lalu memanggang jagung keras yang ia temui di sekitar lokasi.

 Setibanya di Atambua, ia melaporkan hasil pengamatannya yang sangat berharga. Tapi misinya belum selesai. Sutiyoso kembali mendapat informasi penting mengenai Pasar Batugede, wilayah yang terletak di dekat perbatasan, tempat di mana orang Indonesia bisa masuk untuk berdagang dengan surat keterangan.

 Meskipun perintah tidak mengizinkannya, Sutiyoso memutuskan untuk melanjutkan misi berbahaya ini sendiri. 

Dengan menyamar sebagai kuli bangunan yang mengangkut barang-barang pedagang China, Sutiyoso menyelinap ke Batugede, sebuah tempat yang penuh dengan potensi bahaya. 

Di sana, dia mengamati gerak-gerik tentara dan polisi Timor Portugis, sambil terus menyesuaikan diri dengan peran yang ia mainkan. Di luar dugaan, sebuah helikopter dari Dili mendarat, membawa polisi militer yang sedang memeriksa para pendatang. 

Dengan penuh kewaspadaan, Sutiyoso mengamati dan menyembunyikan identitasnya. Beruntung bagi Sutiyoso, ia berhasil lolos tanpa dicurigai, berkat penyamarannya yang sempurna.

 Bahkan, rambut panjang yang ia pelihara semakin menambah kepercayaan dirinya untuk tampil sebagai kuli yang tak mencurigakan.

 Dari penyusupan ini, Sutiyoso memperoleh informasi berharga tentang benteng Portugis, jenis senjata yang digunakan, dan taktik tentara Timor Portugis. 

Termasuk dari mana pintu masuk untuk menyerang Batugede jika suatu saat diperlukan. Data intelijen yang dikumpulkan Sutiyoso selanjutnya menjadi kunci dalam perencanaan strategioperasi militer. (shf)

Posting Komentar untuk "Kisah Penyamaran Jenderal Kopassus Sutiyoso saat Menyusup Sendirian ke Wilayah Musuh"