Angin malam Aceh terasa dingin ketika kabar itu datang—kabar yang tak pernah dibayangkan oleh siapa pun.
Dalam sekejap, empat kampung yang dulu penuh tawa, penuh anak-anak berlari di jalan, dan penuh suara azan dari surau kecil… hilang tanpa jejak.
Sawang, Jamboane, Bireun, dan Peusangan—nama-nama itu kini tinggal cerita. Rumah yang dulu tegak berdiri, hanyut entah ke mana.
Jalanan yang dulu dipenuhi pedagang kini menjadi tanah kosong yang sunyi. Tidak ada lagi suara ayam berkokok, tidak ada lagi ibu memanggil anaknya pulang. Semuanya lenyap seolah diambil oleh malam.
Di tengah reruntuhan dan debu, seorang pemimpin berdiri dengan mata berkaca-kaca. Suaranya bergetar saat mencoba bercerita tentang kampung-kampung yang hilang.
Bukan hanya bangunan—tapi orang-orang, kenangan, dan seluruh hidup yang pernah mengisi tanah itu.
“Empat kampung… hilang begitu saja,” ucapnya, seakan kata-kata itu sendiri terlalu berat untuk keluar.
Di kejauhan, terdengar isak seseorang yang sedang mencari keluarganya. Setiap nama yang dipanggil hanya dijawab angin.
Setiap langkah terasa seperti memanggil masa lalu yang tak mungkin kembali.
Aceh pernah merasakan pahitnya tsunami pertama—dan kini, luka itu seakan terbuka kembali.
Mereka berdiri menghadapi bencana lain, bukan hanya kehancuran fisik, tapi kehancuran hati yang jauh lebih dalam.
Dan malam itu, Aceh menangis bersama warganya… kehilangan harapan, tapi tetap saling memeluk dalam duka yang sama.(*)

Posting Komentar untuk "CERITA SEDIH, Aceh Pernah Merasakan Pahitnya Sunami Kini Luka Seakan Terbuka Kembali"