Angin sore itu membawa bau asap dan debu yang pekat. Langit gelap seolah ikut tertidur dalam duka.
Di tengah puing-puing yang berserakan, seorang relawan muda berdiri dengan tubuh gemetar—wajahnya penuh lumpur, air mata, dan kelelahan yang tak bisa lagi ia sembunyikan.
Sudah lima hari ia dan timnya bertahan tanpa jeda.
Tanpa sinyal.
Tanpa akses jalan.
Tanpa cukup bahan bakar.
Dan lebih menyakitkan lagi—mereka tidak mampu mengangkat jenazah para korban yang masih tertimbun karena jalur terputus total. Setiap menit berlalu terasa seperti duri yang menusuk hati.
Relawan itu menggenggam sepotong kayu puing, mencoba menopang tubuhnya yang hampir roboh.
Ia bukan menangis untuk dirinya sendiri.
Ia menangis karena rasa tidak berdaya.
“Maaf… kami belum bisa menjangkau mereka…”
Ia menangis karena di bawah reruntuhan itu ada manusia—ayah, ibu, anak, saudara—yang seharusnya sudah bisa dibawa pulang ke keluarganya, tetapi terhalang oleh kondisi yang benar-benar di luar kendali.
Mata relawan itu memerah.
Dadanya naik turun.
Tangannya gemetar.
“Ya Allah… kuatkan kami…” bisiknya, suaranya pecah seperti tanah yang retak di bawah kakinya.
Di kejauhan, suara longsor susulan menggema. Timnya memanggilnya untuk mundur. Tapi ia tetap berdiri beberapa detik lagi, menatap ke reruntuhan yang seolah memanggil-manggilnya.
“Maafkan kami…” lirihnya, seakan berbicara kepada jiwa-jiwa yang tertinggal.
Dalam keheningan bencana itu, tangis seorang relawan menjadi saksi betapa beratnya perjuangan mereka—bukan hanya menantang alam, tetapi juga menahan luka batin yang perlahan-lahan meretakkan hati.
Namun di balik air matanya, ada tekad yang lebih kuat dari batu yang runtuh:
Selama masih bernapas, ia tidak akan meninggalkan siapa pun.Tak peduli seberapa sulit jalannya.
Karena bagi mereka, menjadi relawan bukan hanya tentang menyelamatkan…
tetapi juga tentang menjaga kemanusiaan tetap hidup, bahkan di tempat yang hampir kehilangan semuanya.
By : Berita Terkini

Posting Komentar untuk "Kisah Relawan yang Menangis di Tengah Reruntuhan"