Nama Franky sempat tercantum dalam manifest penumpang, namun ia akhirnya tidak ikut dalam penerbangan tersebut.
Pihak berwenang sempat meralat jumlah korban dari 11 orang menjadi 10 orang, setelah diketahui satu penumpang membatalkan keberangkatan.
Franky D Tanamal diketahui batal terbang karena harus mengikuti pelayanan gereja.Informasi tersebut disampaikan oleh Rumoton Sitanggang melalui akun media sosial Gemilang Jaya Ban, Senin (19/1/2026).
Rumoton mengaku berteman dekat dengan Franky dan yang bersangkutan merupakan teknisi pesawat tersebut.
“Kebetulan teknisinya teman saya yang luput dari musibah ini,” ujar Rumoton Sitanggang.
“Karena ada pelayanan di gereja saat itu. Yang pasti pesawat layak terbang. Ini murni musibah,” katanya.
Dalam unggahan lainnya, Rumoton menyebut keselamatan Franky sebagai mukjizat Tuhan. “Puji Tuhan atas segala kemurahannya. Sobatku luput dari musibah ini,” tulisnya.
Sebelumnya, PT Indonesia Air Transport (IAT) juga mengklarifikasi perbedaan jumlah kru dalam manifest pesawat ATR 42-500 yang jatuh di wilayah Sulawesi Selatan tersebut.
Direktur Utama PT IAT, Tri Adi Wibowo, menyatakan bahwa kru yang bertugas dalam penerbangan berjumlah tujuh orang, bukan delapan seperti yang sempat beredar.
“Saya menginformasikan, dari PT Indonesia Air Transport klarifikasi bahwa kru yang on-board ada tujuh,” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung Mina Bahari IV Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta.
Dengan demikian, total korban kecelakaan berjumlah 10 orang. Dalam data manifest penerbangan, Franky D Tanamal tercatat memiliki jabatan Engineer on Board, yaitu spesialis teknis yang ikut dalam penerbangan untuk menangani persoalan mekanis atau kelistrikan demi menjamin keselamatan penerbangan.(*)

Posting Komentar untuk "Jodoh, Rezeki Maut Tak Ada Satupun Yang Tahu"