Kakek Ramlan, 67 tahun, menatap puing-puing rumahnya yang rata dengan tanah. Rumah yang ia bangun sendiri 25 tahun lalu, yang menjadi saksi tawa cucu-cucunya, kini hanya tersisa kenangan.
Semua hilang begitu saja, tanpa satu rupiah pun ganti rugi. Kakek Ramlan duduk di puing, matanya basah. “Di mana aku harus tidur malam ini…?
Bagaimana aku bisa hidup…?”
Suaranya patah, menelan rasa kecewa yang tak terobati.
Di balik pembangunan tol yang megah, ada hati seorang lansia yang remuk. Bukan beton atau aspal yang ia butuhkan, tapi rasa hormat, pengakuan, dan sedikit keadilan.
Dan di bawah langit Rumbai yang sama, tangisnya tetap bergema—sebuah pengingat pahit bahwa kemajuan sering meninggalkan luka yang tak terlihat.(*)

Posting Komentar untuk "Tangis Pilu Kakek Ramlan di Balik Pembangunan Tol"