Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Bermodalkan Ijazah Madrasah, Satu-Satunya Orang Indonesia Yang Pernah Pimpin Sidang PBB


Di dunia diplomasi yang penuh dengan gelar mentereng dari universitas kelas dunia, nama Adam Malik Batubara muncul sebagai sebuah anomali yang luar biasa.

 Pria asal Pematangsiantar, Sumatera Utara ini membuktikan bahwa kecerdasan tidak selalu lahir dari bangku kuliah, melainkan dari tempaan pengalaman dan nyali yang tak terbatas.

Siapa sangka, sosok yang hanya sempat mengenyam pendidikan di Madrasah Sumatera Thawalib Parabek ini kelak menjadi orang Indonesia pertama—dan satu-satunya hingga detik ini—yang pernah menduduki posisi paling bergengsi sebagai Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Si Kancil dari Siantar: Belajar di "Universitas Kehidupan"

Lahir pada 22 Juli 1917, Adam Malik adalah anak seorang pedagang kaya. Namun, alih-alih berpangku tangan pada kekayaan orang tua, ia memilih merantau ke Jakarta di usia 20 tahun. 

Pendidikan formalnya terhenti di tingkat madrasah karena ia lebih memilih membantu orang tua berdagang.

Namun, di perantauan, ia belajar secara autodidak. Dari seorang pedagang, ia bertransformasi menjadi wartawan militan. Bersama rekan-rekannya, ia mendirikan Kantor Berita Antara dengan modal nekat dan mesin tik tua. 

Di tangan "Si Kancil"—julukan akrabnya karena kecerdikannya—berita-berita perjuangan Indonesia berhasil menembus barikade informasi penjajah.

Mencetak Sejarah di Podium PBB

Karier diplomatik Adam Malik mencapai puncaknya pada tahun 1971. Dalam sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York, pria bersahaja dari Sumut ini terpilih menjadi Ketua/Presiden Majelis Umum PBB.

Di gedung kaca yang menjadi pusat politik dunia tersebut, Adam Malik memimpin jalannya persidangan penting, termasuk memutuskan keanggotaan Republik Rakyat Tiongkok (RRC) di PBB. 

Dunia internasional terperangah melihat seorang autodidak mampu memimpin forum diplomatik paling rumit di bumi dengan sangat tenang dan piawai.

"Semua Bisa Diatur": Diplomasi Tanpa Sekat

Adam Malik dikenal memiliki "1001 jawaban" untuk setiap masalah. Kalimat legendarisnya, "Semua bisa diatur", menjadi ciri khas gaya diplomasinya. Bagi Adam, tidak ada kebuntuan yang tidak bisa dipecahkan melalui komunikasi yang cerdas.

Berkat kepiawaiannya pula, Indonesia berhasil kembali menjadi anggota PBB pada 1966 dan menjadi salah satu pendiri ASEAN melalui Deklarasi Bangkok pada 1967. Ia adalah bukti nyata bahwa bahasa diplomasi tidak melulu soal istilah teknis yang rumit, melainkan soal integritas dan kemampuan meyakinkan orang lain.

Dari Istana Wakil Presiden hingga Akhir Hayat

Setelah sukses mengharumkan nama bangsa di kancah global dan menjabat sebagai Menteri Luar Negeri selama 11 tahun, Adam Malik mencapai puncak pengabdian domestiknya saat dilantik menjadi Wakil Presiden RI ketiga pada tahun 1978.

Meskipun sudah berada di puncak kekuasaan, ia tetaplah sosok yang rendah hati dan ceplas-ceplos.

 Ia wafat pada 5 September 1984 dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1998 sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya yang tak ternilai.

Inspirasi Untuk Generasi Muda

Kisah Adam Malik adalah pengingat keras bagi kita semua: bahwa keterbatasan latar belakang pendidikan bukanlah penghalang untuk mengguncang dunia.

 Dari pasar di Siantar hingga podium PBB di New York, Adam Malik mengajarkan bahwa modal utama seorang pemimpin adalah kemauan untuk terus belajar dan keberanian untuk bersikap. (Wikipedia)


Posting Komentar untuk "Bermodalkan Ijazah Madrasah, Satu-Satunya Orang Indonesia Yang Pernah Pimpin Sidang PBB"