Istana Negara pada 21 Desember 2015, menjadi saksi sejarah yang tak lazim dalam dunia hukum Indonesia. Di hadapan Presiden Joko Widodo, seorang pria paruh baya dengan sorot mata tenang mengucap sumpah jabatan. Ia bukan jaksa, bukan polisi, dan bukan pula pengacara senior.
Ia adalah Agus Rahardjo, seorang Insinyur Teknik Sipil lulusan ITS Surabaya. Dialah orang pertama dalam sejarah Republik yang memimpin Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tanpa gelar sarjana hukum di belakang namanya.
Sebuah Jawaban yang Menggetarkan HatiBiasanya, seseorang yang baru saja terpilih menduduki jabatan prestisius akan menebar senyum atau menunjukkan kegembiraan. Namun, Agus Rahardjo berbeda.
Saat para jurnalis mencecarnya dengan pertanyaan mengenai perasaannya terpilih menjadi orang nomor satu di lembaga antirasuah tersebut, jawabannya justru membuat suasana seketika hening.
"Innalillahi wainna ilaihi rajiun..." ucap Agus singkat.
Potongan ayat suci Al-Qur'an yang biasanya diucapkan saat tertimpa musibah atau kabar duka ini keluar dari lisan sang insinyur. Bagi Agus, jabatan Ketua KPK bukanlah "durian runtuh" atau kursi empuk kekuasaan.
Ia memandangnya sebagai beban amanah yang maha berat, sebuah tanggung jawab besar yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan seluruh rakyat Indonesia.
"Titip Negara Ini"
Ketulusan Agus Rahardjo rupanya ditangkap jelas oleh Presiden Joko Widodo. Usai pelantikan, ada sebuah pesan singkat namun mendalam yang dibisikkan Presiden kepada jajaran pimpinan KPK jilid IV tersebut: "Titip negara ini."
Tugas itu memang tidak main-main. Agus datang ke KPK bukan membawa pasal-pasal hukum yang kaku, melainkan membawa "otak insinyur".
Sebelum di KPK, ia adalah otak di balik berdirinya LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah).
Ia adalah sosok yang membangun sistem e-catalogue—sebuah sistem digital yang memaksa pengadaan barang jasa pemerintah menjadi transparan dan menutup celah "main mata".
Antara Keraguan dan Pembuktian
Awal terpilihnya Agus sempat diwarnai nada skeptis. Beberapa pegiat antikorupsi khawatir KPK akan kehilangan taringnya jika dipimpin oleh orang non-hukum. Namun, hasil pemungutan suara di DPR justru berkata lain. Agus menang mutlak dengan 53 dari 54 suara.
DPR melihat potensi besar: jika korupsi di Indonesia 70%-nya berasal dari pengadaan barang dan jasa (APBN), maka siapa lagi yang paling tepat memberantasnya jika bukan sang "arsitek" sistem pengadaan itu sendiri?
Bahkan, tokoh setegas Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pun mengakui kehebatan Agus. Ahok menyebut Agus sebagai sosok yang mengajarinya cara menghapus praktik outsourcing dan merapikan anggaran di Jakarta agar tidak bisa dimaling.
Warisan Integritas Sang Teknokrat
Kisah Agus Rahardjo adalah pengingat bagi kita semua bahwa integritas tidak mengenal latar belakang pendidikan. Seorang insinyur ternyata bisa menjadi "penjaga gawang" keuangan negara yang sangat ditakuti.
Ia membuktikan bahwa untuk melawan korupsi, Indonesia tidak hanya butuh orang yang hafal pasal hukum, tapi juga butuh sosok yang paham bagaimana memperbaiki sistem dan memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa jabatan adalah sebuah ujian, bukan kemuliaan.
Sumber: Wikipedia "Agus Rahardjo"

Posting Komentar untuk "Ketua KPK! Bukannya Senang, Agus Rahardjo Malah Ucapkan Innalillahi wainna ilaihi rajiun...""