Ketika luka batin dibiarkan membusuk, dendam tumbuh pelan seperti jamur disudut tembok.
Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, terdapat satu keluarga dengan . Rumah kontrakan yang sederhana, berdinding pucat, dan nyaris tak pernah terdengar ribut.
Di rumah itu tinggal seorang ibu dan empat anak, masing-masing: Siti Solihah, perempuan 50 tahun yang dikenal tegas, hidup bersama anak-anaknya: Afiah Al Abdilah Jamaludin (28), MK (24), Abdullah Syauqi Jamaludin (23), dan si bungsu AA (14).
Mereka bukan keluarga kaya, tapi tetangga tahu mereka cukup rukun. Setidaknya, itulah yang terlihat dari luar.
Tak ada yang tahu bahwa di dalam rumah itu, dendam tumbuh pelan seperti jamur di sudut tembok yang lembap.
Pada suatu hari, Syauqi keluar rumah seperti biasa. Ia berjalan ke warung, membeli sesuatu yang terlihat sepele: racun tikus.
Di rumah, suasana tenang. Ibunya mungkin sedang mengurus sesuatu, kakaknya beristirahat, adiknya di kamar. Syauqi masuk dapur, menaruh panci di atas kompor, dan merebus teh.
Uap panas mengepul, membawa aroma manis yang biasa menenangkan.Namun hari itu, aroma teh bercampur dengan niat yang gelap.
Setelah para korban dibuat pingsan, Syauqi mengambil racun tikus itu kemudian ia campurkan kepancing yg berisi airvteh yg mendididih hingga larut.Teh itu lalu dituangkan ke dalam cangkir.
Syauqi berjalan ke kamar, satu per satu. Tangannya menyuapkan teh beracun itu ke mulut ibu nya serta saudaranya yang tak berdaya, yang terlelap tanpa tahu apa yang sedang terjadi.
Ibunya. Kakaknya. Adiknya yang masih remaja.Tak ada teriakan. Tak ada perlawanan. Hanya sunyi yang menyaksikan. Dan pagi itu, sunyi berubah menjadi kepanikan.Jumat, 2 Januari 2026.
MK, anak kedua, menemukan tubuh keluarganya tergeletak di rumah. Ia melihat ibunya, kakaknya, dan adiknya tak bergerak. Di kamar mandi, ia juga menemukan Syauqi terbaring lemas.
Tangis, teriakan, dan langkah kaki tetangga memenuhi rumah kecil itu. Polisi datang. Garis kuning dipasang. Warga berkerumun, berbisik-bisik, tak percaya.
Tiga orang meninggal dalam satu rumah.Kasus itu membuat gempar warga. Tak ada luka di tubuh korban. Tak ada tanda kekerasan. Semua terlihat seperti kematian yang sunyi dan misterius.
Polisi melakukan visum luar. Autopsi. Tes toksikologi. Barang bukti dikumpulkan. Saksi-saksi diperiksa.
Semua berjalan dengan metode scientific crime investigation. Syauqi, yang awalnya dianggap saksi kunci, dirawat di rumah sakit cukup lama.
Polisi menunggu hingga kondisinya pulih.hampir sebulan lamanya Syauqi di periksa polisi dan akhirnya mengaku yg paling mengerikan semua itu sdh ia rencanakan
Motifnya sederhana, tapi menusuk: dendam. Ia merasa diperlakukan berbeda, sering dimarahi oleh ibunya.
Luka batin itu disimpannya lama, sampai akhirnya meledak dalam bentuk yang tak terbayangkan. Seorang anak, meracuni ibu, kakak, dan adiknya sendiri.
Pesan Moral
Dendam yang dipendam tanpa jalan keluar dapat berubah menjadi racun yang lebih mematikan dari zat kimia apa pun.
Komunikasi, empati, dan perhatian dalam keluarga bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi yang menjaga hati agar tidak retak.
Karena ketika luka batin dibiarkan membusuk, ia bisa berubah menjadi tragedi yang tak dapat di hindari.(*)

Posting Komentar untuk "Dendam Terpendam Anggota Keluarga di Bunuh Dengan Racun Tikus !!! "