Tiba-tiba ponselku bergetar kuat di atas dashboard mobil, bersahutan dengan notifikasi dari grup WhatsApp yang terus berdatangan tanpa henti.
Baru saja aku meninggalkan area parkir bandara. Seragam pilotku masih melekat rapi di tubuh, tetapi pikiranku sudah dipenuhi antusiasme untuk segera mengganti pakaian dengan kebaya biru yang tergantung di jok belakang.
Sekilas aku melirik layar ponsel yang menyala.
Grup “Srikandi Udara”.
[Capt. Rini : Ciye, selamat ya, Sen! Sebentar lagi resmi jadi Ibu Pia Ardhya Garini nih]
[Fara Pramugari : Pasti keren banget nanti. Jangan lupa foto berdua sama Kapten Wira ya. Kalian pasti cocok banget!]
[Desy FO : Ikut senang! Setelah lima tahun investasi hati dan dompet, akhirnya bakal dipinang juga. Ditunggu seragamnya, Bu Komandan!]
Senyumku mengembang membaca pesan-pesan itu. Lima tahun. Waktu yang tidak sebentar untuk mendampingi seorang pria dari pangkat Letnan Satu hingga akhirnya kini meraih tiga balok di pundaknya.
Ponselku kembali berdering. Nama ‘Mas Wira’ muncul di layar head unit mobil.
“Panjang umur,” gumamku sambil menekan tombol angkat di setir. “Halo, Sayang! Selamat ya! Aku sudah keluar dari bandara. Mau mampir ke apartemen dulu buat makeup sebentar, habis itu langsung ke Lanud. Kamu sudah siap?”
Hening.
Hanya terdengar hembusan napas berat dari seberang sana. Tidak ada sapaan hangat ataupun ucapan terima kasih manja seperti biasanya.
“Mas Wira? Halo? Sinyalnya jelek ya?”
“Kamu sekarang di mana?” Suara Mas Wira terdengar dingin dan datar. Seperti instruktur yang sedang menegur murid penerbang yang gagal dalam ujian.
“Di tol, Mas. Kenapa? Ada yang mau dititipkan? Atau kamu mau aku bawakan sesuatu yang—”
“Putar balik, Sen.”
Kakiku spontan melepas pedal gas. Mobil melambat di jalur tengah.
“Maksudnya? Putar balik ke mana?”
“Pulang saja. Jangan datang ke Lanud.”
Jantungku serasa terkena G-Force negatif. Tertekan kuat ke bawah.
“Kamu bercanda, kan? Ini acara kenaikan pangkat kamu, Mas Wira. Kebaya biruku sudah jadi. Aku bahkan sudah minta jadwal libur sejak minggu lalu khusus untuk hari ini!”
“Aku bilang tidak usah datang, Senandung! Kamu tuli?”
Bentakan itu membuatku tersentak. Selama lima tahun bersama, seburuk apa pun suasana hati Mas Wira, dia tidak pernah membentakku sekasar ini. Terlebih di hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan baginya.
“Mas Wira, sebenarnya ada apa? Kalau aku melakukan kesalahan, kita bisa bicarakan nanti. Tapi aku harus hadir. Orang tuamu juga tidak bisa datang dari kampung, kan? Siapa yang akan mendampingimu kalau bukan aku?”
“Tidak perlu. Sudah ada yang mengurus semuanya. Kamu tidak usah datang ke acara kenaikan pangkatku. Aku sudah punya penggantimu.”
“Siapa? Teman seangkatanmu? Senior? Mas Wira, aku ini pacarmu! Orang-orang di skuadron juga tahu kita sudah lima tahun bersama. Akan terlihat aneh kalau aku tidak datang!”
“Justru akan terlihat aneh kalau kamu muncul!” potong Mas Wira cepat, nadanya terdengar panik bercampur emosi. “Dengar ya, Sen. Situasinya sekarang berbeda. Acara ini sangat formal dan penting. Komandan baru sangat ketat, tamu juga dibatasi.”
“Aku bukan orang asing yang akan mempermalukanmu, Mas. Kenapa kamu berubah seperti ini?” Suaraku mulai bergetar, menahan kemarahan yang mendesak naik ke tenggorokan.
“Jangan keras kepala bisa nggak?!” Mas Wira mendesis. “Pokoknya jangan datang. Titik. Kalau kamu nekat muncul di gerbang Lanud, aku akan sangat marah. Kita bisa lost contact kalau kamu membangkang.”
“Membangkang bagaimana maksudmu? Aku bukan bawahanmu, Mas Wira!”
“Terserah! Pokoknya jangan bikin masalah hari ini. Situasinya sedang panas. Jangan menyulitkanku dan mempermalukanku. Sudah, aku sibuk.”
Tut. Tut. Tut.
Sambungan telepon terputus begitu saja.
Aku menatap layar ponsel dengan pandangan kosong. Napasku memburu. Tanganku mencengkeram setir hingga buku-buku jari memutih.
Jangan datang? Situasi berbeda? Tamu dibatasi?
“Omong kosong apa itu, Mas?”
“Atau jangan-jangan ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?”
Aku melirik kaca spion tengah, menatap kebaya biru yang tergantung rapi di jok belakang. Kebaya yang harganya setara dua bulan gaji pokok Mas Wira. Kebaya yang kupesan dengan penuh cinta.
“Kamu kira aku bodoh, Mas?” desisku pada bayanganku sendiri di kaca. “Kamu menyuruhku putar balik dengan alasan yang tidak masuk akal seperti itu? Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan.”
Aku membanting setir ke kiri, namun bukan untuk keluar tol menuju apartemen. Aku justru menginjak gas lebih dalam.
“Kalau kamu melarangku datang, berarti ada sesuatu yang kamu tutupi. Dan Senandung Putri Jangkaru tidak akan pernah putar balik sebelum melihat landasan itu dengan mata kepalanya sendiri.”
Mobilku melesat membelah kemacetan Jakarta. Tujuanku tetap sama—Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.
Area parkir Gedung Griya Ardhya Garini sudah dipenuhi mobil dinas dan kendaraan pribadi. Dari dalam gedung terdengar samar-samar suara musik acara.
Aku memarkir mobil agak jauh, di bawah bayangan pohon besar. Aku tidak mengganti pakaianku.
Masih mengenakan seragam pilot lengkap—celana hitam bahan, kemeja putih dengan empat garis di pundak, dan dasi hitam. Aku hanya melepas topi pet dan mengenakan kacamata hitam meskipun hari mulai gelap.
Aku berjalan cepat menuju area samping gedung, tempat para perwira muda biasanya merokok atau sekadar mencari udara segar. Instingku mengatakan Wira tidak akan berada di ruang utama terus-menerus.
Benar saja. Di dekat area smoking room semi-outdoor, aku melihat sekelompok perwira muda berseragam PDU biru langit tertawa bersama. Aku mengenali beberapa dari mereka—teman satu angkatan Wira.
Aku bersembunyi di balik pilar besar, menajamkan pendengaran.
“Gila sih Wira,” suara berat seorang pria terdengar jelas. Itu suara Lettu Dimas. “Hoki seumur hidup itu anak. Putus dari pacarnya yang pilot, langsung gandeng anaknya Letkol Kavi.”
Deg!
Jantungku seolah berhenti berdetak.
“Putus?” batinku menjerit. Kakiku mendadak lemas. “Sejak kapan kita putus?”
“Yoi, Bro. Strategi tingkat dewa,” sahut suara lain. “Siapa yang nggak mau jadi mantunya ‘Elang Satu’? Letkol Kaviandra itu Danskadron paling berpengaruh sekarang. Kalau Wira jadi mantunya, kariernya bakal mulus kayak jalan tol. Otomatis jadi prioritas terbang.”
“Tapi kasihan juga sih sama si Mbak Pilot itu. Siapa namanya? Senandung ya? Sudah lima tahun kan mereka? Katanya mobil Wira yang hitam itu juga yang bayarin DP-nya si Mbak Pilot.”
“Yah, namanya juga usaha, Bro. Wira pintar. Cewek pilot memang duitnya banyak, tapi anak komandan? Itu tiket emas buat kekuasaan. Lagian cewek barunya juga segar banget. Masih kinyis-kinyis. Lulusan SMA, kan?”
“Iya, si Bintang. Manja banget. Tadi di dalam nempel terus sama Wira kayak perangko. Wira juga kelihatan bangga banget memperkenalkan dia ke para senior.”
“Enak banget hidupnya Wira. Ceweknya cantik-cantik. Yang satu ATM berjalan, yang satu tiket jabatan.”
Tawa mereka pecah.
Perutku terasa diaduk-aduk. Rasa kecewa menjalar sampai ke tulang.
Jadi ini alasannya?
Bukan karena tamu dibatasi.
Bukan karena komandan ketat.
Tapi karena dia sudah punya pasangan baru—putri komandannya sendiri?
Aku mengepalkan tangan sekuat mungkin.
“Lima tahun aku dianggap apa? ATM berjalan? Awas kamu, Mas!”

Posting Komentar untuk "Akhirnya Kamu Naik Pangkat Juga, Mas,” Batinku Dengan Perasaan Bahagia."