Ayah mereka meninggal karena kecelakaan kerja saat Sari baru berusia 18 tahun. Hari ketika surat penerimaan kuliahnya datang, justru menjadi hari rumah kecil mereka dipenuhi suasana duka.
Belum sempat sembuh dari kehilangan ayah, ibu mereka diam-diam mengemasi tas dan pergi.
Ia hanya meninggalkan satu kalimat dingin:“Aku tidak sanggup membesarkan kalian Aku akan pergi mencari hidupku sendiri.
Dengan berat hati ia berhenti kuliah. Surat penerimaan universitas ia sembunyikan di dasar peti tua.
Siang hari ia bekerja sebagai pelayan di warung makan, malam hari menjual kupon undian di terminal bus.
Ada malam-malam hujan ketika perutnya lapar dan tubuhnya gemetar kedinginan, tetapi ia tetap memaksa tersenyum agar bisa membeli roti untuk adik-adiknya.
Kerabat dari pihak ayah maupun ibu semuanya menjauh. Tak ada yang mau menanggung “beban” tiga anak yatim itu.
Ibu mereka pun menghilang tanpa kabar—tak pernah menanyakan kabar, apalagi mengirimkan uang.
Dua puluh tahun berlalu.
Dua bocah kurus itu kini telah menjadi dokter hebat. Yang satu bekerja di rumah sakit nasional di Jakarta, yang satu lagi baru kembali dari pendidikan spesialis di luar negeri.
Keduanya selalu memegang satu prinsip:
“Semua yang kami capai hari ini adalah hasil keringat dan masa muda Kak Sari.”Pada hari syukuran rumah kecil baru yang mereka belikan untuk sang kakak, seorang wanita kurus dengan rambut yang sudah memutih muncul di depan gerbang.
Itu ibu mereka.
Wanita itu menangis, bercerita tentang tahun-tahun penuh penyakit dan kemiskinan, lalu akhirnya berkata:
“Bagaimanapun juga, aku yang melahirkan kalian. Sekarang aku sakit parah dan butuh 2 miliar rupiah untuk berobat. Kalian harus membayar jasa aku melahirkan kalian.”
Sari terdiam. Dua adiknya berdiri di sampingnya dengan wajah yang dingin dan tegang.
Setelah mendengar semua itu, kedua pria itu tidak membantah, tidak menangis. Mereka hanya saling pandang—lalu diam-diam melakukan satu hal…

Posting Komentar untuk "Aku Tidak Sanggup Membesarkan Kalian Aku Pergi Mencari Hidupku Sendiri"