Belum Selesai Perang Lawan Iran, Donald Trump memberikan sinyal akan Target perang berikutnya kini beralih ke Belahan Bumi Barat, dengan Kuba dan Kolombia berada dalam garis bidik langsung Washington.
Langkah Trump ini didasari oleh doktrin "Keamanan Total di Halaman Belakang," di mana ia ingin membersihkan pengaruh musuh di kawasan Amerika Latin.
Kuba: Runtuhnya Bent
eng Komunis Terakhir
Penyebab: Trump menuduh Kuba sebagai "agen penghasut" yang memfasilitasi kehadiran intelijen Rusia dan China di dekat wilayah AS.
Alasannya: Sejak jatuhnya rezim Maduro di Venezuela (sekutu utama Kuba), Trump melihat Havana dalam kondisi paling lemah.
Ia menyatakan akan melakukan intervensi—baik melalui blokade energi total maupun aksi militer—untuk mengakhiri pemerintahan komunis di sana sekali dan untuk selamanya.
Kolombia: Perang Melawan "Negara Narkoba"
Penyebab: Perseteruan pribadi dan ideologis antara Trump dengan Presiden Kolombia, Gustavo Petro. Trump secara terbuka menuduh Petro melindungi kartel narkoba.
Atasannya: Trump mengancam akan mengirim pasukan khusus atau serangan presisi ke wilayah Kolombia guna menghancurkan laboratorium kokain, dengan dalih bahwa aliran narkoba ke AS adalah "serangan terhadap kedaulatan Amerika."
Para pakar geopolitik dan ekonomi memperingatkan bahwa langkah ini berpotensi memicu "Badai Sempurna" yang bisa melumpuhkan tatanan dunia:
Krisis Energi Global: Perang di Iran telah mendorong harga minyak melampaui $100 per barel. Intervensi di Amerika Latin akan semakin mengganggu jalur logistik dan pasokan komoditas global.
Ledakan Pengungsi: Ancaman serangan ke Kuba dan Kolombia diprediksi akan memicu eksodus jutaan orang menuju perbatasan AS dan negara-negara tetangga, menciptakan krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika Selatan.
Resesi Ekonomi: Ketidakpastian di dua kawasan strategis (Timur Tengah dan Amerika Latin) secara bersamaan membuat pasar saham global bergejolak. Biaya hidup di berbagai negara, termasuk Indonesia, terancam naik tajam akibat biaya logistik yang membengkak.
Dunia kini menanti apakah retorika "obrak-abrik" ini akan benar-benar berubah menjadi serangan terbuka, atau sekadar strategi tekanan maksimal untuk memaksa perubahan rezim tanpa peluru.


Posting Komentar untuk "Belum Selesai Perang Lawan Iran, Donald Trump Kini Target Beralih ke Kuba dan Kolombia"