Suasana di dalam Global Trust Bank sangat ramai dan sesak. Pak Carding, seorang pria berusia 65 tahun, sedang mengantre dengan tertib.
Ia mengenakan kaus kusam, celana jins yang terkena noda cat, dan sandal jepit tua. Ia baru saja selesai bekerja sebagai tukang kayu dan berniat menarik uang untuk membeli obat istrinya.
"Permisi, Pak," ucap seorang wanita berjas bisnis di belakangnya dengan nada ketus. "Tempat mengemis itu di luar. Anda mengganggu kenyamanan klien VIP seperti saya."
Pak Carding tetap diam. Namun, suara wanita itu justru semakin keras. "Sekuriti! Kenapa kalian membiarkan orang yang bau keringat masuk ke sini? Ini adalah cabang kelas atas!"
Seorang Manajer Bank yang sombong bernama Pak Santos mendekat. Bukannya menyelesaikan masalah, ia justru memandang Pak Carding dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan rasa jijik."Pak, silakan keluar sekarang. Anda lihat sendiri banyak klien yang risi dengan penampilan Anda. Kalau cuma mau tarik uang receh, pakai saja ATM di pojok jalan," bentak Pak Santos.
"Tapi saya hanya perlu mengambil uang untuk istri saya..." mohon Pak Carding dengan suara pelan.
"Kami tidak peduli! Satpam, seret dia keluar! Sekarang!" teriak Pak Santos.
Semua orang memandangi Pak Carding. Beberapa klien kaya menertawakannya saat satpam menyeretnya menuju pintu. Orang tua itu merasa sangat malu, seolah dunianya runtuh seketika.
Namun, sebelum dia benar-benar dikeluarkan, sebuah Mercedes-Benz hitam berhenti tepat di depan pintu.
Turunlah seorang pria berseragam militer dan seorang pria berjas yang membawa koper.
"Jenderal? CEO?" bisik Pak Santos kaget saat mengenali siapa yang datang.
Pak Santos segera berlari ke pintu untuk membungkuk hormat. "Selamat pagi, Tuan-tuan! Selamat datang di cabang kami! Mohon maaf, kami baru saja membuang sampah di luar ini."
Namun, kedua pria itu tidak memedulikannya. Sebaliknya, mereka langsung menghampiri Pak Carding yang masih dipegangi oleh satpam.
"Chairman Ricardo! Mengapa Anda ada di luar?" tanya sang CEO terkejut sambil bergegas memapah pria tua itu.
Mata semua orang terbelalak. Sang Jenderal bahkan memberikan hormat kepada Pak Carding.
"Chairman, apakah ini yang Anda maksud dengan menjadi 'secret shopper' untuk melihat bagaimana staf Anda memperlakukan orang biasa?" tanya sang Jenderal.
Seluruh bank seketika hening. Wanita sombong tadi hampir jatuh pingsan, dan lutut Pak Santos tiba-tiba lemas.
Pak Carding perlahan berdiri tegak. Ia melepas topinya dan menatap langsung ke mata Pak Santos.
"Pak Santos, Anda benar. Ada banyak bakteri di dalam bank ini," buka Pak Carding. "Tapi bakteri itu bukan berasal dari keringat saya... melainkan dari sikap Anda."
Pak Carding menoleh ke arah CEO-nya. "Audit cabang ini. Dan Pak Santos, jangan repot-repot membereskan barang-barangmu. Kamu dipecat. Detik ini juga."
Pak Carding melangkah pergi dengan kepala tegak, sementara orang-orang yang menghinanya hanya bisa terdiam penuh penyesalan.(*)

Posting Komentar untuk "Dipermalukan di Depan Umum, Ternyata Dia Pemilik Bank Tersebut"