Upaya Amerika Serikat untuk menghentikan sementara konflik dengan Iran kembali menemui jalan buntu. Pemerintah Iran secara tegas menolak dua permintaan gencatan senjata yang disampaikan oleh utusan khusus Presiden Donald Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.
Penolakan ini didasari keyakinan Teheran bahwa AS tengah terjebak dalam perang yang tidak menguntungkan dan hanya ingin memanfaatkan jeda untuk mempersiapkan serangan berikutnya .
Laporan dari The Guardian pada Rabu (11/3/2026) mengungkapkan bahwa utusan Trump telah dua kali melayangkan permintaan penghentian pertempuran melalui berbagai jalur diplomatik.
Namun, kepemimpinan Iran menilai tawaran tersebut tidak lebih dari taktik AS untuk menarik napas dan mengatur ulang kekuatan militernya.
Para pemimpin di Teheran justru menilai posisi mereka lebih menguntungkan dengan melanjutkan perang, di mana Amerika Serikat terlihat semakin terperosok .
"Iran melihat tidak ada gunanya gencatan senjata karena AS jelas-jelas hanya ingin memanfaatkannya untuk mempersiapkan serangan berikutnya," demikian bunyi analisis yang dirilis oleh media asal Inggris tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengambil sikap antisipatif dengan menyatakan bahwa deklarasi kemenangan sepihak dari Presiden Trump tidak akan mengakhiri perang.
Implikasinya, bahkan jika AS menghentikan serangan, Iran mungkin tetap akan melanjutkan konflik dalam berbagai bentuk, termasuk mempertahankan cengkeramannya di Selat Hormuz .
Teheran bersikeras bahwa tidak akan ada penghentian pertempuran tanpa adanya kesepakatan permanen yang mencakup komitmen tertulis dari AS untuk tidak menyerang Iran lagi di masa depan.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa gencatan senjata tanpa jaminan hukum akan sia-sia.
"Jika gencatan senjata ingin ditegakkan atau perang dihentikan, harus ada jaminan bahwa tindakan agresif terhadap Iran tidak akan terulang.
Jika tidak, jika serangan lain terjadi setelah beberapa bulan, gencatan senjata seperti itu tidak ada artinya," tegas Gharibabadi .
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Ghalibaf, bahkan mengeluarkan pernyataan yang lebih keras di media sosial. "Kami SAMA SEKALI TIDAK mencari gencatan senjata.
Biarkan musuh tahu bahwa apa pun yang mereka lakukan, pasti akan ada balasan yang setimpal dan segera," tulisnya. "Kami bertempur mata dibalas mata, gigi dibalas gigi, tanpa kompromi atau pengecualian" .
Selat Hormuz: Senjata Strategis Iran
Kunci dari perlawanan Iran terletak pada kendalinya atas Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang memasok hampir 20 persen minyak mentah dan sekitar 20 persen gas alam cair dunia.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan bahwa tidak ada kapal yang terkait dengan agresor Iran yang berhak melintas di selat tersebut .
"Pada awal perang kami mengumumkan dan kami umumkan lagi, tidak ada kapal yang terkait dengan agresor terhadap Iran yang memiliki hak untuk melewati Selat Hormuz. Jika Anda ragu, mendekatlah dan cari tahu," demikian pernyataan tegas IRGC .
IRGC juga membuka peluang bagi kapal-kapal dari negara tertentu untuk melintas jika negara tersebut bersedia mengusir duta besar AS dan Israel dari wilayah mereka .
Sikap defensif Iran saat ini merupakan perubahan mencolok dari hari-hari pertama perang 11 hari lalu, di mana rezim tersebut hanya mencari cara untuk bertahan hidup.
Kini, Teheran justru berada dalam posisi yang lebih percaya diri. Presiden Masoud Pezeshkian, yang dikenal sebagai tokoh lebih moderat, pun ikut angkat bicara dengan nada menantang: "Kapal perusak telah datang dan pergi. Iran tetap ada" .
Para diplomat Iran juga mendasarkan skeptisisme mereka pada pengalaman pahit. Mereka berargumen bahwa dua putaran negosiasi diplomatik sebelumnya diputus secara sepihak oleh serangan udara AS-Israel, sehingga tidak ada lagi landasan untuk mencapai kesepakatan dengan Washington .
Sementara itu, di tengah kebuntuan diplomatik ini, eskalasi militer terus berlanjut. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan menyebut bahwa hari ini akan menjadi "hari serangan paling intens" dalam perang melawan Iran.
Dengan ditolaknya dua proposal gencatan senjata, prospek perdamaian di kawasan Timur Tengah masih jauh dari kata pasti.**

Posting Komentar untuk "Iran Kembali Menyatakan Menolak Tawaran Gencatan Senjata Dari Presiden Donald Trump"