Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Ketika Idealisme Wartawan Tergadai?

Oleh M Ramli S. Nawi.

Sejak terjadi reformasi sekitar 10 tahun lebih lalu dunia jurnasil ikut menggeliat karena saat itu kran kebebasan tiba2 terbuka lebar. Tidak sedikit wartawan saat itu untuk mencoba mendirikan media, seperti surat kabar, majalah dan tabloid, walaupun modal seadanya. 

Tetapi media2 yang terbit saat itu hanya karena euforia sesaat dan itu ibarat cendawan yang mencul dimusim hujan memenuhi semak - sama belukar. Hanya beberapa waktu saja dapat bertahan lalu layu dan membusuk kemudia lenyap dan menjadi tanah.

 Demikian halnya surat kabar, majalah dan tabloid, pada mulanya terbit menggebu - gebu tetapi lama - lama mati pelan - pelan, kalaupun ada yang betahan sampai saat ini hidupnya persis seperti tanaman bonsai.

 Kenapa demikian, karena awalmulanya hanya didasari napsu yang menyala nyala.  Terbit semingguan,  sekali lama2 sebulan sekali. Jadwal terbitnya pun juga sudah tidak teratur lalu kemudian media itu sekarat karena hanya bermodalkan semangat. 

Padahal menerbitkan media itu memerlukan modal besar. Disinilah masalah karena modal untuk menerbitkan media nihil kalaupun ada hanya modal paspasan ditambah dengan SDM yang tidak memadai.

 Mereka merekrut wartawan tetapi tidak digaji. Wartawan2 itu hanya diberi kartu pers sebagai identitas yang mereka untuk kantongi yang dapat ditunjukan kepada nara sumber yang biasa menanyakan identitas. 

MELACUR ?

Begitu mudahnya menjadi wartawan pada saat itu. Mereka diterima menjadi wartawan karena pertemanan antara pimpinan redaksi dengan calon wartawan tampa melalui rekrutmen yang benar. 

Tentang pengetahuan jurnalistik itu lebih buruk lagi karena mereka sama sekali tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan kewartawanan. Karena tuntutan kehidupan akhirnya terjerumus mencari jalan agar bisa mendapatkan duit. 

Kadang mengunjungi pimpinan kantor untuk wawancara padahal koran sudah lama lenyap alias tidak terbit. Wartawan model seperti ini bagaimana cara agar bisa  menembus sekurit atau Satpam yang berjaga disebuah kantor, tinggal memperlihatkan kartu wartawan. 

Selesai sudah. Aku masih ingat persis bagaimana melamar di surat kabar harian terkemuka di Makassar, pada tahun 1979 begitu ketat seleksinya. Pertama tes wawasan, tes wawancara bahasa Inggeris dan beberapa lagi.

 Demikian juga penerimaan wartawan dibeberapa surat kabar dan majalah di Makassar, saat itu persyaratannya sangat ketat. Tetapi kuwalitas  wartawan diera itu cukup bagus dengan udelismenya tidak diragukan lagi.

 Wartawan2 nya digaji sesuai kemampun perusahaan. Sedikit banyaknya itu lain soal tetapi wartawan itu ada gaji yang ditunggu setiap bulannya.

ERA DIGITALISASI

Memasuki era digitalisasi media online membanjir. Hampir diseluruh kabupaten di tanah air ini ada media online tentu lengkap dengan wartawannya. Suatu hari ketika aku singgah didepan sebuah ruko bernauang karena hujan keras disitu terlebih dahulu ada tiga orang sudah bernauang tetmasuk tukang bentor ( beca motor ).

 Tetapi tiba2 terjadi percakapan antra aku dengan tukang bentor itu. Beberapa saat setelah percakanbtejadi tiba2 tukang bentor itu yang orangnnya masih muda dan dilehernya mellingkar kalung stanlis yang mengkilap bertanya. " Bapak kerja dimana?

 Sambil menatapku, "  kemudian buru2 disambung. " Mungkin bapak wartawan ? 

Karena melihat dari penampilannya, " tanyanya sambil melangkah lebih dekat. " Kebetulan aku wartawan, jawabku singkat.Tukang bentor itu tiba2 menyodorkan tangannya dan menjabat tanganku.

 " Kalau begitu kita sama. Saya juga wartawan dimedia online," katanya tersenyum. " Tetapi sayang karena saya tidak digaji, " akunya sedikit merunduk. Setelah pengakuan polos dari mulut tukang bentor itu, aku tidak memberi jawaban. Aku terdiam seraya melirik. Hujan pun mulau reda dan akupun berlalu pergi dari tempat itu.

TERGADAINYA IDEALISME?

Tidak sedikit wartawan yang bekerja di media media online di Indonesia ini saat ini senasib dengan pengakuan tukang bentor tadi yang mengakunya juga wartawan. 

Saat ini bagaimana cara sejumlah wartawan bisa mendapatkan duit? Ada beberapa perusahaan,  baik itu BUMN maupun kantor instansi pemerintah menjalin hubungan mesra yang dikemas dengan istilah wartawan gatherin.

 Perusahan2 dan instansi pemerintah tersebut saling bekerjasam dalam arti menjadi mitra dengan melalui kontra. Disini para wartawan sudah terikat dengan semacam perjanjian dengan ada aturan mainnya. 

Misalnya tidak boleh lagi ada yang membuat berita2 kontrol. Wartawan2 yang terhimpung di gatherin itu hanya menerima berita relis dari humas kantor tersebut dengan bayaran yang sudah diatur.

 Aku pun pernah mencoba menjadi wartawan gatherin disalah satu perusahaan pelat merah, tetapi hanya berjalan satu bulan aku keluar karena aku berpikir bahwa aturan ini sudah tidak sejalan dengan perinsip kebebasan.  

Aturan itu aku menilai membatasi kerja wartawan sehingga tergeruslah idealisme kewartawan. ***

Posting Komentar untuk "Ketika Idealisme Wartawan Tergadai?"