Tengah malam saat Patrolman Lino Vergara mengendarai sepeda motornya melewati bagian jalan raya yang gelap. Angin terasa dingin, dan hampir tidak ada kendaraan yang lewat. Suasana sunyi, namun ia merasa ada sesuatu yang tidak beres akan terjadi.
Tiba-tiba, sebuah mobil sport hitam melintas secepat kilat, seolah membelah angin. Suara mesinnya menderu keras dan hampir menyerempet sebuah truk tua.
“Melebihi batas kecepatan. Dan kalian hampir menyebabkan kecelakaan,” bisik Lino sebelum menyalakan sirenanya. Beberapa detik kemudian, mobil mewah itu berhenti di pinggir jalan.
Ia mendekat, dan saat jendela mobil diturunkan, muncul sosok yang tidak ia duga—miliarder terkenal, Marcial De Guzman, pria yang selalu muncul di TV sebagai pahlawan donasi.
Namun dikenal kasar saat tidak ada kamera. Ia mengenakan jam tangan mewah, memegang cerutu mahal, dan tersenyum sombong.
“Apa lagi sekarang? Apa kalian tidak tahu cara bekerja tanpa mengganggu orang?” tanyanya dengan nada iritasi.
“Pak, Anda mengebut. Dan Anda hampir menabrak
Belum sempat Lino menyelesaikan kalimatnya, sang miliarder memotongnya. “Kamu tahu siapa saya? Tahu berapa penghasilan saya setiap menitnya? Saya yakin kamu pun punya harga. Mari kita selesaikan ini sekarang.”
Lino mengerutkan kening. “Pak, pekerjaan saya bukan soal uang.”
Marcial menggelengkan kepala. “Semua orang punya harga. Apalagi polisi seperti kalian.”
Ada sesuatu yang mendidih di dada Lino—bukan hanya karena penghinaan itu, tetapi karena ia teringat kisah saudaranya yang dipecat oleh Marcial tanpa alasan dan tidak dibayar dengan layak. Namun meskipun sakit hati, ia tetap berusaha tenang.
Saat ia sedang menulis surat tilang, Marcial menepuk lencana Lino. “Kita lihat saja apa kamu akan bertahan lama di posisimu setelah aku berbicara dengan kepalamu.Genggaman Lino pada tiket tilang itu mengencang. “Pak, tolong hormati seragam ini.”
“Hanya seragamnya yang saya hormati. Bukan kamu.”Dan pada saat itulah, perasaan Lino meledak. Ia tidak berteriak. Tidak mengamuk. Namun ia menangis—sunyi, berat, seolah kelelahan bertahun-tahun jatuh bersamaan di dadanya.
Marcial terkejut. “Kenapa kamu… menangis?”
Lino mengusap pipinya. “Pak… sudah dua bulan kami tidak punya anggaran untuk obat anak saya. Saya bekerja lembur agar cukup. Saya hampir tidak pernah melihat anak-anak saya. Tapi saya melakukan ini karena saya ingin melayani dengan baik.” Ia menarik napas dalam-dalam.
“Anda bilang saya tidak berharga. Tapi bagi keluarga saya, saya adalah nyawa mereka. Dan bagi jalanan ini, tugas saya adalah menyelamatkan nyawa. Saya harap… meskipun Anda kaya, Anda tahu cara menghormati sesama.”
Dunia seketika menjadi sunyi. Marcial, yang selalu punya jawaban, tiba-tiba terdiam seribu bahasa.
Dalam beberapa detik keheningan itu, tiba-tiba sebuah SUV datang dengan rem blong dan meluncur lurus ke arah Marcial....

Posting Komentar untuk "Polisi Hentikan Mobil Ngebut, Ternyata Miliarder Terkenal Yang Bersikap Kasar Kepadanya"