Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Polwan Gagal Tilang, Ternyata Pria Yang Pernah Selamatkan Hidupku 12 tahun Yang Lalu

 
Aku sebenarnya berniat menilangnya karena melaju 142 km/jam, tetapi saat mataku menangkap bekas luka di pelipisnya, seolah darah di tubuhku langsung berhenti mengalir.

 Aku tidak mungkin salah itu dia. Pria yang pernah menyelamatkan hidupku dua belas tahun yang lalu, pada malam ketika aku hampir kehilangan segalanya.

Sekarang dia berdiri di depankuhanya seorang pengemudi biasa yang seharusnya kutilang karena melanggar hukum.

Namun pada detik itu, seolah takdir berbisik: sudah waktunya membalas utang yang tak pernah kulupakan.

Saat itu hari Selasa yang terik di bulan Juli, di Jalan Tol Jagorawi dekat gerbang Cibubur. 

Aspal tampak bergetar di bawah sengatan matahari pukul 14.30 siang, dan udara panas membuat pandangan di kejauhan tampak bergetar. 

Briptu Rina Pratama, dari Patroli Jalan Raya (PJR), merapikan kacamata hitamnya sambil melihat radar. Sebuah SUV hitam melesat seperti bayangan—142 kilometer per jam di zona dengan batas hanya 100.

Hal biasa. Ia sudah melakukan ini ribuan kali selama tiga tahun bertugas. Ia menyalakan lampu biru, sirene patrolinya mengaum pendek dan tegas, lalu melaju mengejar kendaraan itu. 

Mobil hitam itu tidak mencoba melarikan diri; perlahan menepi ke bahu jalan dengan sikap tenang yang berlawanan dengan kecepatannya tadi.

Rina memarkir motor patrolinya di belakang mobil itu, cepat memeriksa seragamnya—sebuah pelindung yang menyembunyikan lebih banyak hal daripada yang terlihat—lalu berjalan menuju jendela pengemudi sambil memegang buku tilang, siap mendengar alasan yang sudah terlalu sering ia dengar:

"Saya tidak sadar kecepatannya,"

"Saya sedang terburu-buru,"

"Speedometer mobil saya rusak."

Pengemudi menurunkan jendela. Udara dingin dari AC menyentuh wajah Rina, tetapi yang ia lihatlah yang benar-benar membuat darahnya membeku.

Pria di balik kemudi itu berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Kemeja putihnya kusut, dasinya longgar seolah mencekiknya, dan kedua tangannya mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. Namun bukan itu yang membuat jantung Rina berhenti berdetak.

Matanya.

Mata yang merah karena kurang tidur, penuh kelelahan, dan berteriak dalam keputusasaan yang sunyi.

Lalu ia melihatnya—bekas luka tipis berwarna pucat di pelipis kiri pria itu.Dunia seolah berhenti berputar.

Suara lalu lintas di jalan tol menghilang.

Sebuah ingatan menarik Rina kembali ke malam bulan November dua belas tahun lalumalam penuh asap hitam dan kobaran api di kawasan padat Jakarta Utara.

“SIM dan STNK, Pak,” kata Rina, tetapi suaranya sendiri terdengar jauh, seolah bukan miliknya.

Pria itu menatapnya, namun seakan tidak benar-benar melihatnya. Tatapannya menembus Rina, fokus pada ketakutan yang tak terlihat.

 Ia menyerahkan SIM dengan tangan gemetar.“Ardiansyah Putra,” baca Rina dalam hati.Nama yang selama lebih dari satu dekade ia cari tanpa hasil.

Dialah pria itu.

Pria asing yang masuk ke dalam bangunan kontrakan yang terbakar ketika Rina masih empat belas tahun, terjebak di dalam dan hampir mati. 

Pria yang menggendongnya keluar melewati api, mempertaruhkan nyawanya sendiri, lalu menghilang di tengah sirene dan kekacauan tanpa menunggu ucapan terima kasih.

Rina menelan ludah, berusaha tetap profesional. Ia hampir saja melanggar protokol dan menanyakan apakah pria itu masih ingat kebakaran itu.

Namun matanya menangkap selembar kertas di kursi penumpang.

Ada logo rumah sakit besar di atasnya:

“Onkologi Anak – Janji Temu Mendesak – 15.00.”

Di kursi belakang terdapat koper kecil warna pink penuh stiker unicorn.

Rina melihat jam tangannya: 14.35.

Rumah sakit itu berada di pusat Jakarta. Dengan kemacetan sore hari, mustahil sampai dalam empat puluh menit.

 “Saya tahu,” kata pria itu dengan suara pecah, mengira keheningan Rina adalah keputusan hukuman.

“Silakan tilang saya… bahkan tangkap saya kalau perlu… tapi tolong… saya hanya harus sampai ke sana.”

Setetes air mata jatuh di pipi Ardiansyah. Ia segera menghapusnya dengan marah dan malu.

Ia tidak ngebut karena ceroboh.

Ia sedang berpacu melawan kematian.

Rina menatap buku tilang yang baru setengah ia isi. Lalu menatap bekas luka di pelipis pria itu—tanda yang ia dapat saat menyelamatkan dirinya dulu.

Takdir, dengan cara anehnya, mempertemukan mereka lagi setelah dua belas tahun—tetapi dengan peran yang terbalik.

Sekarang Ardiansyah yang perlu diselamatkan.

Dan Rina memiliki kekuatan untuk melakukannya… atau menghancurkannya.

Perlahan, Briptu Rina memasukkan pulpen ke saku seragamnya. Ia melepas kacamata hitam dan menatap langsung ke mata pria itu, memecahkan dinding antara polisi dan warga.

 “Tujuan Anda ke rumah sakit di Jakarta?” tanyanya tegas.

Ardiansyah mengangguk, bingung dengan perubahan nada suara polisi itu.

 “Iya… anak saya… saya harus membawa dia sebelum jam tiga. Nyawanya dipertaruhkan.”

Rina mengangguk sekali.

“Ikuti saya.”

“Apa?” tanya Ardiansyah terkejut.

— “Saya bilang ikuti saya. Tetap di belakang motor saya dan jangan sampai terpisah apa pun yang terjadi.”

Rina berlari kembali ke motornya.Hari ini tidak akan ada surat tilang.Hari ini, ia akan membayar utang.

Ia menyalakan sirene—bukan sirene untuk menghentikan kendaraan, melainkan raungan pengawalan darurat—lalu melesat di antara kemacetan, membuka jalan seperti pisau yang membelah lautan kendaraan.

Part 2 di komentar…

Posting Komentar untuk "Polwan Gagal Tilang, Ternyata Pria Yang Pernah Selamatkan Hidupku 12 tahun Yang Lalu"