Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Sang Guru Merawat Anak Yatim Piatu 20 tahun, Ketika Sakit Parah Minta Dibantu


Seorang guru janda merawat dua anak yatim piatu, membesarkan dan menyekolahkan mereka selama lebih dari 20 tahun hingga menjadi orang sukses. 

Namun ketika ia jatuh sakit parah dan membutuhkan uang untuk berobat, dengan suara bergetar ia meminta bantuan dua anak angkatnya.

 Yang ia terima justru jawaban dingin: “Saya tidak bisa meminjamkan uang kepada Ibu.”

Dengan hati hancur ia melangkah keluar dari rumah itu. Belum sempat menghapus air matanya, tiba-tiba sebuah kejadian di belakangnya membuatnya benar-benar terpaku…

Pada tahun itu, Bu Sari baru berusia 35 tahun. Ia adalah guru Bahasa Indonesia di sebuah SMP kecil di daerah pedesaan Jawa Tengah.

 Setelah putus dari hubungan cinta selama tujuh tahun—karena pria itu memilih “perempuan yang lebih cocok untuk menikah dan punya anak”—Sari memutuskan untuk tidak menikah. Ia mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada murid-muridnya.

Di kelasnya, ada dua anak yang selalu membuat hatinya terenyuh: Rina dan Ardi—dua kakak beradik yang menjadi yatim piatu setelah orang tua mereka meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. 

Keluarga mereka sangat miskin, hanya tinggal bersama kakek nenek yang sudah tua dan lemah. Bahkan makan pun sering tidak cukup.

Setiap kali melihat Ardi belajar sambil menahan lapar hingga perutnya berbunyi, Sari diam-diam memasukkan makanan tambahan ke dalam tasnya. Suatu hari ia sempat bercanda:

“Mulai sekarang anggap saja Ibu seperti ibu kalian sendiri, ya. Jangan sungkan.”

Sejak hari itu, mereka benar-benar memanggilnya Ibu Sari.

Sari mengajar di sekolah, tetapi juga melakukan banyak pekerjaan tambahan—mengajar les privat, berjualan online, bahkan menerima pekerjaan membungkus plastik di malam hari hanya untuk mendapatkan uang demi membiayai dua anak itu.

Rina sangat pintar dan akhirnya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Ardi sangat menyukai teknologi dan mendapat beasiswa kuliah di Jakarta.

Bu Sari menangis haru saat itu. Ia mengumpulkan seluruh tabungannya untuk biaya kuliah mereka, sementara dirinya hanya tinggal di sebuah kamar kecil di asrama guru sekolah.

Waktu terus berlalu.

Dua anak “yang ia besarkan” itu semakin sukses, tetapi semakin jarang menelepon. Bu Sari tetap menulis surat dan mengirim hadiah kecil setiap Lebaran, meski kadang balasan yang ia terima hanya pesan singkat:

“Aku sangat sibuk, Bu. Jaga kesehatan ya.”

Beberapa tahun kemudian…

Bu Sari sudah berusia 60 tahun. Rambutnya memutih, dan kanker yang dideritanya telah menyebar ke seluruh tubuh. Tabungannya sudah habis, dan asuransi kesehatan tidak cukup untuk menutup biaya pengobatan.

Satu-satunya orang yang ia pikirkan… adalah dua anak yang pernah ia besarkan itu.

Suatu pagi ia diam-diam naik bus menuju Jakarta. Ia menemui Ardi—yang kini sudah menjadi direktur sebuah perusahaan teknologi besar.

Dengan suara ragu ia berkata:

“Ibu hanya ingin meminjam sedikit uang untuk biaya berobat… nanti Ibu akan mencicil mengembalikannya…”

Ardi berdiri, menatapnya cukup lama.

Lalu ia berkata pelan, dengan wajah serius:

“Aku… tidak bisa meminjamkan uang kepada Ibu.”

Bu Sari terdiam. Kata-kata itu terasa seperti pisau yang menembus hatinya. Ia memaksakan senyum pahit.

“Tidak apa-apa… Ibu mengerti. Mungkin kamu juga sedang sulit. Ibu pulang dulu, ya.”

Namun siapa sangka… saat ia baru saja melangkah keluar dari pintu itu…

Lanjutkan ceritanya di kolom komentar di bawah ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡

Posting Komentar untuk "Sang Guru Merawat Anak Yatim Piatu 20 tahun, Ketika Sakit Parah Minta Dibantu"