Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Rahasia di Balik Jeruji Seorang Narapidana Minta Bertemu Putrinya Sebelum Dieksekusi Mati…

 
Kesaksian Terakhir: Rahasia di Balik Jeruji Seorang narapidana meminta untuk bertemu putrinya sebelum ia dieksekusi mati…

Namun saat anak berusia delapan tahun itu membisikkan sesuatu ke telinganya…

Seluruh penjara terdiam karena kenyataan yang mampu mengubah nasibnya selamanya.

Fajar baru saja menyingsing ketika suara kunci berat bergema di lorong penjara Manila. 

Dentuman pintu besi itu memantul di udara dingin, seolah menjadi pengingat kejam bahwa waktu seseorang perlahan-lahan habis.

Di dalam sel, Mateo Aguilar duduk terdiam.

Lima tahun telah berlalu sejak ia dikurung di sana. Selama lima tahun itu, ia berulang kali mengucapkan kalimat yang sama kepada siapa pun yang mau mendengarkan:

 Bukan aku yang melakukannya.

Awalnya, suaranya penuh amarah.

Beberapa bulan kemudian, berubah menjadi putus asa.

Beberapa tahun kemudian, suaranya hampir menyerupai bisikan saja.

Namun pagi itu, ia tidak berteriak.

Ia berdiri perlahan saat dua penjaga membuka pintu sel. Yang satu masih muda, tampak seperti pegawai baru. Yang lainnya sudah lama terbiasa dengan penjara, dengan wajah keras bagaikan batu. Mateo menatap mereka. Wajahnya pucat, janggutnya panjang, dan pakaian penjara yang ia kenakan sudah pudar karena sering dicuci.

Ia berbicara perlahan.

 Aku hanya punya satu permintaan... sebelum semuanya berakhir.

Penjaga tua itu tidak menjawab. Mateo melanjutkan:

— Aku ingin bertemu anakku. Sebentar saja. Tolong... aku ingin melihat Lia.

Kedua penjaga itu saling berpandangan. Penjaga muda menundukkan pandangannya, tampak tidak nyaman. Mateo berbicara lagi dengan suara yang hampir serak:

 Sudah tiga tahun aku tidak melihatnya... dia sekarang berumur delapan tahun.

Penjaga tua itu menghela napas panjang.

 Mereka yang sudah divonis di sini... tidak lagi punya hak untuk meminta bantuan.

Namun Mateo tidak bergeming.

Ia tidak berlutut.

Ia juga tidak memohon.

Ia hanya menatap lurus ke depan, dan di matanya yang lelah ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan — sebuah keteguhan yang sunyi.

Beberapa jam berlalu sebelum permintaan itu sampai ke meja direktur penjara.

Kolonel Arturo Mendoza sudah berusia enam puluh tahun. Hampir tiga puluh tahun ia mengabdi dalam sistem itu. Ia sudah melihat banyak kriminal. Ia juga sudah melihat banyak orang berbohong demi menyelamatkan diri.

Berdasarkan berkas kasus, semuanya tampak jelas.Seorang pengusaha dibunuh di Quezon City. Ada bekas darah di pakaian Mateo. Seorang saksi mengatakan melihatnya keluar dari rumah korban pada malam itu.

Kasus ditutup.

Namun saat Mendoza membaca kembali berkas itu, ia teringat wajah Mateo saat pertama kali ia melihatnya. Itu bukan wajah seseorang yang yakin akan kesalahannya. Itu juga bukan wajah seseorang yang telah kehilangan harapan.

Ia berpikir sejenak dalam diam. Kemudian ia berkata kepada sekretarisnya:

Bawa anak itu kemari.

Tiga jam berlalu.

Sebuah van putih berhenti di depan tembok tinggi penjara. Seorang pekerja sosial turun, memegang tangan seorang gadis kecil.

Namanya Lia Aguilar.

Ia baru berusia delapan tahun, tetapi matanya tampak lebih tua dari usianya. Ia tidak menangis. Ia tidak bertanya mengapa temboknya begitu tinggi atau mengapa ada begitu banyak penjaga. Ia hanya berjalan diam di lorong yang panjang.

Saat ia melewati sel-sel, para narapidana perlahan terdiam. Ada sesuatu yang aneh pada anak itu — keheningan yang memberi beban pada setiap langkahnya.

Setibanya di ruang kunjungan, Mateo sudah ada di sana.

Tangannya terborgol di meja. Matanya lelah.

Namun saat pintu terbuka dan ia melihat sosok kecil putrinya, ia langsung menangis.

— Lia... anakku...

Anak itu melepaskan tangan pekerja sosial. Ia tidak berlari. Ia mendekat perlahan.

Satu langkah.

Satu langkah lagi.

Seolah ia memikirkan setiap gerakannya.

Sesampainya di depan meja, ia menatap ayahnya. Mereka saling berpandangan selama beberapa detik.

Kemudian ia memeluk ayahnya. Sangat erat.

Mateo terisak sambil memeluk anaknya. Selama satu menit yang panjang, tidak ada yang berbicara. Para penjaga, pekerja sosial, bahkan Kolonel Mendoza yang mengawasi dari ruangan sebelah — semuanya terdiam.

Setelah saat itu, Lia mendekat sedikit ke telinga ayahnya.

Ia membisikkan sesuatu.

Hanya satu kalimat.

Tidak ada orang lain yang mendengarnya.

Namun semua orang melihat apa yang terjadi setelahnya.

Mata Mateo membelalak. Wajahnya menjadi pucat seolah darahnya terkuras habis. Tangannya mulai gemetar. Air mata sunyi di pipinya berubah menjadi isak tangis yang dalam.

Ia bertanya dengan berbisik.

 Apakah itu benar...?

Anak itu mengangguk diam.

Seketika, Mateo berdiri. Kursi di belakangnya terjatuh. Para penjaga panik dan segera mendekat, mengira ia akan mencoba melarikan diri.

Namun ia tidak lari.

Sebaliknya, ia berteriak sekuat tenaga, seolah ia telah memendam suara itu selama lima tahun.

— AKU TIDAK BERSALAH!

— AKU SELALU TIDAK BERSALAH!

— SEKARANG AKU PUNYA BUKTINYA!

Para penjaga mencoba menjauhkan anak itu, tetapi Lia memeluk ayahnya erat-erat. Dan di tengah kekacauan itu, gadis kecil itu berbicara. Jelas. Tegas.

 Sudah waktunya kalian mengetahui kebenarannya.Semua orang terhenti. Bahkan Kolonel Mendoza di ruang sebelah tiba-tiba berdiri. Mateo menatap anaknya perlahan.

 Lia... bagaimana kamu tahu itu...?

Anak itu menatap ayahnya. Di wajah kecilnya ada ekspresi serius yang tidak biasa bagi anak berusia delapan tahun. Ia menarik napas dalam-dalam. Kemudian ia mengucapkan kata-kata yang akan mengguncang seluruh ruangan.

Papa... bukan kamu yang membunuh Paman Roberto.Dunia seolah berhenti. Semua mata tertuju pada anak itu. Dan sebelum siapa pun bisa berbicara, Lia melanjutkan dengan suara tenang namun berat.

 Aku tahu siapa yang melakukannya... karena pada malam itu...

Ia tiba-tiba berhenti. Ia perlahan menoleh ke arah pintu. Di balik kaca, ada seseorang yang berdiri. Seseorang yang tidak disangka ada di sana. Dan pada saat itu, Mateo mengerti mengapa nasibnya akan berubah...

Namun sudah terlambat untuk menghentikan kebenaran yang akan keluar dari mulut anaknya.

Apa yang diungkapkan oleh putrinya?

Akankah ia bisa menyelamatkan ayahnya?

Baca kelanjutan kisahnya di komentar di bawah ini...

Posting Komentar untuk "Rahasia di Balik Jeruji Seorang Narapidana Minta Bertemu Putrinya Sebelum Dieksekusi Mati…"