Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Terlambat Ujian Demi Selamatkan Sang Direktur Yang Pingsan


Rizky Saputra, seorang mahasiswa tingkat akhir di Universitas Indonesia (UI), sedang mengayuh sepedanya dengan cepat di jalanan Jakarta.

Hari itu adalah ujian paling penting dalam masa kuliahnya — ujian yang menentukan apakah ia bisa lulus atau tidak.

Lalu lintas padat di sekelilingnya, awan gelap mulai berkumpul di langit, dan ia hanya memiliki 15 menit sebelum gerbang kampus ditutup.

Saat ia melaju di sebuah jalan utama, sesuatu menarik perhatiannya.

Seorang pria paruh baya mengenakan jas terlihat tergeletak tak sadarkan diri di trotoar dekat halte bus.

Orang-orang yang lewat hanya melirik sekilas lalu berjalan pergi.

Rizky ragu sejenak.

Ujian… masa depannya… semuanya dipertaruhkan.

Namun hatinya tidak mengizinkannya untuk pergi begitu saja.

Ia mengerem mendadak, menjatuhkan sepedanya, lalu berlari menghampiri pria itu.

Wajah pria tersebut pucat, napasnya sangat lemah, jelas dalam keadaan tidak sadar.

Rizky segera memeriksa denyut nadinya, kemudian menelepon ambulans, sambil berteriak meminta bantuan orang-orang di sekitar.

Sambil menunggu, ia memberikan pertolongan pertama sebisanya — dari apa yang pernah ia pelajari di pelatihan keselamatan wajib di kampus.

Beberapa menit yang menegangkan berlalu.

Perlahan, pria itu mulai menunjukkan tanda-tanda sadar.

Saat ambulans akhirnya datang, tangan Rizky gemetar.

Sebagian karena adrenalin.

Sebagian lagi karena ia menyadari apa yang baru saja ia korbankan.

Ia menatap ponselnya.

Ia sudah terlambat.

Tidak mungkin lagi mengejar ujian. Gerbang pasti sudah ditutup, lembar ujian sudah dibagikan, dan kelulusannya kini berada di ujung tanduk.

Ketika para petugas medis mengangkat pria itu ke atas tandu, pria tersebut menggenggam tangan Rizky dengan lemah dan berbisik:

“Terima kasih… kamu sudah menyelamatkan hidup saya. Saya tidak akan melupakan ini.”

Rizky hanya tersenyum tipis.

Ia bahkan tidak memikirkan ucapan terima kasih itu.

Yang ada di pikirannya hanya masa depan yang mungkin baru saja ia kehilangan.Ia mengayuh sepeda kembali ke kosnya dalam diam.

Hujan mulai turun.

Hatinya terasa berat dan oleh rasa kecewa.

Teman-temannya mencoba menghiburnya, tetapi ia hampir tidak bisa berbicara.

Malam itu ia terbaring tanpa tidur, membayangkan masa depan yang mungkin tidak akan pernah ia miliki.

Namun beberapa hari kemudian…Sebuah amplop dengan nama Rizky Saputra tiba di kamar kosnya. Bersambung....



Posting Komentar untuk "Terlambat Ujian Demi Selamatkan Sang Direktur Yang Pingsan"