Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Detik Menegangkan Pelarian Jenderal Besar A.H. Nasution dari Kepungan G30S.


Dalam catatan sejarah Indonesia, malam 1 Oktober 1965 merupakan lembaran paling kelam sekaligus heroik bagi Abdul Haris Nasution. 

Sang Jenderal Besar yang merupakan tokoh kunci militer Indonesia saat itu, menjadi target utama dalam operasi penculikan yang dilakukan oleh pasukan yang menamakan diri Gerakan 30 September (G30S). 

Peristiwa di kediamannya di Jalan Teuku Umar No. 40, Jakarta, menjadi saksi bisu sebuah pelarian dramatis yang mengubah jalannya sejarah bangsa.

Awal Karir: Strategi Gerilya yang Diuji di Rumah Sendiri

Lahir di Kotanopan, Sumatera Utara dan sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Raja Bukittinggi, Pak Nas adalah pakar perang gerilya. 

Namun, pada dini hari pukul 04.00 itu, ia tidak sedang berada di medan perang, melainkan di kamar tidurnya bersama istrinya, Johana Sunarti.

 Ketajaman insting seorang prajurit teruji ketika Nyonya Nasution mendengar pintu dibuka paksa.

 Saat pintu dibuka, rentetan tembakan diarahkan kepada sang jenderal. Dalam situasi terjepit, Pak Nas berhasil melarikan diri ke halaman samping dan memanjat tembok setinggi dua meter yang membatasi rumahnya dengan Kedutaan Besar Irak.

Titik Rendah: Tragedi yang Membayar Kebebasan

Pelarian Pak Nas harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Meskipun ia berhasil lolos dengan pergelangan kaki yang patah setelah melompat pagar, rumahnya menjadi medan duka. 

Putri bungsunya yang baru berusia lima tahun, Ade Irma Suryani, tertembak saat mencoba dilindungi oleh adik Pak Nas. Irma menghembuskan napas terakhirnya lima hari kemudian. 

Selain itu, ajudannya yang setia, Lettu Pierre Tendean, ditangkap oleh pasukan penculik karena dikira sebagai Nasution dalam kegelapan malam.

Titik Balik: Mengambil Alih Komando dari Balik Bayang-Bayang

Meski dalam kondisi terluka dan bersembunyi di halaman tetangga hingga pagi hari, semangat juang Pak Nas tidak padam.

 Setelah berhasil mencapai Departemen Pertahanan dan Keamanan, ia segera mengirim pesan kepada Soeharto di markas Kostrad.

 Dari sana, ia mulai memberikan instruksi strategis untuk mengamankan Jakarta, menghubungi pimpinan angkatan lain, dan memerintahkan penumpasan gerakan tersebut.

 Keberhasilan Pak Nas lolos dari penculikan menjadi faktor penentu runtuhnya kekuatan G30S dalam waktu singkat.

Warisan Sang Jenderal yang Tak Tergoyahkan

Hingga akhir hayatnya pada 6 September 2000, Jenderal Besar A.H. Nasution tetap dikenal sebagai pilar stabilitas negara.

 Peristiwa 1965 bukan hanya tentang pelarian fisik, tetapi tentang keteguhan prinsip seorang prajurit yang menolak menyerah pada keadaan.

 Jenazahnya kini bersemayam di Taman Makam Pahlawan Kalibata, meninggalkan warisan berupa doktrin pertahanan dan kisah keberanian yang tak akan lekang oleh waktu.

Sumber: Wikipedia.

Posting Komentar untuk "Detik Menegangkan Pelarian Jenderal Besar A.H. Nasution dari Kepungan G30S."