Wahai kaum muslimin, jangan sampai kita tertipu oleh propaganda zaman.
Dalam Islam, loyalitas (wala’) adalah perkara aqidah. Allah sudah memberikan garis tegas: siapa yang menjadi pelindung, penolong, dan sandaran kekuatan umat.
Dalil dari Al-Qur’an:
Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin (pelindung); sebagian mereka adalah pelindung bagi sebagian yang lain.
Barang siapa di antara kamu mengambil mereka sebagai pelindung, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka.”
(QS. Al-Ma'idah: 51)
Dan juga:
“Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai wali (pelindung) dengan meninggalkan orang-orang beriman...”
(QS. Ali ‘Imran: 28)
Makna penting: Yang dilarang bukan sekadar berinteraksi, tetapi menjadikan mereka sebagai tempat bergantung, pelindung, dan kekuatan utama, apalagi sampai mengorbankan kepentingan umat Islam.
Bagaimana tuntunan Rasulullah ๏ทบ?
Rasulullah ๏ทบ memang pernah bermuamalah (berinteraksi) dengan non-muslim:
Berdagang dengan orang Yahudi Membuat perjanjian (seperti Piagam Madinah)
Bahkan pernah meminjam perlengkapan perang.
Namun Beliau TIDAK pernah menjadikan orang kafir sebagai pelindung utama.
Dalam hadits disebutkan:
“Kami tidak meminta bantuan kepada orang musyrik.”
(HR. Muslim)
Ini menunjukkan prinsip kehati-hatian dalam urusan kekuatan dan perlindungan umat.
Boleh:Berinteraksi Bekerja sama dalam urusan dunia yang tidak merugikan Islam
Tidak boleh:
Menjadikan mereka sebagai pelindung utama. Menggantungkan kekuatan umat kepada mereka. Lebih loyal kepada mereka daripada kaum muslimin
Kalau hari ini ada yang membela kekuatan kafir, bergantung pada mereka, bahkan mengorbankan umat Islam demi mereka…
Maka itu bukan jalan Rasulullah
Tapi jalan yang sudah diperingatkan dalam Al-Qur’an..!!!
#savepalestine

Posting Komentar untuk "Jangan Salah Arah, Menjadikan Orang Kafir Sebagai Pelindung Bukan Tuntunan Rasulullah"