Moussa Ibrahim mengingatkan Iran agar tidak mengulangi pengalaman Libya dalam mempercayai Amerika Serikat.
Ia merujuk pada kebijakan Libya pada awal 2000-an yang menghentikan program senjata pemusnah massal dan membuka hubungan dengan Barat.
Langkah tersebut sempat memperbaiki hubungan internasional, tetapi pada akhirnya berujung pada runtuhnya negara setelah intervensi militer pada 2011 yang mengguncang stabilitas nasional.
Dalam wawancara dengan RT, Ibrahim menilai bahwa Iran dan Amerika Serikat memiliki tujuan berbeda dalam perundingan.
Ia berpendapat Iran benar-benar ingin mencapai solusi damai, sementara Washington lebih berfokus pada pengendalian eskalasi konflik.
Menurutnya, Amerika justru memperoleh keuntungan dari kawasan yang terus bergejolak, karena kondisi tersebut membuat negara-negara regional tetap terpecah dan lebih mudah dikendalikan.
Ia juga menegaskan bahwa Amerika berupaya menjaga konflik tetap berada pada tingkat tertentu, sambil memanfaatkan tekanan ekonomi, politik, dan diplomatik terhadap Iran serta sekutunya.
Karena itu, ia menyarankan Teheran agar bersikap waspada, tidak mudah percaya pada tawaran damai, serta tetap menjaga kedaulatan dan kekuatan pertahanan.
Ibrahim menutup dengan mengingatkan bahwa Libya pernah stabil, namun harus membayar mahal setelah membuka diri, sehingga pengalamannya patut dijadikan pelajaran.
#portalmiliter

Posting Komentar untuk "Mantan Menteri Gaddafi Peringatkan Iran Untuk Tidak Mengulangi Kesalahan Libya Yang Percayai AS"