Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Jendral Bintang Tiga Berani Membongkar Skandal Korupsi Ratusan Miliar di Tubuh Kesatuannya


Berani membongkar skandal korupsi ratusan miliar di tubuh kesatuannya, jenderal bintang tiga reformis ini justru meninggal secara mendadak dan penuh teka-teki.

Sejarah militer Indonesia pernah melahirkan seorang perwira tinggi berani yang memilih menjadi arus pembaru di tengah tatanan masa lalu demi sebuah profesionalisme pertahanan.

Pria kelahiran Bandung pada 17 Oktober 1951 ini menancapkan fondasi kepemimpinannya dengan menyelesaikan pendidikan di AKABRI pada tahun 1973.

Di luar pendidikan komando, ia juga dikenal sebagai perwira yang cerdas dengan menempuh studi khusus ke universitas bergengsi dunia di John F. Kennedy School of Government, Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Langkah awal kariernya diwarnai oleh dedikasi tinggi pada staf perencanaan hingga ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Direktorat Perencanaan di Markas Angkatan Bersenjata Indonesia.

Titik balik hidupnya mulai mengemuka pasca-pengunduran diri Presiden Soeharto, di mana ia muncul secara berani menyerukan agar militer Indonesia menghentikan keterlibatan mereka dalam urusan politik praktis.

Gagasan radikalnya untuk membangun militer yang bersih dan profesional membuatnya sangat populer di kalangan prajurit biasa, meskipun di sisi lain ia mulai menciptakan musuh di kalangan elite atas.

Puncak karier komandonya tercapai pada tahun 2000 ketika Presiden Gus Dur secara khusus menunjuk dirinya untuk memegang tongkat komando sebagai Panglima Kostrad ke-25.

Selama menjabat sebagai Pangkostrad, ia dengan lantang mendukung kebijakan reformasi presiden dan mulai bergerak membersihkan institusi yang dipimpinnya dari sejumlah dugaan kasus korupsi.

Akibat langkah beraninya mengungkap skandal korupsi senilai 189 miliar rupiah di Yayasan Dharma Putra Kostrad, ia harus menghadapi konsekuensi berat berupa pemberhentian dari jabatannya setelah beberapa bulan memimpin.

Meskipun jalannya penuh dengan hambatan politik internal, reputasi dan integritasnya membuat jabatan sebagai Panglima TNI sempat ditawarkan kepadanya pada tanggal 23 Juli 2001 menurut penuturan sang paman.

Di samping ketegasannya berbaju loreng, ia memiliki kontribusi besar bagi dunia olahraga tanah air saat sukses menjadi manajer yang membawa tim Piala Thomas Indonesia memenangkan piala pada tahun 1998.

Prestasi non-militer tersebut bahkan membuatnya dianugerahi Medali Satyalancana Kebudayaan oleh Presiden B.J. Habibie sebagai bentuk penghormatan negara atas dedikasi luar biasanya.

Langkah perjuangan sang perwira reformis ini terhenti secara mendadak ketika ia dinyatakan meninggal dunia saat dibawa ke Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta pada 30 Agustus 2001 dalam usia 49 tahun.

Kepergiannya yang begitu cepat tanpa proses otopsi memicu spekulasi mendalam di tengah masyarakat bahwa sang jenderal kemungkinan sengaja dibunuh akibat sikap vokalnya dalam membongkar skandal korupsi besar.

Kini ia telah beristirahat dengan tenang di Taman Makam Pahlawan Kalibata, meninggalkan warisan pemikiran tentang pentingnya kejujuran dan profesionalisme bagi setiap prajurit yang mengabdi pada ibu pertiwi.

Sumber: Wikipedia - "Agus Wirahadikusumah"

#AgusWirahadikusumah #Pangkostrad #ReformasiTNI

Posting Komentar untuk "Jendral Bintang Tiga Berani Membongkar Skandal Korupsi Ratusan Miliar di Tubuh Kesatuannya"