Pasang badan amankan krisis berdarah 1998 hingga tunjukkan sikap ksatria jalani putusan hukum, begini profil mendalam sang jenderal baret hijau kelahiran Sukabumi.
Mengendalikan stabilitas keamanan ibu kota di tengah pusaran krisis politik nasional serta memimpin kesiapan tempur pasukan cadangan strategis angkatan darat membutuhkan kematangan taktik infanteri, ketegasan insting komando, dan mentalitas baja yang ditempa kuat sejak dari bawah.
Dedikasi kepemimpinan yang sangat berani dan penuh warna perjuangan itulah yang membingkai utuh seluruh perjalanan hidup Letnan Jenderal TNI (Purn.) Djaja Suparman, seorang tokoh militer gergasi korps infanteri baret hijau.
Mantan Panglima Kostrad, sekaligus mantan Inspektur Jenderal TNI yang lahir di Sukabumi, Jawa Barat, pada tanggal 11 Desember 1949.
Ia menapaki dunia keprajuritan benar-benar dari tingkat bawah setelah resmi merampungkan pendidikan pembentukan perwira pada jajaran AKABRI pada tahun 1972.
Langkah awalnya di medan penugasan dirintis dari posisi bawah ketika dipercaya memegang jabatan sebagai Komandan Peleton (Danton) di wilayah teritorial Blitar, Jawa Timur.
Ketangguhannya dalam mengolah taktik pertempuran darat membuat karier lapangannya merangkak naik dari bawah hingga dipercaya memimpin satuan andalan sebagai Komandan Yonif 507/Sikatan di Surabaya serta Komandan Brigif 13/Galuh Kostrad di Tasikmalaya.
Kecakapannya dalam membina mental taruna muda membawanya ditunjuk menjadi Komandan Resimen Taruna Akmil di Magelang, sebelum akhirnya pecah bintang menjadi Brigadir Jenderal dengan menduduki kursi Kepala Staf Kodam II/Sriwijaya.
Ia mengalami sebuah titik balik kehidupan dan karier puncak militer yang sangat masif ketika negara memasuki fase krusial transisi reformasi pada rentang tahun 1997 hingga 1998.
Fase titik balik tersebut menempatkan dirinya memegang kendali keamanan wilayah yang sangat vital dari bawah saat dilantik menjadi Panglima Kodam V/Brawijaya dan berlanjut memimpin Kodam Jayakarta di ibu kota negara.
Reputasi komandonya yang sangat kuat mengantarkan jenderal bintang tiga ini meraih puncak karier tertinggi pada November 1999 ketika resmi ditunjuk menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) ke-24.
Setelah menyelesaikan masa pengabdian komando tempurnya, suami dari pakar hubungan internasional Connie Bakrie ini terus mencurahkan energinya dari bawah sebagai Komandan Sesko TNI hingga pensiun dengan jabatan terakhir Inspektur Jenderal (Irjen) TNI pada tahun 2006.
Perjalanan purnatugasnya sempat diterpa badai hukum ketika ia divonis oleh Pengadilan Militer terkait kasus administrasi dana kompensasi tukar guling lahan Kodam di Dukuh Menanggal yang digunakannya demi membiayai operasi pengamanan krisis 1998 serta merenovasi markas satuan bawah.
Meskipun sempat melayangkan surat terbuka demi memperjuangkan rasa keadilan terkait status dana bantuan natura tersebut, ia menunjukkan sikap ksatria sebagai seorang keprajuritan sejati dengan secara sukarela melaksanakan putusan pengadilan ke Lapas Sukamiskin Bandung pada tanggal 13 Oktober 2022.
Perjalanan hidup dari seorang perwira pertama arus bawah yang berhasil meraih titik balik besar menjabat Panglima Kostrad hingga keteguhannya menghadapi ujian hukum di masa tua ini memberikan pelajaran berharga .
Bahwa dinamika penugasan dan keberanian mengambil keputusan di masa kritis akan selalu mencatatkan nama seorang prajurit dalam lembaran sejarah yang tidak terlupakan.
Sumber: Wikipedia - "Djaja Suparman"
#DjajaSuparman #Pangkostrad #PangdamJaya

Posting Komentar untuk "Sang Jendral Pasang Badan Amankan Krisis Berdarah 1998' Tunjukkan Sikap Ksatria Jalani Putusan Hukum"