Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Kisah Sepasang Kekasih Yang Minta Tanggung Jawab Berakhir Tragis, Mengenaskan Ditengah Kebun Tebu


Kisah Cinta sepasang kekasih yang sulit terlupakan meskipun kejadian t
ahun 2016 menjadi salah satu kisah kriminal yang mengguncang Sulawesi Selatan. 

Di balik seragam polisi yang identik dengan perlindungan dan ketertiban, tersimpan sebuah rahasia kelam yang berakhir tragis di tengah sunyinya kebun tebu di Kabupaten Bone.

Tokoh utama dalam kisah ini adalah Bripda Muhlis, polisi muda berusia 24 tahun yang berdinas di fungsi Sabhara Polda Sulsel. Di mata keluarga dan masyarakat kampung halamannya.

Muhlis dikenal sebagai sosok mapan dengan masa depan cerah. Ia bahkan telah bertunangan dengan seorang perempuan berinisial AN, sesama tenaga kesehatan. 

Keluarga kedua belah pihak sudah menentukan tanggal acara Mappenre Doi atau antar uang belanja pada 20 Agustus 2016.

Semua terlihat sempurna.

Namun di balik kehidupan yang tampak rapi itu, Muhlis menyimpan hubungan lain di Makassar. 

Di kota tempat ia bertugas, ia menjalin asmara dengan seorang wanita muda bernama Harmawati alias Arma, 23 tahun, lulusan Akademi Kebidanan Syekh Yusuf asal Konawe Selatan.

Arma mencintai Muhlis sepenuh hati. Ia percaya hubungan mereka akan berakhir di pelaminan. Tetapi tanpa disadarinya, dirinya hanyalah bagian rahasia dari kehidupan ganda seorang polisi muda yang takut kehilangan citra dan masa depannya.

Kabar yang Mengubah Segalanya

Awal Agustus 2016 menjadi awal petaka.

Hubungan yang selama ini berjalan manis berubah tegang ketika Arma mengaku dirinya terlambat datang bulan dan diduga hamil. Bagi Arma, kabar itu menjadi alasan kuat agar Muhlis segera bertanggung jawab dan menikahinya.

Namun bagi Muhlis, kabar itu justru menjadi ancaman besar.

Tanggal pertunangannya semakin dekat. Nama baik keluarga, karier kepolisian, dan rencana pernikahannya terancam runtuh dalam sekejap.

Arma mulai lelah dengan janji-janji yang terus diulur. Ia memberi ultimatum keras kepada Muhlis. Jika tidak ada tanggung jawab, ia mengaku siap datang langsung ke rumah orang tua Muhlis di Bone untuk membongkar semuanya.

Ancaman itu membuat Muhlis panik.

Ia mulai dihantui bayangan kehancuran hidup yang selama ini ia bangun. Dalam tekanan dan ketakutan, pikirannya perlahan berubah gelap.

Perjalanan yang Tidak Pernah Kembali

Untuk meredakan situasi, Muhlis menyusun sebuah rencana.

Ia berpura-pura setuju membawa Arma menemui orang tuanya di Bone sebagai bentuk keseriusan. Pada Kamis, 11 Agustus 2016, Muhlis menjemput Arma di kosnya di Jalan Landak Baru, Makassar.

Mereka berangkat menggunakan sepeda motor menuju Kabupaten Bone.

Bagi Arma, perjalanan panjang itu mungkin terasa seperti awal kehidupan baru. Ia percaya lelaki yang dicintainya akhirnya akan bertanggung jawab.

Namun tanpa ia sadari, perjalanan itu justru menjadi langkah terakhir dalam hidupnya.

Menjelang sore, mereka tiba di sebuah lokasi sepi di Dusun Tappareng, Desa Lappa Bosse, Kecamatan Kajuara, Bone. Daerah itu jauh dari permukiman dan dikelilingi tanaman tebu yang tinggi serta sunyi.

Di tempat itulah semuanya berubah.

>>  Sunyi di Tengah Kebun Tebu

Muhlis menghentikan motornya di tengah area perkebunan.

Percakapan mereka berubah menjadi pertengkaran. Arma kembali menuntut kepastian. Ia mendesak Muhlis untuk memenuhi janji dan bertanggung jawab atas hubungan mereka.

Tekanan demi tekanan membuat Muhlis kehilangan kendali.

Dalam kepanikan dan emosi yang memuncak, polisi muda itu mendorong tubuh mungil Arma hingga terjatuh.

 Ia kemudian menjerat leher korban hingga kehabisan napas, baik dengan tangan maupun menggunakan benda yang berada di sekitar korban, sampai nyawa Arma benar-benar terhenti.

ia melakukan tindakan fatal yang mengakhiri nyawa Arma di lokasi itu juga.

Setelah korban tidak lagi bergerak, tubuhnya diseret ke area yang lebih tertutup di antara rimbunan tebu agar tidak mudah ditemukan orang. Muhlis kemudian mengambil barang milik korban, termasuk telepon genggamnya, sebelum meninggalkan lokasi.

Malam harinya, ia pulang ke rumah keluarganya di Bone dan menjalani aktivitas seperti biasa.

Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

>>  Bau Busuk Membongkar Rahasia

Empat hari kemudian, pada Senin, 15 Agustus 2016, seorang petani bernama Rustam sedang menggembala sapi di sekitar kebun tebu tersebut.

Saat itulah ia mencium aroma menyengat dari balik tanaman tebu. Karena penasaran, ia menelusuri sumber bau itu.

Yang ditemukannya membuatnya terkejut.

Sesosok mayat perempuan ditemukan dalam kondisi mengenaskan di tengah kebun yang sepi. Penemuan itu segera dilaporkan kepada pihak berwajib.

Polisi melakukan penyelidikan cepat. Barang bukti dan jejak komunikasi korban akhirnya mengarah kepada satu nama: Bripda Muhlis.

Merasa tak lagi bisa menghindar, Muhlis menyerahkan diri ke Polda Sulsel pada 16 Agustus 2016. Di hadapan penyidik, seluruh kebohongan yang selama ini ia bangun runtuh.

Ia mengakui perbuatannya dilakukan karena takut hubungan gelapnya terbongkar menjelang pernikahan.

Vonis yang Memicu Kemarahan

Kasus ini kemudian bergulir di Pengadilan Negeri Watampone dan menjadi perhatian publik.

Jaksa menuntut umum yang hanya menjerat Muhlis dengan hukuman 12 tahun penjara. Namun putusan hakim pada April 2017 justru mengejutkan banyak orang.

Muhlis hanya divonis 4 tahun penjara karena perbuatannya dianggap lebih mengarah pada penganiayaan yang menyebabkan kematian, bukan pembunuhan berencana.

Vonis itu memicu kemarahan masyarakat.

Banyak pihak menilai hukuman tersebut terlalu ringan dibanding nyawa seorang perempuan muda yang hilang secara tragis.

 Setelah proses banding, Pengadilan Tinggi Makassar akhirnya memperberat hukuman menjadi 6 tahun penjara.

Karier Muhlis sebagai anggota polisi pun berakhir dengan pemecatan tidak hormat atau PTDH.

Pernikahan yang telah direncanakan hancur.

Namun kerugian terbesar tetap berada di pihak Harmawati. 

Seorang bidan muda yang kehilangan masa depan, keluarga, dan hidupnya di tengah sunyinya kebun tebu, akibat hubungan yang dipenuhi kebohongan dan ketakutan akan aib.(*)

Posting Komentar untuk "Kisah Sepasang Kekasih Yang Minta Tanggung Jawab Berakhir Tragis, Mengenaskan Ditengah Kebun Tebu"