BAGHDAD / WASHINGTON — Pasukan darat AS sudah tiada di Irak — tapi perang belum usai, dan ancaman baru justru lahir dari kekosongan yang ditinggalkan.
The Wall Street Journal mengungkapkan: seluruh elemen tempur AS kini bermarkas di Yordania, tetap siap menyerang dari udara — namun tak lagi menginjak tanah Irak.
Di dalam negeri, milisi bersenjata berjumlah ratusan ribu orang justru diberi waktu lebih lama untuk menyerahkan senjata.
AS mundur "bukan pergi, hanya mengubah posisi"
Pejabat Pentagon menegaskan:
"Kami tetap berhak meluncurkan serangan udara ke Irak jika aset atau warga kami terancam.
Tapi untuk urusan dalam negeri penumpasan milisi maupun sisa ISIS kami hanya turun tangan jika diminta resmi dan jika ancamannya meluas ke luar perbatasan."
Artinya: kendali atas keamanan Irak sepenuhnya diserahkan kepada Baghdad di saat pemerintah sendiri terbelah dan dipengaruhi kelompok bersenjata.
Batas waktu dilonggarkan — bukti tak berani melucuti milisi?
Milisi pro-Iran diperkirakan berjumlah lebih dari 200.000 personel. Alih-alih dibubarkan, pemerintah Irak justru memperpanjang batas penyerahan senjata hingga Juni 2027.
Pengamat menilai ini bukan kompromi cerdas — melainkan pengakuan tak berdaya:
- Milisi punya pengaruh politik kuat di jajaran pemerintahan
- Membubarkan mereka berarti memecah belah kekuasaan Baghdad
- Sebagian senjata berat justru disembunyikan, bukan diserahkan
Separuh diserahkan, separuh dibawa kabur — serangan ke Arab Saudi diduga dari Irak
Salah satu kelompok besar hanya menyerahkan sebagian persenjataan. Sisanya termasuk senjata berat dan sistem drone — diduga dibawa pergi oleh kelompok yang memisahkan diri.
Intelijen Irak mengaitkan kelompok baru ini dengan serangan drone yang menghantam fasilitas minyak Aramco di Arab Saudi belakangan ini.
Ancaman datang dari tanah berdaulat — AS tak bisa masuk langsung
Inilah bahaya terbesarnya:
- Serangan ke negara tetangga diluncurkan dari wilayah Irak
- Irak berdaulat → AS tak bisa masuk pasukan darat tanpa izin
- Pilihan tinggal: serangan udara jarak jauh yang
berisiko memperluas konflik — atau membiarkan ancaman tumbuh
- Negara Teluk berada di posisi paling rentan sejak bertahun-tahun
Siapa yang sebenarnya memerintah Irak sekarang?
- Pemerintah resmi — tapi dipengaruhi milisi
- Milisi — punya senjata, punya pasukan, punya pengaruh politik
- AS — mengawasi dari jauh, tapi tak bisa mengontrol apa yang terjadi di darat
- Iran — pengaruhnya makin tak terbendung tanpa penyeimbang asing
Menurut kalian: Apakah penarikan AS langkah yang benar atau justru membuka pintu kekacauan?
Mengapa pemerintah Irak melindungi milisi yang menyembunyikan senjata? Dan jika serangan terus terjadi dari Irak apakah negara berdaulat boleh dijadikan pangkalan serangan ke negara lain?
Sumber: The Wall Street Journal, The Washington Post, 2 Oktober 2026

Posting Komentar untuk "AS Memilih " Kabur" ke Yordania, Kini 200 ribu Pasukan Bersenjata Iran Jadi Momok Menakutkan"