Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Prof Armid: Dari Pondokan Tamalanrea Hingga Rektor UHO


Makassar Media Duta- Malam itu, 23 Agustus 2025, kabar duka menyebar cepat. Prof. Armid, Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, menghembuskan napas terakhir setelah diduga terkena serangan jantung.

Padahal, pagi harinya ia masih berdiri gagah di lapangan kampus, memimpin upacara Dies Natalis ke-44 UHO, tersenyum di depan mahasiswa, lalu ikut jalan santai. Tak ada tanda-tanda sakit. Namun malam datang membawa berita kehilangan yang tak disangka.


Bagi civitas akademika UHO, ini adalah kepergian seorang pemimpin yang baru saja mereka percayai. Bagi kawan-kawannya di Makassar, ini adalah kehilangan seorang sahabat lama, anak pondokan yang pernah hidup sederhana di Tamalanrea.

Dari Warung Dian ke Ruang Kuliah

Armid menapaki dunia kampus pada 1994, ketika ia diterima di Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Hasanuddin. 

Ia tinggal di pondokan sederhana tak jauh dari Warung Dian, warung makan yang menjadi semacam “kantin tak resmi” mahasiswa Tamalanrea.

Darwin Ismail, seniornya, masih mengingat sosok itu.“Dia angkatan 1994. Tinggalnya di pondokan dekat Warung Dian.

 Sederhana sekali. Waktu kuliah, dia lebih fokus di jurusan. Hari ini saya kaget dengar beritanya. Tidak ada tanda-tanda sakit. Berita ini mengagetkan,” ujarnya pelan.

Hari-hari Armid di pondokan penuh kesahajaan: dapur kecil untuk memasak mie instan, lampu belajar seadanya, halaman berdebu tempat mahasiswa bercakap hingga larut malam. Dari tempat sederhana itulah jejak panjangnya dimulai.

Tawa yang Tak Pernah Hilang

Wahyuddin Yunus, teman seangkatannya, mengenang Armid sebagai pribadi yang santai dan nyentrik.

“Kalau pergi kemping, dia selalu senang. Pernah ke Tanjung Bayam bareng. Dia suka main gitar, menyanyi, dan dalam obrolan lebih banyak ketawa,” kenangnya.

Armid bukanlah mahasiswa yang sibuk mengejar jabatan di organisasi. Ia lebih akrab dengan lingkaran kecil sahabat-sahabatnya, hadir bukan dengan ambisi, melainkan dengan tawa.

“Kalau kumpul, dia selalu membawa kebahagiaan tersendiri. Banyak yang terhibur dengan kehadirannya,” tambah Wahyuddin.

Ia hidup seperti mahasiswa kebanyakan: belajar, bercanda, berkemah, bermain gitar. Tak seorang pun menyangka, di balik keseharian yang santai itu, ia menyimpan tekad untuk menapaki jalan akademik yang panjang.

Dari Pondokan ke Kursi Rektor

Kisah hidup Armid adalah bukti bahwa kesederhanaan tidak pernah membatasi mimpi. Setelah menamatkan S1 Kimia di Unhas (1999), ia melanjutkan studi S2 di Universitas Gadjah Mada, lalu menempuh S2 lagi di University of the Ryukyus, Jepang.

Di kampus itu pula ia menyelesaikan studi doktoralnya (2008–2011), dengan fokus pada kimia kelautan. Sejak tahun 2000 ia mengabdi sebagai dosen di UHO.

 Langkahnya pelan tapi pasti: menjabat Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan dan Kerja Sama (2017–2025).Yang  dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Kimia Kelautan pada 2023.

Hingga akhirnya, Juni 2025, ia mengikuti pemilihan rektor. Suasana senat kala itu menegangkan: 74 suara diperebutkan, dan hasil akhir memperlihatkan dramatisnya perjalanan hidup Armid.

Dia terpilih hanya dengan selisih satu suara dari pesaing terdekatnya. Sebuah kemenangan tipis yang kemudian mengantarkannya pada pelantikan 1 Agustus 2025 sebagai Rektor UHO. Namun takdir hanya memberinya waktu 22 hari untuk duduk di kursi itu.

Kenangan dan Sunyi yang Tersisa

Bagi kawan-kawannya, kabar kematian itu terasa getir. Sosok yang dulu nyentrik dan penuh tawa justru pergi ketika kariernya baru mencapai puncak.

Saya agak kaget dia memilih jalan struktural kampus. jauh dari bayangan saya,” kata Wahyuddin. “Dulu tipikalnya santai, tapi ternyata prestasinya luar biasa. Dia jadi rektor, dan kita semua bangga. Tapi sekaligus kehilangan.

”Darwin menambahkan, “Yang saya ingat, dia anak pondokan yang hangat. Tidak ada kesan ambisi besar, tapi ternyata dia bisa sampai sejauh itu.

”Sabtu pagi, beberapa jam sebelum ajal menjemput, ia berdiri di lapangan kampus. Dalam perayaan Dies Natalis ke-44 UHO, ia menggunting pita dan melepas balon-balon warna-warni ke udara. 

Saat balon itu melayang, suaranya terdengar lantang: “Terbanglah ke angkasa!”Beberapa jam kemudian, ia sendiri pergi, seperti balon yang terlepas dari genggaman.

 Membawa mimpi, meninggalkan kenangan. Sejak malam itu, langit Kendari terasa lebih sepi.

Dan di Tamalanrea, tempat ia dulu meniti jejak, pondokan sederhana itu mungkin sudah berubah, Warung Dian pun tak seramai dulu. 

Namun bagi sahabat-sahabatnya, kenangan itu tetap hidup: Armid dengan gitarnya, Armid dengan tawanya, Armid yang sederhana.

Ia pergi sebagai rektor. Tetapi di hati kawan-kawannya, ia akan selalu dikenang sebagai Armid, anak pondokan Tamalanrea yang terlalu cepat pulang.(*)

Posting Komentar untuk "Prof Armid: Dari Pondokan Tamalanrea Hingga Rektor UHO"