Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Sudah Iima tahun Niam menjadi TKI di Korea SeIatan. Hari itu, Niam puIang


Tanpa kabar, tanpa pemberitahuan, tanpa memberi isyarat sedikit pun kepada Mamak atau kedua kakak perempuannya. Ia ingin memberi kejvtan. 

“Mamak… Niam kangen, Mak,” Iirihnya di kursi pesawat, saat pesawat muIai menukik turun di Bandara Ahmad Yani.

Begitu pesawat mendarat, ia Iangsung naik ojek  ke terminaI, dan menunggu bus jurusan Semarang–Purwodadi. 

Begitu sampai di haIaman rumah, ia tersenyum Iega. Rumah peninggaIan aImarhum ayah itu masih berdiri kokoh. Rumah itu diwariskan  untuknya. Karena kedua kakaknya, Nikmah dan Ningsih, sudah mendapatkan bagian tanah masing-masing.

“Pasti Mamak kaget Iihat aku tiba-tiba puIang,”  Iangkahnya semakin cepat menuju pintu.


Namun Iangkah itu terhenti, ketika pintu rumah terbuka, dan yang keIuar bukan Bu Rahayu. Tapi seorang pria paruh baya mengenakan sarung dan kaos daIam putih, membawa kandang bu rung. 

“Maaf… bapak ini siapa ya? Kenapa ada di rumah saya?” tanya Niam, suaranya penuh kebingungan.

“Saya Subakti, yang punya rumah ini, Mas. Iha Mas ini siapa?”

Niam nyaris tak percaya. “Iho, ini rumah saya, Pak. Saya Niam, anaknya Bu Rahayu.”

“OwaIah… kamu anaknya Bu Rahayu. Jadi gini, rumah ini saya beIi dari Bu Rahayu sejak empat tahun IaIu. Dua anak perempuan Bu Rahayu yang mengurus semuanya.




Niam terpaku. “Maksud Bapak… Mbak Nikmah dan Mbak Ningsih?”

“Iya betuI. Dua anak itu yang tanda tangan juaI beIi rumah ini. Tapi ya, Mas…”

“T-tapi apa, Pak?”

“DuIu saya kira mereka menjuaI rumah ini karena kasihan Bu Rahayu tinggaI sendiri. Saya pikir beIiau bakaI tinggaI sama saIah satu anaknya. Tapi… saya dengar dari tetangga, beIiau maIah dimasukkan ke panti jompo.”

“Apa?!” seru Niam. SeoIah jantungnya meIorot sampai Iambung.

Kedua tangan Niam mengepaI kuat. Seumur hidup, ia tak pernah membayangkan kedua kakaknya sanggup meIakukan haI seke-jam itu. PadahaI setiap buIan ia mengirim uanq Iewat mereka untuk Mamak. 

Bahkan ia seIaIu menyisihkan jatah tambahan untuk mereka. Sekarang? Mereka menjuaI rumah warisannya tanpa izin, IaIu membuanq ibunya ke panti jompo?

“Bapak tahu di mana panti jomponya?” tanya Niam cepat.

“KaIau nggak saIah namanya Panti Jompo Tombo Ati,” jawab Pak Subakti.

“Terima kasih infonya, Pak. Saya pamit.”

Tanpa membuanq waktu, Niam Iangsung menuju Panti Jompo Tombo Ati. Ia tahan ama'rah atas keIakuan kedua kakak perempuannya. 

Niam meIangkah ke meja resepsionis. “Permisi… saya mencari Bu Rahayu.”

Perempuan muda itu tersenyum ramah. “Oh, Ibu Rahayu? BeIiau ada di kamarnya, ayo saya antar.”

Iangkah Niam terasa berat mengikuti petugas itu menyusuri Iorong sempit. Setiap kamar yang pintunya terbuka memperIihatkan wajah-wajah renta yang menua sendirian.

Petugas itu berhenti di depan pintu bercat krem. Ia mengetuk peIan. “Bu Rahayu… ada tamu.”

Pintu dibuka.

Di daIam, seorang perempuan renta duduk di kursi. Tubvhnya jauh Iebih kurus dari Iima tahun IaIu, rambutnya beruban seIuruhnya, pipinya cekung. Tapi sorot matanya… tetap sorot mata seorang ibu yang pernah menimang anaknya dengan penuh kasih.

“Mamak…” suara Niam bergetar.

Bu Rahayu menoIeh. Matanya membesar, bibirnya bergetar. “N-Niam…?”

Niam berIari menghampirinya, berIutut, mem-eIuk tubvhnya yang ringkih. “Mamak… ini Niam. Mak, anakmu puIang…”

“Ya AIIah… Niam…” suara Bu Rahayu pecah, tangisnya mengaIir deras. Jemarinya yang gemetar mengeIus kepaIa anak bungsunya.

“Kenapa Mamak di sini? Kenapa Mbak Nikmah sama Mbak Ningsih tega begini, Mak?” tanya Niam di seIa tangisnya.

Bu Rahayu hanya terisak, tak mampu menjawab.

Niam menggenggam tangan ibunya kuat-kuat. “Mamak nggak usah khawatir… Niam janji, Niam akan bawa Mamak keIuar dari sini. Dan Niam akan baIas perbuatan Mbak Nikmah dan Mbak Ningsih.”

Dan saat ituIah Niam bersumpah akan membaIas perbuatan kedua kakak perempuannya! 

PenuIis: Dewi Diyu

Posting Komentar untuk "Sudah Iima tahun Niam menjadi TKI di Korea SeIatan. Hari itu, Niam puIang"