Ketika suara rakyat dibungkam, alam yang akhirnya berteriak. Dan malam itu… Indonesia mendengar semuanya.
Di balik gemerlap kota dan tepuk tangan palsu para pejabat, ada tiga retakan besar yang tak lagi bisa ditutup bedak pencitraan.
Retakan pertama:
Seorang pejabat tinggi berani berdiri, membuka berkas tebal yang selama ini dipeluk oleh para penguasa bayangan.
Tentang proyek raksasa yang katanya membawa kemajuan, tapi justru yang terjadi sebaliknya meninggalkan tumpukan hutan dan pertanyaan:
“Siapa yang sebenarnya menikmati, dan siapa yang harus membayar?”
Retakan kedua:
Di sudut lain negeri, seorang penjaga pertahanan membongkar sebuah kisah tentang bangunan megah yang berdiri tanpa izin langit dan bumi.
Bandara gelap… terminal bisu yang tak ada di peta pemerintah.
Seakan-akan ada negeri dalam negeri, kekuasaan dalam kekuasaan.
Retakan ketiga:
Ketika manusia diam, alam tidak.
Banjir bandang menggerus tanah, menyapu pohon, rumah, dan mimpi.
Dan dari lumpur itu, terkuak luka lama—
tentang hutan yang disayat diam-diam oleh tangan-tangan yang haus kuasa dan uang.
Dan kini…
rakyat mulai menghubungkan semuanya,
helai demi helai kebenaran yang dulu disembunyikan dalam gelap.
Mereka bangkit.
Mereka bersuara.
Mereka menuntut yang selama ini dirampas:
keadilan.
Sepuluh tahun keheningan,
sepuluh tahun kesabaran,
sepuluh tahun kedzaliman yang perlahan terkuak satu per satu.
Dan di tengah hiruk-pikuk itu, suara rakyat menggema:
“Kami tidak menuntut lebih — hanya kebenaran.
Dan kebenaran itu… akhirnya pulang.”

Posting Komentar untuk "Bandara Gelap… Terminal Bisu Tak Ada di Peta Pemerintah"