Ia masih sangat kecil…
tapi hari itu ia harus melihat hal yang terlalu besar untuk hatinya.
Di depan matanya, ayahnya diamankan warga.Suasana tegang. Orang-orang berkerumun.Sementara ia hanya bisa berdiri,menangis tanpa tahu harus berbuat apa.
Tangannya gemetar. Matanya tak lepas dari wajah ayahnya. Bukan marah…hanya takut kehilangan.
“Pak… jangan…”
suara itu keluar pelan, hampir tak terdengar.
Bukan membenarkan keadaan, hanya jeritan seorang anak yang tak siap melihat ayahnya berada di titik terendah hidupnya.
Ia tahu hidup mereka tak mudah. Ia tahu ayahnya bukan orang sempurna.
Tapi ia juga tahu,itu adalah ayah yang setiap malam ia tunggu pulang.Di tengah kerumunan orang dewasa,
hanya anak itu yang berdiri paling setia.
Hari itu,seorang anak belajar pelajaran paling menyakitkan:bahwa kesulitan hidup bisa menjatuhkan siapa saja,dan luka orang dewasa
sering kali diwariskan ke hati anak-anak.
Ya Allah…
lindungilah anak ini.
Jangan biarkan masa kecilnya tumbuh dengan rasa takut dan malu.

Posting Komentar untuk "Bukan Marah… Hanya Takut Kehilangan Aa Ayahnya."