Nama seorang pemimpin seringkali membawa doa, namun bagi Laksamana Madya TNI (Purn) Dr. Angkasa Dipua, namanya adalah sebuah potongan sejarah.
Mantan Inspektur Jenderal (Irjen) TNI ini bukan sekadar purnawirawan jenderal bintang tiga biasa; ia adalah seorang ahli intelijen laut yang memiliki kedalaman intelektual luar biasa dan akar sejarah keluarga yang kental dengan perjuangan kemerdekaan.
Nama yang Bergema dari Udara PDRI
Kisah unik di balik nama "Angkasa Dipua" bermula dari desa Pua Data, Lima Puluh Kota, saat masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Ayahnya, Zainul Kian, adalah seorang pejuang yang setia mendengarkan siaran radio PDRI yang saat itu mengudara dari kampung mereka.
Setiap kali penyiar mengucapkan kalimat ikonik "Angkasa di Pua...", sang ayah terinspirasi. Kalimat yang menunjukkan kedaulatan udara Republik di tanah Pua Data itu akhirnya disematkan kepada putranya.
Lahir di Padang dan besar di lingkungan disiplin, Angkasa muda juga dikenal sebagai pesilat terbaik di Perguruan Pan Bat Bu asuhan Makmur Hendrik di Bukittinggi.
Ahli Strategi dan Intelijen Berdarah Dingin
Lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) 1988 ini menapaki karier militer yang sangat cemerlang di jalur intelijen.
Sebelum mencapai puncak karier sebagai Irjen TNI dan Asintel Panglima TNI, Angkasa telah mengemban berbagai posisi strategis, mulai dari perairan Surabaya hingga menjadi Atase Pertahanan di Hanoi, Vietnam.
Keahliannya dalam memetakan keamanan wilayah laut menjadikannya sosok kunci dalam memperkuat pertahanan maritim Indonesia.
Ia dikenal sebagai perwira yang tidak hanya cakap di lapangan, tetapi juga memiliki ketajaman analisis dalam mengamankan kedaulatan NKRI.
Jenderal Berpredikat Summa Cum Laude
Di balik seragam militernya, Angkasa Dipua adalah seorang akademisi yang haus ilmu. Ia membuktikan bahwa tugas negara bukan penghalang untuk meraih prestasi tertinggi di dunia pendidikan.
Pada tahun 2022, ia sukses meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Brawijaya dengan predikat Summa Cum Laude (IPK 3,91).
Disertasinya yang mengangkat desain kebijakan intelijen di Laut Cina Selatan menunjukkan visinya yang jauh ke depan mengenai peran penting diplomasi pertahanan (second track diplomacy) dalam menjaga stabilitas kawasan.
Tetap Berakar pada Nilai Lokal
Meski telah melalang buana dan menyandang pangkat bintang tiga, sosok yang akrab disapa "Anggun" di masa remajanya ini tetap setia pada akar budayanya. Ia menikahi Yenita Tanjung, wanita keturunan Matur, Agam, dan dikaruniai tiga orang anak.
Perjalanan karier Angkasa Dipua adalah cerminan dari filosofi namanya: ia membumbung tinggi di angkasa pengabdian militer, namun tetap menginjak bumi perjuangan seperti asal namanya di Pua Data.
Sumber: Wikipedia (Profil Angkasa Dipua)

Posting Komentar untuk " Dari Pesilat Terbaik Bukittinggi Hingga Jadi Jenderal Intelektual TNI "