Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Mengenal Sosok Markoni Kotto: Dari Kerasnya Terminal Jakarta Hingga Menjadi Panglima Ormas Nasional


Dunia organisasi kemasyarakatan dan hukum Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. H. Markoni Kotto, S.H., Ketua Umum DPP Pekat Indonesia Bersatu (PEKAT IB), berpulang pada 25 Desember di Jakarta.

 Di balik sosoknya yang dikenal militan, tersimpan kisah hidup yang luar biasa—sebuah potret nyata tentang perjuangan seorang anak manusia yang berhasil menaklukkan kerasnya ibu kota tanpa kehilangan jati diri.

1. Akar Piaman dan Tempaan Masa Kecil

Lahir di Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Markoni adalah perwujudan sejati dari semangat merantau orang Minang. 

Lahir dari keluarga prasejahtera, ia telah dipaksa keadaan untuk berjuang sejak usia dini. Markoni tidak memulai langkahnya di ruang-ruang nyaman, melainkan di atas aspal jalanan dan riuhnya terminal di jantung Jakarta.

2. Antara Kerasnya Terminal dan Kesetiaan pada Sujud

Kisah masa muda Markoni adalah tentang ketangguhan yang melampaui logika. Sejak bangku SMP hingga SMA, ia tumbuh di tengah lingkungan preman terminal yang keras. Ia sempat melakoni pekerjaan memungut uang keamanan demi menyambung hidup. 

Namun, luar biasanya, setiap pagi ia tetap berangkat sekolah dengan satu-satunya seragam yang ia miliki—baju yang dicuci setiap malam dan dipakai kembali meski tanpa sentuhan setrika.

Ada satu prinsip yang memisahkan Markoni dari "dunia hitam" yang mengepungnya: Integritas Iman.

Meski ia tidur beralaskan karton di samping deretan bemo, Markoni teguh menjauhi minuman keras dan tidak pernah sekalipun meninggalkan shalat.

"Satu warisan orang tua yang tidak pernah saya tinggalkan adalah tetap bersujud dalam situasi sesulit apa pun," kenangnya suatu kali.

Kedisiplinannya dalam beribadah dan zikir panjangnya menjadi bukti bahwa hatinya tetap terpaut pada Sang Pencipta, meski raga harus bergelut dengan kerasnya kehidupan terminal.

3. Transformasi Intelektual dan Pengabdian Nasional

Titik balik kehidupannya terjadi di usia 27 tahun. Melalui kegigihan yang tak kenal lelah, Markoni bertransformasi menjadi pengusaha dan advokat (pengacara) yang disegani. 

Keberhasilan ekonomi yang ia raih tidak dinikmatinya sendiri. Sebagai putra Minang yang sangat menjunjung tinggi bakti keluarga, ia membiayai umrah kakak dan adik-adiknya sebagai bentuk rasa syukur.

Karier organisasinya mencapai puncak saat ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PEKAT Indonesia Bersatu pada Munas I tahun 2013 di Bali.

 Ia dikenal sebagai komunikator ulung yang mampu menjembatani berbagai pihak yang bertikai, sekaligus pemberani yang terjun langsung ke lapangan demi menjaga stabilitas demokrasi bangsa.

4. Menjaga Marwah Perantau Piaman

Meski telah menjadi tokoh nasional di ibu kota, batinnya tetap tertambat pada tanah kelahiran. Markoni mengabdikan diri sebagai Dewan Pembina DPP PKDP (Persatuan Keluarga Daerah Piaman) Indonesia. 

Hingga hari-hari terakhirnya, ia terus mencurahkan pikiran untuk kemajuan para perantau asal Pariaman, memastikan ikatan persaudaraan sesama "Urang Awak" tetap solid.

5. Akhir Perjalanan Sang Pejuang

Markoni Kotto mengembuskan napas terakhirnya akibat gangguan jantung. Sang pejuang yang terbiasa menghadapi kerasnya lapangan ini akhirnya beristirahat dengan tenang. 

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar PEKAT IB, kolega di dunia hukum, serta seluruh komunitas perantau Minang.

Mengenal sosok Markoni Kotto adalah mempelajari sebuah filosofi hidup: bahwa kemiskinan dan lingkungan yang keras bukanlah penghalang untuk menjadi orang besar. 

Selama integritas dijaga, iman ditegakkan, dan bakti kepada keluarga diutamakan, seorang anak terminal pun bisa menjadi tokoh kebanggaan negara.(*)

Posting Komentar untuk "Mengenal Sosok Markoni Kotto: Dari Kerasnya Terminal Jakarta Hingga Menjadi Panglima Ormas Nasional"