Suatu Peristiwa yang sangat memilukan, itu terjadi pada Kamis malam, 1 Januari 2026, di wilayah Sibinail. Sore harinya, Nenek Saudah lebih dulu mendatangi para pekerja tambang dan meminta agar mereka menghentikan aktivitas penggalian di lahan miliknya.
Permintaan itu sempat dipatuhi, aktivitas tambang berhenti sesaat.
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Usai Magrib, para pekerja tambang kembali beroperasi dan masuk lagi ke kawasan tanah milik Nenek Saudah.
Di tengah perjalanan, Nenek Saudah tiba-tiba dilempari batu. Tak lama berselang, sejumlah orang mendekatinya, memukul tubuhnya, dan melakukan kekerasan hingga ia tak berdaya.
Dalam kondisi setengah pingsan, Nenek Saudah bahkan mendengar suara yang menyebut dirinya telah meninggal. Tubuhnya kemudian dibuang ke semak-semak di tepi sungai sekitar pukul 22.00 WIB.
Keajaiban terjadi beberapa jam kemudian. Sekitar pukul 01.00 WIB, Nenek Saudah tersadar. Dengan sisa tenaga, ia merangkak dan berjalan pulang menuju rumahnya. Namun, setibanya di depan rumah, ia kembali pingsan. Keluarga yang menemukan kondisinya segera melarikannya ke fasilitas kesehatan terdekat.
Saat ini, Nenek Saudah masih menjalani perawatan intensif di RSUD Tuanku Imam Bonjol, Lubuk Sikaping. Wajahnya dipenuhi memar, tubuhnya mengalami nyeri hebat, dan korban mengaku masih sering pusing akibat benturan keras yang dialaminya.(*)

Posting Komentar untuk "Seorang Nenek Yang Menolak Tambang Ilegal di Lahannya, Dihajar di Rao, Pasaman."