Pagi masih sangat awal ketika Lito, anak seorang petani, menggenggam erat amplop cokelat yang sedikit berdebu.
Ia datang dari desa yang jauh. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak lama, celana jeans yang sudah pudar, dan sepatu yang jelas pernah dijahit berkali-kali.
Di dadanya bukan hanya rasa gugup yang ia bawa—tetapi juga sebuah janji: ia harus pulang dengan jawaban untuk ibunya yang kini hampir tidak bisa bangun dari tempat tidur karena sakit.
Saat ia masuk ke Bank San Aurelio, lampu chandelier besar di langit-langit berkilau seolah mengejek kelelahan yang ia bawa dari perjalanan jauh.
Lantai marmer mengilap, udara AC dingin, dan para pegawai terlihat rapi—tersenyum kepada para nasabah yang memakai jas mahal dan membawa tas mewah.
Lito mendekati meja resepsionis.
“Mbak, saya mau tanya. Di surat ini katanya saya harus mengambil warisan di bank ini… atas nama Ernesto Dela Cruz.”
Resepsionis itu mengangkat alis. Ia melihat amplop itu, lalu memandang wajah Lito dengan tatapan menilai.
“Warisan apa?” tanyanya.
“Ayah saya… meninggalkan sesuatu untuk saya,” jawab Lito pelan.
“Saya tidak terlalu mengenalnya. Tapi pengacaranya bilang bank yang menyimpannya.”
Ia kemudian dipersilakan masuk ke sebuah kantor berdinding kaca. Di sana duduk Manager Villamor di kursi besar—memakai jas mahal dan jam tangan yang berkilau.
Di belakangnya berdiri beberapa staf: ada trainee manajer, seorang wanita dengan blazer biru dan tas kuning, serta seorang pria yang tampak seperti eksekutif yang tersenyum sinis.Ada masalah apa?” tanya Villamor tanpa benar-benar menatapnya.
Lito menyerahkan amplop itu.
“Pak, saya ingin mengambil warisan saya. Ini dokumennya.”Villamor mengambil kertas itu, membaca sekilas—lalu tiba-tiba tertawa keras.Warisan? Kamu?” katanya sambil melihat sepatu Lito.
“Anak petani?”
Ia menyandar di kursinya.“Mungkin kamu salah tempat, nak. Di sini yang menabung itu orang kaya. Bukan orang… dari sawah.”Wajah Lito memucat. Ia merasakan panas naik ke tengkuknya, tapi ia memaksa menelan rasa malu.
“Pak, saya tidak datang untuk bertengkar. Saya hanya datang karena ada sesuatu yang ditinggalkan untuk saya. Kalau memang tidak ada… saya akan pergi.”
“Tunggu,” sela seorang staf sambil tertawa.“Jangan-jangan warisannya cuma… satu karung beras.”
Semua orang tertawa. Bahkan satpam di pintu ikut tersenyum.Lito hanya menunduk. Tangannya gemetar saat memegang tali tas lamanya.
“Pak…” katanya pelan.“Ibu saya sakit. Saya cuma butuh uang untuk pengobatan. Berapa pun jumlahnya… asal itu benar.”
Villamor menghela napas seolah ia sedang diganggu.“Baiklah. Kita cek saja. Tapi jangan berharap banyak. Bisa jadi ini cuma… lelucon.”
Ia menekan interkom.
“Accounting, tolong verifikasi ini. Ernesto Dela Cruz. Cek apakah ada rekening dan apakah benar ada warisan.”
Sambil menunggu, orang-orang di ruangan itu terus memandang Lito seperti tontonan. Beberapa bahkan saling bertukar senyum, seolah seorang pria sederhana di tempat mewah adalah sesuatu yang lucu.
Namun mereka tidak tahu—bahwa dengan setiap detik yang berlalu, semakin dekat pula momen yang akan membalikkan seluruh suasana kantor itu.
Di luar dinding kaca bank, sebuah mobil hitam berhenti.Seorang pria tua dengan jas hitam turun dari mobil itu, ditemani dua orang lainnya. Ia berjalan cepat masuk ke bank, seolah waktu sedang mengejarnya.

Posting Komentar untuk "Anak Petani ke Bank, Mengambil Warisan, Manager Tertawakan Setelah Dilihat Isi Dokumen Tertunduk Malu"