Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Debat Panas, Perlunya Baca Sejarah dong, j Jangan Ngacau,” Balas Prof. Ikrar Mencoba Menenangkan Situasi Debat.


Debat panas dalam program diskusi di iNews mendadak menjadi sorotan publik setelah aktivis media sosial Permadi Arya terlibat adu argumen yang memanas dengan pengamat politik senior Ikrar Nusa Bhakti serta pakar hukum tata negara Feri Amsari. 

Perdebatan yang awalnya membahas peran Amerika Serikat dalam dinamika sejarah kemerdekaan Indonesia itu berubah menjadi momen tegang ketika emosi mulai mendominasi jalannya diskusi.

Ketegangan bermula ketika Prof. Ikrar mencoba meluruskan narasi sejarah terkait motif di balik bantuan Amerika Serikat kepada Indonesia pada periode 1948–1949. 

Ia menekankan bahwa sejarah perlu dipahami secara utuh dan berbasis data, bukan sekadar berdasarkan sentimen pribadi terhadap negara tertentu.

Namun, interupsi tersebut memicu reaksi keras dari Abu Janda yang terlihat tidak menerima penjelasan tersebut.

 Dalam potongan video yang kemudian viral di media sosial, Abu Janda melontarkan pernyataan bernada tinggi yang langsung memancing perhatian publik.

“Dari tadi gua perhatiin lu kalo komentar terlalu baper, jangan bawa-bawa perasaan pak. Lu gak suka ama Amerika, Bang Fery gak suka Trump, lu gak suka sama Israel, itu perasaan lu semua. Gua gak ada urusan sama perasaan lu semua, anjir!” ujar Abu Janda dalam debat tersebut.

Penggunaan kata “anjir” dalam forum diskusi televisi langsung menjadi sorotan tajam netizen. Meski sebagian pihak menyebutnya sebagai bahasa gaul yang kerap digunakan dalam percakapan sehari-hari, banyak yang menilai diksi tersebut tidak pantas diucapkan dalam forum debat formal, apalagi ditujukan kepada akademisi senior.

Di tengah situasi yang memanas, Prof. Ikrar Nusa Bhakti terlihat tetap berusaha menjaga ketenangan. Ia menegaskan pentingnya membaca sejarah secara komprehensif agar diskusi publik tidak terjebak pada narasi yang parsial.

“Anda juga harus baca sejarah dong, jangan ngacau,” balas Prof. Ikrar mencoba menenangkan situasi debat.

Sementara itu, Feri Amsari juga memberikan catatan kritis terhadap gaya debat yang dinilai terlalu emosional.

 Menurutnya, diskusi publik seharusnya lebih mengedepankan adu data, analisis hukum, dan argumentasi yang berbasis fakta, bukan sekadar retorika atau provokasi.

Cuplikan perdebatan tersebut hingga kini terus beredar luas di media sosial dan memicu pro dan kontra di kalangan warganet.

Sebagian menilai insiden ini sebagai contoh menurunnya etika dalam ruang diskusi publik, sementara yang lain menganggapnya sebagai dinamika keras yang kerap terjadi dalam debat politik.

Peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan penting tentang etika komunikasi dalam ruang publik, khususnya dalam program diskusi televisi nasional. 

Banyak pihak berharap agar perdebatan publik ke depan tetap mengedepankan adab, substansi, serta saling menghormati antar narasumber, sehingga diskusi yang disajikan benar-benar memberi pencerahan bagi masyarakat.

Posting Komentar untuk "Debat Panas, Perlunya Baca Sejarah dong, j Jangan Ngacau,” Balas Prof. Ikrar Mencoba Menenangkan Situasi Debat."