Pak Nestor adalah seorang duda. Ketika istrinya meninggal dunia saat melahirkan, ia ditinggalkan bersama bayi kembar perempuan mereka yang baru lahir: Kara dan Mia.
Kehidupan di desa sangatlah sulit. Uang selalu kurang. Namun, Nestor memiliki satu impian yang membuatnya tetap bertahan hidup:Anak-anaknya harus menyelesaikan pendidikan.
Anak-anaknya harus menjadi dokter.Mereka tidak boleh merasakan penderitaan yang ia alami.
Ketika si kembar masuk kuliah, Nestor melakukan pengorbanan yang tampak mustahil.
Pertama, ia menjual satu-satunya kerbau miliknya.
Kemudian, ia menjual bajajnya (tricycle), satu-satunya sumber penghasilan harian yang ia punya.
Dan akhirnya, saat biaya kuliah dan ujian profesi semakin membengkak, ia menjual hal yang paling menyakitkan dari semuanya:
Tanah dan rumah mereka — satu-satunya warisan dari orang tuanya.
"Yah, sudah cukup," isak Kara kala itu.
"Kami berhenti sekolah saja."
Namun, Nestor menggelengkan kepala dengan tegas.
"Tidak. Kalian harus jadi dokter. Biarpun Ayah harus berakhir tinggal di jalanan — yang penting kalian lulus."
Sejak saat itu, Nestor bekerja sebagai buruh konstruksi dan kuli panggul di pasar. Ia tinggal di sebuah gubuk kecil yang terbuat dari seng berkarat. Ia menahan lapar, badai, dan kesepian yang luar biasa.
Banyak malam di mana ia hanya makan nasi dengan garam — demi mengirimkan setiap peso yang ia hasilkan untuk anak-anaknya di Manila.
Sembilan belas tahun pun berlalu.
Nestor kini berusia enam puluh lima tahun.
Lututnya sudah lemah. Penglihatannya mulai kabur. Kulitnya keriput karena bertahun-tahun terpapar terik matahari.
Sudah lama ia tidak bertemu anak-anaknya. Mereka sangat sibuk — masa residensi, karier, bekerja di luar negeri. Hanya uang yang datang.
Tidak ada kunjungan. Kadang, saat duduk di luar gubuk reotnya, ia berbisik pelan pada dirinya sendiri:
"Mungkin mereka sudah melupakanku. Tidak apa-apa. Selama hidup mereka baik... itu sudah cukup."
Hingga suatu sore... segalanya berubah.
Saat Nestor sedang menyapu di depan gubuknya, dua buah mobil Land Cruiser hitam tiba-tiba berhenti tepat di hadapannya. Seluruh warga desa tertegun. Pintu mobil terbuka.
Dua orang wanita turun. Mereka sangat mirip. Cantik. Mengenakan pakaian elegan dan mahal, lengkap dengan kacamata hitam. Kehadiran mereka terasa tidak nyata di tengah kemiskinan desa itu.
Tangan Nestor gemetar. Perlahan, mereka melepas kacamata hitam mereka. Dan pada saat itu juga... napas Nestor seakan terhenti.
Siapakah mereka?
Mengapa mereka kembali setelah sekian lama?
Dan ke mana mereka akan membawa ayah mereka — ke sebuah tempat yang hanya pernah ia lihat dalam mimpi?

Posting Komentar untuk "Sang Ayah Jual Semua Harta Bendanya Demi Biaya Pendidikan Putri Kembarnya"