Pak Rahman. Setiap pagi sebelum matahari terbit, ia sudah mendorong sepeda tuanya menuju pasar dan terminal untuk menjual koran.
Bajunya sederhana, topinya sudah kusam, dan tangannya penuh keriput. Namun di balik semua kesederhanaan itu, ia menyimpan mimpi besar: anak-anaknya harus hidup lebih baik dari dirinya.
Pak Rahman adalah seorang duda yang harus membesarkan lima putri seorang diri. Setelah istrinya meninggal saat anak-anak masih kecil, kehidupan mereka menjadi sangat sulit. Uang dari jualan koran sering kali hanya cukup untuk makan seadanya.
Sering kali mereka hanya makan nasi dengan garam atau tempe, tapi Pak Rahman selalu berkata kepada anak-anaknya:
"Kita boleh miskin harta, tapi jangan pernah miskin ilmu."
Kalimat itu terus diingat oleh kelima putrinya.
Masa Kecil yang Penuh Perjuangan
Kelima anak itu tumbuh dalam keterbatasan. Mereka hanya memiliki dua seragam sekolah yang dipakai bergantian. Jika hujan turun dan seragam belum kering, mereka tetap berangkat sekolah dengan baju yang masih sedikit basah.
Setiap malam, rumah kecil mereka diterangi lampu minyak karena listrik sering mati. Di situlah mereka belajar bersama, sementara Pak Rahman masih memilah koran yang akan dijual besok pagi.
Kadang Pak Rahman pulang larut malam karena harus menjual koran sampai habis agar bisa membayar uang sekolah anak-anaknya.
Didikan yang Tidak Pernah Putus
Pak Rahman bukan orang berpendidikan tinggi. Ia bahkan hanya tamat sekolah dasar. Tetapi ia selalu mengajarkan hal-hal yang paling penting dalam hidup:
Kejujuran
Kerja keras
Tidak menyerah pada keadaan
Menghormati orang lain
Setiap pagi sebelum anak-anaknya berangkat sekolah, ia selalu berkata:
"Belajarlah yang rajin. Ayah mungkin tidak bisa memberi kalian harta, tapi ayah ingin kalian punya masa depan."
Kata-kata itu menjadi bahan bakar semangat bagi kelima putrinya.
Perlahan Mimpi Itu Mulai Terwujud.Tahun demi tahun berlalu. Pengorbanan Pak Rahman tidak sia-sia.
Putri pertamanya, Sari, berhasil masuk akademi militer. Ia menjadi seorang tentara yang disiplin dan tangguh.
Putri keduanya, Dewi, belajar ekonomi dengan beasiswa dan akhirnya menjadi manajer di sebuah perusahaan besar.
Putri ketiga, Nadia, terjun ke dunia pemerintahan dan akhirnya dipercaya menjadi camat yang memimpin wilayahnya dengan bijaksana.
Putri keempat, Rina, sejak kecil bercita-cita menjadi polisi karena ingin melindungi orang lain. Ia pun berhasil menjadi polisi wanita (Polwan) yang dihormati.
Dan putri bungsunya, Laila, memilih jalan pengabdian sebagai dokter, membantu banyak orang yang sakit tanpa memandang kaya atau miskin.

Posting Komentar untuk "Bajunya Dederhana, Topinya Sudah Usam, dan Tangannya Penuh Keriput"