Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Kapal Tanker Amerika Itu Dilalap Api Setelah Dihantam Serangan


Langit di atas Teluk Persia masih gelap ketika kabar mengejutkan mengguncang dunia. Pada Kamis pagi, 5 Maret 2026, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan sebuah serangan balasan yang mengubah perairan strategis itu menjadi arena ketegangan baru. 

Target mereka adalah sebuah kapal tanker milik Amerika Serikat yang sedang berlayar di wilayah utara Teluk Persia.

Beberapa saat setelah pengumuman tersebut, media pemerintah Iran menyiarkan laporan dramatis: kapal tanker Amerika itu dilalap api setelah dihantam serangan. 

Asap hitam pekat membumbung tinggi di atas permukaan laut, menandai eskalasi konflik yang terjadi hanya dalam hitungan jam.

Serangan itu bukan tanpa sebab. Hanya beberapa jam sebelumnya, sebuah kapal perang Iran, fregat IRIS Dena, dilaporkan tenggelam setelah diserang pasukan Amerika Serikat di Samudra Hindia. Peristiwa itu memicu kemarahan besar di Teheran.

Ketegangan semakin meningkat ketika IRGC mengeluarkan pernyataan tegas sebelum serangan terhadap tanker tersebut. Mereka menyatakan bahwa seluruh lalu lintas kapal yang melewati Selat Hormuz kini berada di bawah pengawasan dan kendali mereka. 

Selat sempit itu merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak dunia, sehingga setiap ancaman di sana segera memicu kekhawatiran global.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga mengeluarkan peringatan keras kepada Washington. Dalam pernyataan yang diunggah melalui akun media sosialnya, ia menilai tindakan Amerika Serikat sebagai langkah berbahaya yang dapat memicu konflik lebih luas.

“Kapal fregat Dena, yang merupakan tamu Angkatan Laut India, diserang di perairan internasional tanpa peringatan. Camkan kata-kata saya: Amerika Serikat akan sangat menyesali preseden yang telah mereka buat ini,” tulis Araghchi dengan nada tegas.

Untuk memahami mengapa situasi memanas begitu cepat, kronologi tenggelamnya IRIS Dena menjadi kunci utama.

Konflik di laut bermula jauh dari Teluk Persia, tepatnya di perairan lepas pantai selatan Sri Lanka. Di wilayah Samudra Hindia yang luas dan biasanya tenang itu, sebuah kapal selam Amerika Serikat dilaporkan meluncurkan torpedo ke arah IRIS Dena.

Fregat Iran tersebut saat itu sedang dalam perjalanan pulang menuju negaranya. Sebelumnya, kapal itu singgah di Visakhapatnam, India, untuk mengikuti dua latihan angkatan laut pada bulan sebelumnya bersama sejumlah negara.

Namun perjalanan pulang itu berubah menjadi tragedi.

Torpedo yang diluncurkan menghantam bagian belakang kapal dengan kekuatan dahsyat. Video yang kemudian dirilis oleh Kementerian Pertahanan Amerika Serikat memperlihatkan detik-detik mengerikan ketika ledakan besar mengguncang badan kapal.

 Api dan pecahan logam beterbangan sebelum kapal perlahan kehilangan keseimbangan.

Dalam hitungan menit, IRIS Dena mulai tenggelam ke dalam gelombang Samudra Hindia.

Serangan tersebut menimbulkan korban besar. Sebanyak 87 pelaut Iran dilaporkan tewas dalam insiden itu, sementara lebih dari 60 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Upaya pencarian berlangsung dalam kondisi sulit di tengah laut terbuka.

Di tengah tragedi itu, sebagian kecil awak kapal berhasil diselamatkan. Komandan kapal bersama sejumlah perwira senior termasuk di antara 32 orang yang berhasil dievakuasi dari perairan yang bergolak.

Kini, dengan serangan balasan Iran terhadap kapal tanker Amerika di Teluk Persia, ketegangan di kawasan tersebut mencapai titik yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. 

Dunia pun menahan napas, menunggu apakah konflik di lautan ini akan berhenti sebagai insiden terbatas—atau justru berubah menjadi konfrontasi yang jauh lebih besar.

Posting Komentar untuk "Kapal Tanker Amerika Itu Dilalap Api Setelah Dihantam Serangan"