Hamdan Zoelva, Lahir pada 21 Juni 1962 di Bima, Nusa Tenggara Barat, Hamdan Zoelva dibesarkan dalam lingkungan keluarga santri yang religius. Ayahnya, K.H. Muhammad Hasan, seorang pimpinan pondok pesantren yang sangat menekankan pentingnya pendidikan agama.
Hamdan kecil menghabiskan masa sekolahnya di Madrasah Ibtidaiyah hingga Madrasah Aliyah, menjalani hari-hari dengan balutan tradisi pesantren yang kuat.
Sebelum namanya dikenal sebagai ahli hukum tata negara kelas wahid, ia adalah seorang mahasiswa yang harus berjuang menyeimbangkan antara idealisme organisasi dan tuntutan akademis.Langkah awalnya di dunia hukum dimulai dengan keberanian untuk merantau dan belajar dari para ahli. Setelah meraih gelar sarjana hukum dari Universitas Hasanuddin, Hamdan sempat mencoba peruntungan menjadi dosen namun ditolak.
Tak patah arang, atas saran pembimbingnya, ia merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai asisten di kantor pengacara kondang O.C. Kaligis.
Di sana, ia mengasah kemampuannya dalam bidang hukum bisnis dan kontrak. Namun, panggilan jiwanya untuk membangun tatanan negara membawanya mendirikan kantor hukum sendiri, sembari terus mendalami ilmu hukum hingga meraih gelar doktor dari Universitas Padjadjaran dengan disertasi tentang pemakzulan presiden.
Dinamika hidupnya berubah drastis saat ia terjun ke dunia politik di masa awal Reformasi. Hamdan merupakan salah satu tokoh kunci pendiri Partai Bulan Bintang (PBB).
Kepercayaan masyarakat membawanya duduk di kursi DPR RI mewakili daerah kelahirannya.
Di parlemen, ia memegang peran krusial; ia terlibat langsung dalam proses perubahan UUD 1945 dan merupakan salah satu "bidan" yang melahirkan Mahkamah Konstitusi (MK) melalui perannya di Panitia Khusus penyusunan undang-undang lembaga tersebut.
Pengalaman legislasi inilah yang membuatnya sangat memahami ruh dan jiwa dari konstitusi kita.
Puncak kariernya tercapai saat ia dipercaya memimpin lembaga yang ia ikut dirikan sendiri. Pada tahun 2010, Hamdan dilantik menjadi hakim konstitusi, dan pada 6 November 2013, ia terpilih menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi ke-4.
Kepemimpinannya diuji saat lembaga tersebut dilanda badai krisis kepercayaan. Dengan ketenangan dan integritasnya, Hamdan berhasil mengembalikan marwah MK sebagai penjaga konstitusi yang independen.
Setelah purna tugas, pengabdiannya berlanjut di jalur sosial-keagamaan sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Syarikat Islam dan Koordinator Presidium MN KAHMI.
Kisah Hamdan Zoelva adalah potret seorang santri yang sukses menaklukkan ibu kota dengan integritas dan ilmu pengetahuan.
Dari seorang asisten pengacara yang pernah ditolak menjadi dosen, ia berhasil bertransformasi menjadi salah satu hakim konstitusi terbaik yang dimiliki bangsa ini.
Perjalanannya mengingatkan kita bahwa pendidikan agama yang kuat dan disiplin berorganisasi adalah fondasi kokoh untuk memikul tanggung jawab kenegaraan yang paling berat sekalipun.
Sumber: [Wikipedia Bahasa Indonesia] - "Hamdan Zoelva"

Posting Komentar untuk "Hamdan Zoelva, Yang Menjadi Penjaga Konstitusi Tertinggi di Indonesia."