Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Papa Belum Mati Dia Hanya Ada di Bawah Lantai, Suara Polos Anak Kecil Semua Orang Terdiam


Di sebuah rumah tua di pedesaan Indonesia, tempat yang bahkan saat lampu menyala pun tetap terasa gelap di setiap sudutnya, berdirilah seorang anak laki-laki kecil yang tampak seperti bayangan dari kehidupannya sendiri.

Namanya Toto.

Lima tahun.

Pakainya kotor, kakinya telanjang, dan seolah sudah beberapa malam tidak tidur nyenyak. 

Di bawah matanya terlihat lingkaran hitam—bukan karena bermain, tetapi karena ketakutan yang bahkan sulit ia jelaskan.

“Di mana ayahmu?” tanya PO1 Marco, berlutut di depannya sambil mencoba terdengar tenang, meskipun bulu kuduknya meremang.

Toto tidak langsung menjawab.

Ia hanya menunjuk ke lantai.

Papan kayu yang penuh goresan. Beberapa paku terlihat seperti baru dipasang. Dan ada noda tanah yang seharusnya tidak berada di dalam rumah.

“PAPA BELUM MATI,” katanya dengan suara gemetar namun penuh keyakinan.

“DIA ADA DI BAWAH LANTAI.”

Di samping Marco berdiri PO2 Jun, memegang senter yang cahayanya mengenai pipi basah anak itu.

 Di belakang mereka berdiri Ibu Lila—ibu Toto—memakai rok dan blus hijau pucat, tetapi wajahnya sudah kehilangan warna.

Ia memegang kusen pintu seolah itu satu-satunya yang menopangnya.

“Anak… sudah, cukup,” katanya pelan.

Namun jari Toto justru menunjuk lantai semakin kuat.

“Aku dengar Papa mengetuk setiap malam,” tambah Toto.

“Tok… tok… tok… seperti minta tolong.”

Marco tiba-tiba merasakan dingin di punggungnya.

Selama bertahun-tahun menjadi polisi—menangani pertengkaran keluarga, pencurian, kekerasan—ia belum pernah merasakan sesuatu seperti ini. 

Ketika anak kecil yang berbicara, rasanya berbeda. Anak kecil tidak tahu cara mengarang cerita hanya untuk drama.

Ketakutan di mata mereka… selalu nyata.

“Ibu Lila,” kata Jun dengan nada lebih serius,

“di mana suami Anda sekarang?”

“Dia pergi… sudah lama,” jawab wanita itu. Namun kebohongan jelas terlihat. Tangannya mencengkeram pintu lebih kuat.

“Dia meninggalkan kami.”

“Tapi anak Anda bilang—”

“DIA HANYA ANAK KECIL!” teriak Ibu Lila tiba-tiba. Bahkan ia sendiri tampak kaget dengan suaranya. Ia segera menunduk, seolah menyesal.

Marco mendekati lantai. Ia memeriksa dengan teliti.

Ada paku baru yang lebih mengilap dari yang lain. Ada tanah segar di sela papan. Seolah sesuatu pernah digali… lalu ditutup kembali dengan tergesa-gesa.

“Jun,” bisiknya pelan,

“ambil pry bar.”

Saat mereka menunggu, seluruh rumah menjadi sunyi. Seakan dinding, langit-langit, dan setiap sudut rumah tahu bahwa sebuah rahasia besar akan segera terbongkar.

Toto terus menatap lantai, seolah hanya di sanalah ia bisa bernapas dengan lega.

Ketika pry bar datang, Marco menarik papan pertama.

KREEEKK…

Kayu berderit keras. Debu beterbangan. Bau tanah lembap dan gelap keluar dari celah lantai.

Lalu… dari retakan pertama itu… mereka mendengar suara kecil.

Seperti gesekan.

Seperti napas.

Seperti masih ada kehidupan di bawah papan kayu itu.

Apa yang sebenarnya tersembunyi di sana?

Mengapa Ibu Lila tampak lebih takut rahasia itu terbongkar daripada siapa pun di ruangan itu?

Dan mengapa seorang anak kecil justru memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa ayahnya masih hidup… tepat di bawah rumah mereka sendiri?

Jangan dulu berhenti membaca.

Karena terkadang, kengerian yang sebenarnya bukanlah kegelapan—melainkan rahasia yang orang rela kubur, bahkan saat seseorang masih hidup.


Posting Komentar untuk "Papa Belum Mati Dia Hanya Ada di Bawah Lantai, Suara Polos Anak Kecil Semua Orang Terdiam"