Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

“Menyambut Pulang Dua Anak Bangsa Setelah Singapura Mengeksekusinya”


Di kejauhan, dua peti jenazah diselimuti bendera merah putih. Di situlah mereka: Sersan KKO Usman Janatin dan Kopral KKO Harun Said, dua marinir muda yang akhirnya pulang setelah menjalani ajal yang sunyi di negeri orang.

Mereka pulang bukan sebagai tentara yang bersorak menang, bukan pula sebagai pahlawan yang disambut meriah. Mereka pulang sebagai dua tubuh bisu, yang telah menempuh jalan panjang penuh rasa sakit, pengkhianatan, dan keteguhan hati hingga menit terakhir hidup mereka.

Saat tali pengikat peti diturunkan, beberapa marinir tak mampu menahan air mata. Ada yang berdiri tegak menatap lurus, mencoba menyembunyikan getaran di dada. Ada pula yang menunduk, menahan pilu yang seakan memekik di tenggorokan.

Di antara kerumunan itu, seorang ibu tua yang menjadi keluarga Usman gemetar memegang ujung bendera di atas peti. Tangannya bergetar, bukan hanya karena usia, tetapi karena beratnya kehilangan anak yang tidak sempat ia peluk pada napas terakhirnya.

Sementara itu, saudara Harun membisu, hanya menatap peti itu seolah ingin meyakinkan diri bahwa sosok yang dulu tertawa keras dan penuh kehidupan kini benar-benar ada di balik kayu itu, diam, jauh dari kata hidup.

Jenazah mereka diangkat perlahan, penuh kehati-hatian, seolah semua orang takut membuat mereka “terluka” sekali lagi setelah semua penderitaan yang telah mereka lalui.

Di sepanjang jalur penghormatan, ribuan orang berdiri, tua, muda, tentara, warga biasa. Banyak dari mereka meneteskan air mata. Ada yang berbisik, “Selamat pulang, Nak…,” seolah berbicara kepada anaknya sendiri.

Bagi bangsa ini, mereka bukan hanya dua nama. Mereka adalah gambaran pengorbanan paling sunyi:

mati jauh dari rumah, di tiang gantungan, tanpa keluarga, hanya ditemani keyakinan bahwa tugas mereka selesai.

Ketika jenazah mereka diturunkan ke liang lahat di Taman Makam Pahlawan Kalibata, suasana menjadi hening nyaris menyeramkan.

Salah satu marinir senior yang pernah melatih mereka berkata dengan suara pecah “Mereka berdua nakal dan keras kepala…

tapi hati mereka merah putih.

Kalau diberi pilihan hidup sekali lagi,

saya yakin mereka tetap memilih jalan yang sama.”

Kalimat itu membuat banyak orang menunduk, mencoba menyembunyikan air mata yang terlalu berat untuk dibiarkan jatuh.

Kepergian yang Menyisakan Luka, tapi Juga Keabadian

Ketika tanah terakhir ditaburkan, dan suara doa meresap ke udara sore, perasaan yang tersisa bukan hanya duka, tapi juga kebanggaan.

Bangsa ini menyadari bahwa tidak semua pahlawan mati di medan perang dengan senjata di tangan.

Ada yang gugur sendirian, di negara asing, dengan kepala tegak dan nama yang kelak menggetarkan sejarah.

Jenazah Usman dan Harun pulang dalam sunyi, tapi kisah mereka tidak pernah sunyi.

Ia terus hidup di dada para marinir, di pelajaran sejarah, di jalan-jalan yang mengabadikan nama mereka,

dan terutama, di hati mereka yang memahami arti pengorbanan tanpa syarat..

Posting Komentar untuk " “Menyambut Pulang Dua Anak Bangsa Setelah Singapura Mengeksekusinya”"