Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Untuk Menguji Ketulusan Pacarku, Aku Membawa Ke Rumah Tua di Desa


Saat kami semakin mendekati rumah ibuku, setiap langkah terasa makin berat.

Rumah tua itu berdiri di tengah sawah—rumah yang sudah lama dimakan waktu.

Atapnya dari seng yang sudah berkarat. Dindingnya retak di sana-sini. Halaman kecilnya dipenuhi pot-pot tua yang hampir tidak lagi berisi tanaman.

Di sinilah aku dibesarkan.

Dan inilah rumah yang selama ini kusembunyikan dari pacarku.

Bukan karena aku tidak ingin membawanya ke sana.

Tapi karena aku takut pada reaksinya.

Saat kami berjalan mendekat, dia hanya diam.Kupikir dia mulai merasa ragu.Namun tiba-tiba dia tersenyum.

“Udara di sini… segar sekali,” katanya sambil melihat ke sekeliling.

Aku tidak tahu apakah itu tulus atau dia hanya mencoba bersikap sopan.

Ketika kami sampai di halaman, kami melihat ibuku duduk di bangku kayu tua.

Dia mengenakan daster lama yang sebelumnya sudah kuminta untuk dipakai.

Kepalanya sedikit menunduk, tangannya memegang lutut seolah-olah sendinya sakit.

Hampir saja aku tidak mengenalinya karena aktingnya begitu meyakinkan.

Namun sebelum aku sempat berkata apa-apa—

terjadi sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.

Pacarku tiba-tiba berlari menghampirinya.

“Nay!” panggilnya dengan ceria.

Ibuku menoleh, jelas terlihat terkejut.

Pacarku tersenyum dan langsung menunduk untuk membantunya berdiri.

“Nay, kami sudah pulang,” katanya lembut. “Sudah makan belum?”

Aku terdiam.

Itu sama sekali bukan reaksi yang kuharapkan.

Tidak ada keraguan.

Tidak ada rasa canggung.

Tidak ada tanda-tanda jijik atau tidak nyaman.

Seolah-olah dia sudah lama mengenal ibuku.

Saat kami masuk ke dalam rumah, rasa malu yang aneh semakin menyelimutiku.

Karena rumah itu bahkan lebih tua dari yang dibayangkan kebanyakan orang.

Beberapa bagian langit-langit berlubang. Meja kayunya sudah pudar. Kursi-kursinya tua dengan paku yang mulai berkarat.

Dia hanya diam mengamati sekeliling.

Aku menunggu reaksinya.

Mungkin sebuah helaan napas.

Mungkin ekspresi kecewa.

Atau setidaknya satu keluhan kecil.

Namun tidak ada.

Sebaliknya, dia melakukan sesuatu yang membuat pikiranku semakin kacau.

Sebelum aku sempat berbicara, dia mengeluarkan selembar kertas kecil yang terlipat dari sakunya.

Dia menatapku dan tersenyum.

Lalu dia menyerahkannya ke tanganku.Aku tidak langsung mengerti.“Ini untukmu,” katanya dengan tenang.

Saat aku masih memegang kertas itu, aku melihat dia duduk di samping ibuku.

Perlahan dia memegang kaki ibuku.

Lalu mulai memijat lututnya. Seolah-olah dia benar-benar sudah menjadi anak dari rumah itu.

Sambil melakukan itu, dia mulai berbicara…

Dengan nada yang tenang.Dengan suara yang terdengar seperti sudah lama memikirkan setiap kata. Pada saat itulah aku merasakan—

dia mengetahui sesuatu yang tidak pernah kuduga.Dan kertas yang ada di tanganku…

mungkin akan mengubah semua yang kupikirkan tentang dirinya.

Posting Komentar untuk "Untuk Menguji Ketulusan Pacarku, Aku Membawa Ke Rumah Tua di Desa"