Seorang direktur sangat marah ketika ia menabrak seorang pria tua yang membawa telur, menyebabkan telur-telur itu pecah. Ia turun dari mobil dan berkata dengan nada menghina: "Berapa sih harga telur-telur busuk itu?"
sangat marah ketika ia menabrak seorang pria tua yang membawa telur, menyebabkan telur-telur itu pecah. Ia turun dari mobil dan berkata dengan nada menghina: "Berapa sih
Sebuah SUV hitam mengkilap tiba-tiba berbelok tajam di sebuah persimpangan di Cavite—suara rem berdecit, lalu BRAAK! Sebuah gerobak kecil dengan dua keranjang besar berisi telur terpelanting ke jalan. Telur-telur itu pecah, kuning dan putihnya berserakan di bawah terik matahari yang menyengat.
Si pedagang—seorang pria kurus berusia sekitar enam puluh tahun dengan tangan yang gemetar—berusaha sekuat tenaga mendirikan gerobaknya kembali.
Wajahnya pucat pasi karena rasa sayang pada dagangannya dan rasa takut. Keranjang-keranjang telur itu adalah hasil perjalanannya sejak dini hari dari Batangas untuk dijual demi membeli obat istrinya.
Pintu mobil terbuka, dan keluarlah seorang pria berpakaian rapi, mengenakan jam tangan mewah, dengan nada bicara yang sombong:
Orang-orang di sekitar mulai keluar untuk menonton. Pria tua itu menunduk, suaranya serak:
"Iya... itu hanya telur bebek dari kampung kami, Tuan. Saya sudah berkendara pelan-pelan, tapi tiba-tiba mobil Tuan berbelok..."
Pria kaya itu melipat tangannya, menyeringai, dan mengeluarkan beberapa ratus peso dari dompetnya:
"Ini, ambil! Ini sudah cukup untuk membeli kembali semua telurmu itu! Lain kali, jangan menghalangi jalan mobil."
Orang-orang di sekeliling hanya terdiam—mereka hanya bisa merasa iba pada si kakek. Pria tua itu memunguti pecahan kulit telur, mengumpulkannya dengan hati-hati, dan tidak mengatakan sepatah kata pun lagi.
Tiga hari kemudian, pria kaya itu tiba di perusahaannya di kawasan bisnis Makati. Begitu ia memasuki gerbang, seorang petugas keamanan menghentikannya:
"Mohon maaf, Pak. Ada tim inspeksi dari yayasan amal provinsi yang ingin bertemu dengan Direktur Alejandro Santos hari ini."
Ia mengangguk dan berjalan dengan percaya diri menuju ruang rapat. Namun, saat pintu terbuka—ia mendadak mematung di tempatnya berdiri...

Posting Komentar untuk "Seorang Direktur Marah Besar Saat Menabrak Lansia Yang Membawa Telur Hingga Pecah"