Jakarta, Media Duta, - Bencana Siklon Ditwah masih menyisakan luka mendalam bagi warga Sri Lanka hingga kini. Hal ini pun diperparah dengan adanya perang Iran-Amerika Serikat.
Melansir Reuters, salah satu korban bencana tersebut, Indrani Ravichandran dan keluarganya terpaksa tinggal di satu-satunya bagian rumah yang masih berdiri setelah banjir menghancurkan desa mereka.Foto: Kendaraan-kendaraan berbaris panjang untuk mengisi bahan bakar di sebuah SPBU
Dampak kemanusiaan pun sangat besar dengan 643 orang tewas dan 173 lainnya hilang. Indrani menceritakan bagaimana ia dan keluarganya harus melarikan diri dalam gelap saat air bah menyapu sebagian rumah mereka di Distrik Kandy.
Ia mengatakan air naik dengan sangat cepat sehingga mereka hampir tidak sempat menyelamatkan barang apa pun. Dalam kondisi gelap, hujan deras, dan medan licin, mereka juga khawatir menginjak hewan beracun, namun beruntung berhasil selamat.
Kerusakan akibat banjir ini bahkan disebut melampaui dampak Tsunami Samudra Hindia 2004 dari sisi infrastruktur. Meski korban jiwa tidak sebesar tsunami, skala kerusakan fisik dinilai lebih parah menurut ekonom Ganeshan Wignaraja.
Di tengah pemulihan, Sri Lanka kini menghadapi tekanan tambahan akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dampak global dari perang tersebut datang di saat yang sangat buruk bagi ekonomi Sri Lanka yang belum pulih dari krisis 2022.
Negara yang sebelumnya dikenal dengan kemajuan ekonominya ini kini menghadapi apa yang disebut sebagai "triple shock". Tekanan tersebut berasal dari bencana banjir, lonjakan harga energi, dan ancaman kekeringan di beberapa wilayah.
Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah terpaksa melakukan penjatahan bahan bakar dan menaikkan harga. Selain itu, diberlakukan pekan kerja empat hari, kenaikan tarif listrik hingga 40%, serta pemadaman air dan listrik.(*)
Dampak kemanusiaan pun sangat besar dengan 643 orang tewas dan 173 lainnya hilang. Indrani menceritakan bagaimana ia dan keluarganya harus melarikan diri dalam gelap saat air bah menyapu sebagian rumah mereka di Distrik Kandy.
Ia mengatakan air naik dengan sangat cepat sehingga mereka hampir tidak sempat menyelamatkan barang apa pun. Dalam kondisi gelap, hujan deras, dan medan licin, mereka juga khawatir menginjak hewan beracun, namun beruntung berhasil selamat.
Kerusakan akibat banjir ini bahkan disebut melampaui dampak Tsunami Samudra Hindia 2004 dari sisi infrastruktur. Meski korban jiwa tidak sebesar tsunami, skala kerusakan fisik dinilai lebih parah menurut ekonom Ganeshan Wignaraja.
Di tengah pemulihan, Sri Lanka kini menghadapi tekanan tambahan akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dampak global dari perang tersebut datang di saat yang sangat buruk bagi ekonomi Sri Lanka yang belum pulih dari krisis 2022.
Negara yang sebelumnya dikenal dengan kemajuan ekonominya ini kini menghadapi apa yang disebut sebagai "triple shock". Tekanan tersebut berasal dari bencana banjir, lonjakan harga energi, dan ancaman kekeringan di beberapa wilayah.
Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah terpaksa melakukan penjatahan bahan bakar dan menaikkan harga. Selain itu, diberlakukan pekan kerja empat hari, kenaikan tarif listrik hingga 40%, serta pemadaman air dan listrik.(*)

Posting Komentar untuk "Bencana Siklon Ditwah Menyisakan Luka Warga Srilanka Diperparah Adanya Perang"