Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Dendam Kalah Pilkades Berujung Darah


Kisah ini adalah cermin paling gelap tentang seberapa jauh manusia bersedia merendahkan nuraninya hanya karena sebuah ego yang terluka. Tragedi ini membuktikan bahwa monster yang paling mengerikan tidak selalu berwujud iblis.

 Ia bisa bersembunyi di balik seragam kehormatan negara, dan ironisnya, berlindung dengan sangat aman di balik jubah keagamaan. 

Bayangkan seorang kakek tua yang sangat dihormati, sering menjadi imam, menengahi sengketa warga, dan duduk minum kopi bersama polisi setempat. 

Tidak ada satu pun yang tahu, bahwa tangan keriput yang sama pernah membantai empat rekan tentaranya sendiri demi puluhan juta rupiah.

 Inilah epik pelarian 22 tahun sang buronan militer nomor satu: Sersan Mayor Eddy Sampak.

I. Pusaran Ambisi dan Ego yang Terluka (Awal 1979)

Pada pertengahan tahun 1979, Sersan Mayor (Serma) Eddy Maulana Sampak adalah seorang Bintara Tinggi yang disegani di Kodim 0608/Cianjur.

 Di era Orde Baru, seragam yang ia kenakan memberikannya status sosial, pengaruh, dan rasa percaya diri yang sangat tinggi. Karakter Eddy dikenal keras, ambisius, dan pantang menelan kekalahan. Sifat inilah yang kelak menjadi bumerang maut baginya.

Akar petaka bermula dari politik tingkat desa. Saat itu, Desa Cikondang, Kecamatan Bojongpicung menggelar Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Eddy mencalonkan diri, melihat posisi Kades sebagai batu loncatan menuju kekuasaan sipil dan akses ekonomi. 

Untuk memenangkan simpati warga, Eddy jor-joran mengeluarkan modal kampanye hingga berutang kesana-kemari, mempertaruhkan segalanya dengan satu asumsi: jika menang, jabatan Kades akan menutupi semua utangnya.

Namun, kenyataan menghantamnya dengan keras. Eddy kalah. Kekalahan ini bukan sekadar hilangnya jabatan, melainkan hancurnya ego seorang militer senior.

 Lebih menyakitkan lagi, ia merasa dikhianati oleh rekan-rekan sejawatnya di Kodim yang disinyalir tidak mendukungnya, melainkan condong pada rivalnya.

 Harga dirinya terluka, merasa ditikam dari belakang, sementara tumpukan utang terus mengejarnya. Di titik terendah inilah, keputusasaan dan amarah memicu sebuah niat keji.

II. Eksekusi Berdarah di Kebun Teh Gekbrong (Agustus 1979)

Peluang itu datang pada pertengahan Agustus 1979. Eddy ditugaskan dalam tim pengawal untuk mengambil uang rapel (gaji susulan) seluruh prajurit Kodim 0608/Cianjur di Sukabumi. Jumlahnya fantastis: Rp 21.435.000. 

Di dalam pikiran Eddy yang sudah kalut, misi kedinasan ini berubah menjadi skenario balas dendam ganda: mengeksekusi rekan-rekannya sebagai balasan atas "pengkhianatan" Pilkades, sekaligus merampas uang tersebut untuk melunasi utang.

Pagi tanggal 20 Agustus 1979, tidak ada yang menaruh curiga. Eddy berangkat bersama empat rekannya: Pelda Sutardjat, Serma Djudjun, Serda Sugandi, dan Koptu Daeng Rusyana, menggunakan angkot Mitsubishi Colt sewaan yang dikemudikan warga sipil bernama Abas.

Misi berjalan lancar hingga perjalanan pulang di siang hari. Memasuki kawasan perkebunan teh Gekbrong yang sunyi, Eddy mulai menjalankan skenarionya.

 Ia meminta Abas menghentikan mobil dengan alasan wajar: ingin buang air kecil. Begitu turun membawa senapan serbu SP-1, alih-alih menjauh, Eddy berbalik menatap kabin mobil yang sempit, tempat keempat rekannya duduk berdesakan.

Tanpa aba-aba, Eddy memuntahkan peluru secara membabi buta dari jarak dekat. Hujan timah panas itu langsung menewaskan Pelda Sutardjat, Serma Djudjun, dan Serda Sugandi bersimbah darah. 

Abas sang sopir yang panik langsung melompat menerobos lebatnya kebun teh. Eddy sempat menembakinya namun meleset, lalu memutuskan fokus menenteng kabin berisi uang Rp 21,4 juta dan kabur.

Namun, Eddy membuat satu kesalahan fatal yang jarang terungkap sejarah. Di antara tumpukan mayat di dalam mobil, Koptu Sumpena berhasil selamat! Meski bahunya tertembus peluru, Sumpena pura-pura mati. 

Setelah Eddy menghilang, Sumpena ditolong warga dan langsung memberikan laporan A1 ke Kodim. Dalam hitungan jam, Eddy resmi menjadi buronan nomor satu.

III. Uang Berdarah dan Vonis Mati (1979 - 1981)

Kodam Siliwangi murka. Operasi perburuan berskala masif digelar. Eddy masuk ke jalur hutan menghindari deteksi, namun jejaknya terendus di Gunung Cakrabuana. 

Setelah baku tembak sengit yang menembus kakinya, Eddy akhirnya ditangkap hidup-hidup oleh Batalion 327/Braja Wijaya.

Ironisnya, saat ditangkap, sisa uang yang disita tinggal Rp 3,75 juta. Ke mana lenyapnya uang puluhan juta itu? Fakta persidangan membongkar bahwa Eddy dibantu dua kaki tangan: temannya bernama Ojeng dan mertuanya, Bani.

 Ojeng ternyata sempat mengubur sebagian uang berdarah itu di area persawahan, sementara sisanya diyakini sudah disebar untuk menutupi utang-utang Eddy. Ojeng dan Bani pun ikut terseret ke bui.

Pada 1981, Mahkamah Militer II-09 Bandung menjatuhkan hukuman maksimal untuk Sersan Mayor Eddy Sampak: Vonis Mati. Ia dijebloskan ke sel isolasi berkeamanan maksimum di Lemasmil II Poncol, Cimahi.

 Permohonan grasinya ke Presiden Soeharto ditolak. Tapi, alih-alih meratapi nasib di depan regu tembak, Eddy justru menyusun rencana pembobolan penjara paling gila dalam sejarah.

IV.  Malam Natal dan Lahirnya Abah Siddik (1984 - 2006)

Tanggal 24 Desember 1984 malam, kelengahan melanda Lemasmil Poncol karena persiapan ibadah Natal.

 Kesempatan ini dieksekusi dengan sempurna. Di tengah malam, Eddy menjebol atap selnya, merayap keluar, dan lenyap bak ditelan bumi. Kodam Siliwangi kembali geger.

Banyak yang mengira Eddy langsung menetap di Banten. Kenyataannya, ia adalah "musafir buronan". Ia melakukan Tour de Sumatera, bersembunyi melintasi Lampung, Palembang, Jambi, hingga Bengkulu. 

Setelah situasi dirasa dingin, barulah ia kembali menyeberang dan berlabuh di Kampung Sukawana, Kota Serang, Banten.

Di sinilah Siddik lahir. Eddy membuang atribut militernya, memanjangkan jenggot, mengenakan peci dan sarung.

 Bermula dari bisnis jual beli rongsokan, ia perlahan membaur. Tutur katanya santun, sifatnya dermawan. Perlahan, masyarakat memanggilnya "Abah Siddik" atau "Kiai Siddik".

Penyamarannya begitu mutlak. Ia memiliki KTP resmi atas nama Siddik. Selama 22 tahun, kakek tua yang disegani ini sering duduk di Kantor Polsek setempat untuk mewakili sengketa warga.

 Meminum teh bersama aparat berseragam, tanpa ada satu pun polisi yang sadar bahwa pria di hadapan mereka adalah algojo Gekbrong yang seharusnya sudah mati dieksekusi.

V. "Kami dari Garut, Bah" - Kiamat Sang Sersan Mayor (2006 - Sekarang)

Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, ia akan tercium juga. Kehancuran Eddy tak datang dari radar intelijen, melainkan dari retaknya rumah tangga barunya.

 Percekcokan keluarga di awal 2006 memicu kecurigaan sang istri muda terhadap masa lalu Abah Siddik. Rahasia itu terbongkar dan informasinya mengalir klandestin ke Denpom III/4 Serang.

Pengintaian berlapis dilakukan. Intelijen mencocokkan ciri fisik dan bekas luka tembak di kakinya. Setelah valid, hari pembalasan tiba pada 22 Februari 2006.

 Tidak ada dobrak pintu atau tembakan. Aparat berpakaian preman datang memakai mobil Kijang sipil dan mengetuk pintunya.

Ketika Eddy yang sudah berusia 67 tahun keluar dengan curiga, seorang aparat tersenyum sopan, mengulurkan tangan, dan berkata santai, "Kami dari Garut, Bah.

 Saat Eddy lengah menyambut jabatan tangan itu, aparat langsung memelintirnya. Di titik ini, ilusi Kiai Siddik runtuh. Sang Sersan Mayor tak lagi melawan; insting tempurnya telah padam dimakan usia.

Eddy kembali mengenakan seragam tahanan. Ia dipindah dari Nusakambangan hingga menetap di Lapas Kelas 1 Cirebon. 

Di usia 70-an, ia kembali mengajukan grasi agar hukumannya diubah seumur hidup, berharap bisa mati wajar di atas kasur. Namun pada 2015, Presiden Joko Widodo dengan tegas menolak permohonannya.

VI. Hukum Tabur Tuai

Sersan Mayor Eddy Maulana Sampak memang sukses mempercundangi regu tembak dan mengelabui mata negara selama lebih dari dua dekade.

 Namun, ia tidak pernah bisa berlari dari hukum tabur tuai. Akhir hidupnya tidak tewas oleh peluru, melainkan layu perlahan di dalam sel isolasi pada usia lebih dari 80 tahun.

 Kesepian tanpa ampunan dari dua presiden yang berbeda menjadi saksi bisu, bahwa karma memiliki cara menghukum yang jauh lebih menyiksa daripada sekadar kematian. 

Kebaikan nyatanya bisa dipalsukan dengan sangat sempurna, namun kebohongan terbesar sekalipun, selalu memiliki tanggal kedaluwarsa.

https://www.facebook.com/share/p/1EBb4pjkxS/

Posting Komentar untuk "Dendam Kalah Pilkades Berujung Darah"