Saya masuk ke tempat ini dengan harapan bisa memberikan pelukan dan edukasi bagi anak-anak hebat.
Namun, apa yang saya temukan di Jalan Pakel Baru Utara No. 27 bukan sebuah rumah kedua, melainkan ruang gelap yang membunuh jiwa-jiwa kecil tak berdosa.
Tangan saya gemetar setiap kali harus mengingat apa yang saya lihat. Saya tidak bisa lagi diam. Nurani saya berteriak setiap kali melihat:
Anak-anak diikat kuat seolah mereka adalah barang m4ti yang mengganggu, bukan manusia yang butuh kasih sayang.
Tubuh-tubuh mungil itu dibiarkan tanpa pakaian, kedinginan di atas lantai, kehilangan martabat mereka bahkan sebelum mereka mengerti apa artinya.Tali itu hanya dilepas saat mereka harus ke kamar mandi, seolah-olah hidup mereka hanya jeda di antara siksaan.Kekasaran tangan yang seharusnya membelai, justru mendarat dengan penuh kebencian.
"Kenapa mereka diam saja?" mungkin itu yang orang tanyakan. Mereka diam karena mereka belum bisa mengadu.
Mereka hanya bisa menatap pintu, menunggu jemputan orang tua mereka, berharap segera pulang ke dekapan hangat—tanpa orang tua mereka tahu bahwa di siang hari, anak-anak ini sedang berada di neraka.
Saya tidak peduli dengan gelar atau sertifikat "profesional" yang mereka pajang di dinding. Jika adab sudah mati, gelar itu hanya sampah.
Saya memilih bersuara, mengumpulkan bukti, dan menghancurkan tembok kebiadaban ini karena saya tidak ingin menjadi bagian dari mereka yang membiarkan kejahatan.
Tuhan tidak tidur. Kabar ini harus sampai ke telinga dunia.
Mari kita kawal kasus ini sampai tuntas. Jangan biarkan trauma anak-anak ini menguap begitu saja. Pastikan setiap tangan yang menyiksa, dan setiap mata yang mendiamkan, mendapatkan balasan yang setimpal di balik jeruji besi.
SAYA BERSAKSI, KARENA DIAM ADALAH PENGKHIANATAN TERHADAP KEMANUSIAAN.
#KawalLittleAresha #StopChildAbuse #JusticeForChildren #JogjaDaruratDaycare

Posting Komentar untuk "Kesaksian Pengasuh dari Balik Dinding Dingin Little Aresha"