Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Selat Malaka, Ladang Emas Dunia Yang Dibiarkan Menjadi Halaman Belakang Tetangga


Lampung Media Duta,-  Sementara Iran mampu membuat dunia gemetar hanya dengan menggertak di Selat Hormuz, Indonesia—negara kepulauan terbesar di dunia—sepertinya masih asyik tertidur lelap di atas takhta emasnya sendiri. 

Gambar yang beredar baru-baru ini bukan sekadar kolase visual, melainkan tamparan keras bagi wajah para pemegang kebijakan di negeri ini.

​Pesannya singkat namun menyengat: Indonesia adalah penguasa jalur air paling strategis di dunia, tapi mengapa kantong kita tetap kosong sementara tetangga sebelah berpesta pora?

​Menjadi Penonton di Rumah Sendiri

​Sudah puluhan tahun Selat Malaka menjadi urat nadi perdagangan global. Ribuan kapal melintas setiap harinya, membawa minyak, barang manufaktur, dan triliunan dolar perputaran uang. 

Ironisnya, Indonesia hanya kebagian getahnya: polusi, risiko kecelakaan laut, dan limbah.

​Singapura, sebuah titik kecil di peta, berhasil menyulap diri menjadi raksasa ekonomi dunia berkat layanan pelabuhan, logistik, dan keuangan yang seharusnya bisa kita kuasai.

 Pertanyaannya sederhana namun mematikan: Ke mana saja para pemimpin kita selama ini?

​Diplomasi "Lembek" dan Kurangnya Nyali

​Ketika pemimpin negara lain bicara tentang kedaulatan, mereka bicara tentang kendali fisik dan ekonomi.

 Namun di Indonesia, kedaulatan seringkali hanya menjadi komoditas kampanye dan jargon di podium-podium mewah.

 Kita bangga dengan letak geografis yang strategis, tapi nyali kita menciut saat harus membangun infrastruktur tandingan yang benar-benar kompetitif atau menekan regulasi internasional yang memihak kepentingan domestik.

​Logistik hancur.

​Birokrasi berbelit.

​Visi maritim yang hanya sebatas kata-kata.

​Hasilnya? Kita tetap menjadi "penonton ekonomi" yang setia melihat kapal-kapal raksasa melenggang melewati perairan kita untuk menyetorkan dollar mereka ke kas negara tetangga.

​Saatnya Bangun atau Tergilas

​Kekayaan Selat Malaka bukan untuk disedekahkan. Jika Iran bisa menggunakan posisi geografisnya sebagai alat tawar politik dunia, mengapa Indonesia hanya bisa mengeluh dan menjadi pasar konsumsi?

​Para pemimpin kita harus berhenti berpuas diri dengan angka-angka pertumbuhan di atas kertas yang tidak menyentuh akar permasalahan kedaulatan maritim. 

Jika kita terus membiarkan kekayaan ini diambil pihak lain, maka gelar "Poros Maritim Dunia" tak lebih dari sekadar lelucon pengantar tidur yang sudah tidak lucu lagi.

​Bangsa yang menguasai jalur dunia tidak boleh selamanya menjadi budak di perairannya sendiri. 

Pilihannya hanya dua: ambil kendali sekarang, atau bersiaplah menjadi sejarah yang terlupakan di pinggir selat.(*)

Posting Komentar untuk "Selat Malaka, Ladang Emas Dunia Yang Dibiarkan Menjadi Halaman Belakang Tetangga"