Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Ibu, Saya Tak Kuat Lagi, Saya Mau Bawa Ibu ke Panti Jompo, Disana Ada Yang Merawat Ibu


Umur saya 67 tahun. Dua bulan lalu, anak perempuan saya datang ke rumah dan berkata:

"Ibu, saya sudah tidak kuat lagi. Saya mau bawa Ibu ke panti jompo. Di sana ada yang merawat Ibu."

Dia tidak menatap mata saya. Bicara sambil melihat lantai. Saya lihat — dia malu. Tapi dia sudah lelah.

Saya diam. Mau bilang apa? Bahwa dia benar? Bahwa saya sendiri juga ingin begitu — supaya tidak jadi beban?

Nama saya Fatimah. Orang kampung panggil Bu Fatimah. Saya dari Surabaya, Jawa Timur. Lahir dan besar di kampung dekat Masjid Ampel.

Dulu saya menikah umur 22 tahun dengan Ahmad, supir bus antar kota. Dapat satu anak perempuan, Siti. 

Tahun 1995, waktu saya umur 38 tahun, Ahmad meninggal — kecelakaan di jalan raya Pantura. Truk nabrak bus yang dia bawa. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Tinggal saya sendiri dengan anak umur 10 tahun.

Saya kerja di pabrik rokok di Surabaya. Siang malam kerja supaya Siti bisa sekolah. Punggung sudah sakit waktu itu. Tapi saya tahan. Mau bagaimana lagi. Siti harus sekolah.

Tahun 2004, Siti dapat kerja di Jakarta. Dia jadi guru SD. Nikah dengan Hendra, pegawai bank. Dapat dua cucu — Rizki dan Ayu.

Saya tinggal sendiri di Surabaya. Tidak apa-apa. Saya punya sholat lima waktu. Punya pengajian setiap Jumat. Punya tetangga yang baik. Setiap subuh bangun, sholat, baca Quran. Hidup saya penuh dengan ibadah.

Punggung sakit terus. Lutut juga bunyi. Tapi saya pikir — ini ujian dari Allah. Saya tanggung. Tidak mengeluh.

Lalu ujian jadi terlalu berat.

Empat tahun lalu, musim hujan 2021, saya jatuh di tangga rumah. Tangga licin karena hujan, saya terpeleset. Jatuh telentang. Dengar bunyi "krek" di punggung.

Tetangga temukan saya satu jam kemudian. Saya berbaring di lantai, tidak bisa bangun. Kaki tidak mau bergerak.

Di RS Dr. Soetomo Surabaya bikin MRI. Tulang belakang L2 retak. Dua saraf terjepit — L4-L5 dan L5-S1. Lutut dua-duanya pengapuran tingkat tiga. Tulang sudah keropos — osteoporosis.

Dokter lihat saya dan bilang: "Bu, tulang belakang sudah rusak parah. Lutut juga. Umur Ibu segini, dengan kondisi tulang seperti ini — operasi risiko tinggi. Kita coba pengobatan biasa dulu."

Pengobatan biasa. Artinya — obat, suntik, korset, dan tidur di kasur. Siti datang dari Jakarta. Dia nangis lihat saya di tempat tidur rumah sakit.

"Ibu, saya bawa Ibu ke Jakarta. Saya yang rawat."

Dia bawa. Tiga bulan saya di rumahnya di Bekasi. Tapi hati saya kangen Surabaya. Kangen masjid kampung. Kangen suara adzan subuh dari Ampel. Saya pulang ke Surabaya, walaupun Siti minta saya tinggal.

Pulang — dan mulai jatuh terus.

Punggung tiba-tiba tidak bisa. Kaki lemas. Jatuh di kamar. Jatuh di dapur. Jatuh waktu mau ke kamar mandi.

Satu hari saya jatuh habis sholat subuh. Baru selesai sholat, mau berdiri — kaki tidak bisa. Jatuh di atas sajadah. Berbaring di situ dan menangis. Bisik: "Ya Allah, ambil saya. Saya sudah tidak kuat."

Dua tahun kemudian — kursi roda. Tidak bisa jalan sama sekali.

Paling sedih — tidak bisa sholat dengan benar. Tidak bisa sujud. Tidak bisa rukuk. Sholat duduk di kursi. Menangis setiap kali.

Dulu saya sholat tahajud setiap malam. Dulu saya khatam Quran setiap bulan. Sekarang — pegang Quran saja tangan gemetar.

Siti datang setiap dua minggu dari Jakarta. Delapan jam naik kereta. Dia mandikan saya. Ganti popok — ya, saya sudah pakai popok. Suapin makan waktu tangan tidak bisa pegang sendok.

Saya lihat dia tua karena merawat saya. Lihat dia bertengkar dengan suaminya yang marah karena dia sering pergi. Lihat dia menangis di mobil sebelum pulang.

Satu malam saya berbaring di kamar dan berdoa. Tapi bukan minta sembuh. Minta mati.

"Ya Allah, ambil nyawa saya. Saya capek. Siti capek. Semua capek. Ambil saya."

Seratus malam saya berdoa begitu. Seratus malam minta mati.

Lalu Siti datang dengan pembicaraan itu. Tentang panti jompo.

Saya tidak membantah. Angguk. Bilang: "Iya, Nak. Bawa saja."

Dia menangis. Peluk saya. Bisik: "Ibu, maafin Siti. Maaf. Siti tidak tahu harus bagaimana. Dokter bilang tidak ada harapan. Siti sudah tidak kuat."

Saya elus kepalanya dan pikir — saya yang harusnya minta maaf. Karena tidak mati lebih cepat. Karena jadi batu di leher anak sendiri.

Seminggu lagi berangkat. Siti pulang ke Jakarta urus dokumen.

Besoknya, tetangga saya datang berkunjung. Namanya Bu Hajjah Maryam. Dia baru pulang dari umrah.

Bu Hajjah Maryam duduk di sebelah kursi roda saya. Lihat kaki saya. Lihat kursi roda. Tanya:

"Bu Fatimah, kenapa?"

Saya cerita. Pendek saja. Lutut, punggung, tiga tahun menderita, panti jompo minggu depan.

Dia dengar diam-diam. Lalu bilang:

"Bu. Dua tahun lalu saya sama seperti Ibu. Pengapuran tingkat empat. Punggung dua saraf terjepit. Dokter di Surabaya bilang harus operasi. Saya sudah siap-siap. Lalu..."

Dia keluarkan dari tas satu kotak kapsul.

"Waktu saya umrah tahun lalu, saya ketemu seorang ibu dari Malaysia di Madinah. Dia cerita tentang dokter ini. Orang kita, tapi kerja sama dengan ahli dari Jerman. 

Bikin kapsul dari bahan alami — kondroitin, glukosamin, kolagen, kunyit, jahe. Kerja dari dalam — perbaiki tulang rawan, hilangkan bengkak, kuatkan tulang. Saya tidak percaya. Sudah berapa banyak saya coba. Tapi suami saya paksa."

Dia tatap mata saya.

"Bu, sebulan kemudian saya jalan tanpa tongkat. Dua bulan — saya pergi umrah. Ibu lihat sendiri. Saya datang ke rumah Ibu jalan kaki. Umur saya 70 tahun."

Saya lihat dia. Betul. 70 tahun. Berdiri tegak. Jalan gampang. Tidak ada tongkat. Saya tidak percaya," saya bilang. "Sudah berapa banyak saya coba."

Bu Hajjah Maryam angguk. "Saya juga tidak percaya dulu. Tapi saya coba. Dan sekarang — saya hidup."

Dia tinggalkan kotak kapsul itu. Bilang: "Bu, minum dua kapsul sehari. Pagi dan malam. Seminggu — kita lihat."

Dan lagi — dia kasih kertas dengan link. "Ini artikel tentang dokter itu. Baca. Semua ada — siapa dia, bagaimana kapsul ini kerja, kenapa tidak ada di apotek."

Malam itu saya minum kapsul pertama. Telan dengan air. Pikir — pasti tidak jadi.

Dua hari pertama — sama saja. Sakit seperti biasa. Saya pikir — lagi-lagi bohong.

Hari ketiga saya bangun dan rasa — sesuatu beda. Sakit masih ada. Tapi lebih pelan. Seperti orang kecilkan volume.

Hari kelima saya duduk di tempat tidur sendiri. Tanpa bantuan. Pertama kali dalam setahun.

Hari ketujuh — saya berdiri. Pegang tempat tidur. Kaki gemetar. Tapi saya berdiri. Di atas kaki sendiri.

Saya menangis. Berdiri dan menangis.

Lalu saya coba sesuatu yang say rindu sekali.

Saya ambil wudhu. Gelar sajadah. Dan sholat.

Sholat berdiri. Rukuk — badan bengkok sendiri. Dan sujud — dahi saya sentuh sajadah. Pertama kali dalam dua tahun.

Saya menangis di atas sajadah itu sampai subuh. Bukan sedih. Menangis syukur. Allah tidak tinggalkan saya.

Dua minggu kemudian saya jalan di lorong dengan walker. Tiga minggu — dengan tongkat. Sebulan — sendiri.

Saya telepon Siti. Bilang: "Nak, datang. Panti jompo batal."

Dia tidak percaya. Dia datang besoknya. Lari dari taksi ke pintu rumah.

Saya keluar pintu. Di atas kaki sendiri. Tanpa tongkat. Tanpa kursi roda.

Siti berhenti. Mulut terbuka. Lalu dia peluk saya, dan kami berdua menangis di halaman rumah, tetangga-tetangga lihat tidak mengerti apa yang terjadi.

"Ibu... bagaimana? Bagaimana bisa?"

"Allah kirim," saya bilang. "Lewat Bu Hajjah Maryam."

Hari ini sudah dua bulan.

Saya sholat lima waktu seperti dulu. Sholat berdiri, rukuk, sujud — lengkap. Pergi ke masjid jalan kaki. Jumat kemarin pergi sholat Jumat — pertama kali dalam tiga tahun.

Imam lihat saya masuk. Setelah sholat dia datang. Bilang: "Bu Fatimah, Alhamdulillah. Kami semua doakan Ibu.

"Punggung hampir tidak sakit. Lutut bisa bengkok. Bisa masak sendiri. Bisa jaga cucu waktu Siti kirim mereka liburan.

Hidup.

Bu Hajjah Maryam juga kasih kapsul ini ke tiga orang kampung lain. Pak Haji Slamet, 75 tahun — artritis, tangan tidak bisa menggenggam. Sebulan kemudian dia bisa bawa motor lagi.

Siti datang sekarang untuk berkunjung. Bukan untuk merawat. Bawa cucu — Rizki dan Ayu. Kami jalan-jalan di kampung, dan saya pegang tangan Ayu sambil cerita tentang kakeknya.

Sayang saya tidak tahu lebih awal. Sebelum kursi roda. Sebelum popok. Sebelum seratus malam minta mati.

Kalau kamu baca ini — dan kamu sakit. Punggung, lutut, sendi. Kalau kamu duduk di kursi roda. Kalau anak-anak bicara tentang panti jompo. Kalau malam-malam kamu minta Allah ambil nyawa.

Jangan minta. Ada jalan lain.

Artikel tentang dokter itu — link di bawah. Semua ada. Siapa dia, kenapa kapsul ini tidak ada di apotek, bagaimana kerjanya. Baca. Pesan. Bayar waktu sampai.

Allah tidak tinggalkan saya. Dia kirim Bu Hajjah Maryam di waktu yang tepat. Dia kirim kapsul ini. 

Jangan tolak pertolongan yang Allah kirim. Semoga Allah memberkati kalian semua.Bu Fatimah, 67 tahun, Surabaya, Jawa Timur

Posting Komentar untuk "Ibu, Saya Tak Kuat Lagi, Saya Mau Bawa Ibu ke Panti Jompo, Disana Ada Yang Merawat Ibu"