Peneliti CELIOS, Muhammad Saleh, melontarkan kritik tajam dan terus terang terhadap frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Dalam kurun hanya 1,5 tahun, tercatat sudah ada 56 kali lawatan ke berbagai negara, dengan estimasi biaya perjalanan mencapai Rp5–30 miliar per kali, tergantung wilayah tujuan.
“Ini sudah keterlaluan. Saya tegaskan: Prabowo bukan negarawan, tapi wisatawan. Ia gagal menempatkan prioritas negara di atas kepentingan bepergian, padahal rakyat sedang diminta berhemat,” tegas Saleh tanpa ragu.
Biaya yang dibebankan ke kas negara dinilai bertentangan dengan instruksi efisiensi anggaran yang digaungkan pemerintah sendiri.CELIOS merinci: Asia Rp5–10 miliar, Timur Tengah Rp10–20 miliar, Eropa Rp25 miliar, Amerika hingga Rp30 miliar per kunjungan.
Pembelaan soal penggunaan dana pribadi pun ditolak tegas. “Ini bukan kerajaan, tapi negara demokrasi. Tidak ada dasar hukumnya.
Justru berisiko konflik kepentingan, mengingat Prabowo juga pengusaha — sumber dana tak jelas, potensi balas jasa terbuka lebar,” tandasnya.
CELIOS menantang Sekretaris Kabinet untuk membuka seluruh rincian biaya dan skema pembiayaan perjalanan.
“Kalau benar dana pribadi, buktikan dan jelaskan asalnya. Kalau dari APBN, pertanggungjawabkan kepada rakyat,” desak Saleh.
Kritik ini menguatkan kekhawatiran publik: di saat beban ekonomi rakyat berat dan anggaran dipangkas, pimpinan negara justru boros bepergian, sehingga nilai kenegarawanan layak dipertanyakan secara serius.
Sumber: Suaradotcom

Posting Komentar untuk "SEBANYAK 56 KALI PERJALANAN LUAR NEGERI DALAM 1,5 TAHUN HABISKAN PULUHAN MILYAR "