Teheran, Media Duta,- Kesepakatan sementara yang dicapai Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah hingga pertengahan Juni 2026, tidak hanya memicu perdebatan di Washington, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran besar di Israel.
Bagi pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, nota kesepahaman yang diumumkan Presiden AS Donald Trump dinilai gagal menyentuh sejumlah isu keamanan utama yang selama ini menjadi alasan utama konfrontasi dengan Teheran.
Poin utama nota kesepahaman AS-Iran di antaranya Iran boleh memperkaya uranium untuk tujuan sipil, Iran tidak boleh mengembangkan senjata nuklir.
AS minta inspeksi ketat pada program nuklir Iran, Selat Hormuz dibuka kembali, dan AS menghentikan blokade laut terhadap Iran.
Sebagai imbalannya, Iran mendapat kelonggaran sanksi ekonomi, pencairan aset yang dibekukan, kemudahan ekspor minyak, dan berlakunya gencatan senjata di berbagai front.Para pejabat Israel menilai Trump terlalu terburu-buru mengejar kesepakatan sehingga memberikan keuntungan strategis kepada Iran tanpa memperoleh jaminan yang cukup terkait ancaman yang dianggap paling berbahaya bagi Israel.
Kekhawatiran Israel semakin terlihat setelah sejumlah pejabat dan mantan petinggi keamanan negara itu secara terbuka mengkritik isi kesepakatan.
Menurut mereka, kesepakatan itu seharusnya juga mengatur program rudal balistik Iran, membatasi pengaruh Iran di kawasan, dan dukungan Iran terhadap sekutunya, Hzbl, di Lebanon dan kelompok bersenjata lainnya.
Nota kesepahaman AS dan Iran yang disepakati pada 15 Juni 2026, akan ditandatangani secara resmi pada Jumat, 19 Juni 2026, di Jenewa, Swiss.
Israel Khawatir Ekonomi Iran Membaik
Mantan Ketua Dewan Keamanan Nasional Israel, Meir Ben-Shabbat, menjadi salah satu tokoh yang paling keras mengkritik kesepakatan tersebut.
Menurutnya, nota kesepahaman itu justru berpotensi menjadi "penyelamat" bagi rezim Iran yang sebelumnya menghadapi tekanan ekonomi berat akibat sanksi internasional dan ketidakstabilan domestik.
Ben-Shabbat menilai kesepakatan tersebut membuka peluang bagi Teheran untuk kembali mengakses miliaran dolar melalui pelonggaran tekanan ekonomi serta pembukaan kembali Selat Hormuz bagi ekspor minyak.
Kondisi itu dinilai dapat memperkuat posisi pemerintah Iran di dalam negeri sekaligus memperbesar kemampuan finansialnya untuk mempertahankan pengaruh di kawasan, lapor Al Arabiya.
Israel Menyoroti Program Rudal Balistik Iran dan Dukungan Kelompok Bersenjata
Bagi Israel, masalah utama bukan hanya soal program nuklir Iran.
Tel Aviv selama bertahun-tahun juga menyoroti program rudal balistik Iran serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di Timur Tengah, termasuk Hzbl di Lebanon.
Namun, isu-isu tersebut tidak menjadi fokus utama dalam nota kesepahaman yang diumumkan Washington.
Ben-Shabbat bahkan menyebut dimasukkannya Lebanon dalam kerangka gencatan senjata sebagai "hadiah gratis" bagi Iran.
Menurutnya, kesepakatan tersebut berpotensi memberikan legitimasi terhadap pengaruh Iran di Lebanon dan memperkuat posisi Hzbl, kelompok yang selama ini dianggap sebagai ancaman keamanan terbesar Israel di perbatasan utara.
Israel Khawatir Periode Negosiasi 60 Hari Berlanjut Tanpa Bahas Masalah Keamanannya
Kekhawatiran serupa juga tercermin dalam analisis yang berkembang di kalangan politik dan militer Israel.
Seorang pejabat senior Israel mengatakan bahwa kesepakatan pendahuluan tersebut dipandang "buruk bagi Israel" dan penilaian itu mendapat dukungan luas dari kalangan pimpinan keamanan negara tersebut.
Salah satu alasan utama adalah masa negosiasi lanjutan selama 60 hari yang disepakati Washington dan Teheran.
Israel khawatir periode tersebut dapat diperpanjang, sehingga memberikan waktu tambahan bagi Iran tanpa adanya penyelesaian konkret terhadap isu-isu yang dianggap mengancam keamanan nasional Israel.
Selain itu, Tel Aviv khawatir kesepakatan sementara ini dapat membatasi kebebasan militernya, sekaligus memberi ruang bagi Iran untuk mempertahankan pengaruh strategisnya di kawasan, lapor Times of Israel.
Trump dan Netanyahu Berbeda Pendapat
Di sisi lain, kesepakatan ini juga memperlihatkan semakin lebarnya perbedaan pandangan antara Trump dan Netanyahu.
Selama konflik berlangsung, keduanya dikenal memiliki hubungan politik yang erat dan koordinasi yang intens. Namun dalam beberapa pekan terakhir, muncul sejumlah ketegangan terkait operasi militer Israel di Lebanon.
Trump beberapa kali dikabarkan mengkritik serangan Israel karena dinilai dapat mengganggu upaya diplomatik yang sedang dilakukan Washington dengan Teheran.
Pemerintah AS disebut lebih mengutamakan tercapainya kesepakatan politik, sementara Israel tetap menempatkan kepentingan keamanan langsung sebagai prioritas utama.
Meski berusaha menghindari konfrontasi terbuka dengan Gedung Putih, Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akan terikat sepenuhnya oleh kesepahaman yang dicapai antara AS dan Iran.
Ia menekankan Israel tetap memiliki hak untuk melakukan tindakan militer demi melindungi keamanan nasional, termasuk mempertahankan kehadiran pasukan di Lebanon selatan dan menghadapi ancaman dari Hzbl.
AS Yakin Israel akan Dukung Kesepakatan dengan Iran
Wakil Presiden AS JD Vance meyakini bahwa Israel akan menjadi pihak yang diuntungkan dalam kesepakatan AS-Iran yang sedang dirancang di masa mendatang.
“Yang kita ketahui adalah perjanjian ini akan membuat Israel lebih aman, dan akan membuat seluruh kawasan lebih aman,” kata Vance kepada NBC News dalam sebuah wawancara.
“Yang saya lihat adalah banyak informasi yang salah tentang perjanjian ini — terkadang di media Iran, terkadang di media Israel,” lanjutnya.
Ia merasa optimis bahwa Israel akan memahami isi perjanjian AS dan Iran sebagai jalan menuju perdamaian di kawasan.
“Kami sangat yakin bahwa ketika rakyat Israel memahami isi perjanjian ini, mereka akan melihatnya sebagai jalan menuju Timur Tengah yang baru, menuju perdamaian dan kemakmuran di kawasan itu,” kata Vance.
Sembari menambahkan, “Hanya itu yang bisa kami harapkan. Kami cukup yakin bahwa Israel akan menerima hal ini ketika kita melangkah lebih jauh.”
Ketika ditanya tentang kritik keras Presiden AS Donald Trump terhadap Netanyahu dalam beberapa hari terakhir, Vance mengatakan, “Israel seringkali menjadi mitra yang baik, kami juga memiliki kepentingan yang selaras, tetapi terkadang kami juga akan berbeda pendapat mengenai beberapa isu dari waktu ke waktu,"
“Itu sangat wajar, bahkan sekutu terdekat kita, dari Inggris hingga Israel, terkadang kita memiliki perbedaan pendapat," ujarnya.
Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran
Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis Iran menyusul kegagalan perundingan nuklir di Jenewa.
AS dan Israel menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, sementara Teheran bersikeras bahwa program nuklirnya semata-mata ditujukan untuk kepentingan sipil dan energi.
Konflik semakin memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia pada tahap awal perang dan posisinya kemudian diteruskan oleh Mojtaba Khamenei.
Sebagai respons atas serangan tersebut, Iran melancarkan serangan balasan terhadap berbagai sasaran di Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk, serta memperketat kontrol di Selat Hormuz.
Setelah hampir 40 hari pertempuran, upaya mediasi yang dipimpin Pakistan berhasil menghasilkan gencatan senjata sementara dan membuka peluang bagi dimulainya proses perundingan damai.
Pada 15 Juni 2026, Presiden AS Donald Trump mengumumkan tercapainya nota kesepahaman antara Washington dan Teheran yang akan menjadi dasar negosiasi lanjutan selama 60 hari.
Dalam kerangka kesepakatan tersebut, Iran tetap diperbolehkan melakukan pengayaan uranium untuk kebutuhan sipil di bawah pengawasan internasional yang ketat serta berjanji tidak akan mengembangkan senjata nuklir.
Sebagai kompensasi, Iran berharap memperoleh pelonggaran sanksi ekonomi, pencairan aset yang selama ini dibekukan, serta pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional dan aktivitas perdagangan energi.
Meski demikian, prospek perdamaian masih menghadapi berbagai tantangan karena sejumlah rincian teknis belum disepakati.
Pemerintah AS juga menegaskan tetap mempertahankan opsi militer apabila Iran melanggar komitmen yang telah disepakati.
Di sisi lain, Israel menyampaikan keberatan terhadap beberapa poin dalam perjanjian tersebut, terutama yang berkaitan dengan penghentian konflik di Lebanon dan tuntutan penarikan pasukan Israel dari wilayah tersebut.
Menurut rencana, Amerika Serikat dan Iran akan menandatangani perjanjian resmi pada 19 Juni 2026 di Jenewa, Swiss.
(Tribunnews.com))

Posting Komentar untuk "Trump Dinilai Terburu-buru, Mengapa Israel Keberatan dengan Kesepakatan AS-Iran?"